Ranjang Dingin Ibu Tiri

Ranjang Dingin Ibu Tiri
Masalah tidak menyenangkan


__ADS_3

Kedatangan Byan dan Maureen sudah sangat di tunggu oleh tamu mereka. Kemacetan jalanan ibu kota membuat mereka terlambat beberapa menit dari waktu seharusnya. Beruntung kolega mereka setia menunggu.


Di ruangan rapat, sudah ada beberapa orang yang menunggu. Ada pihak kontraktor, Riswan, Edwin, Melda dan beberapa orang dari departemen hukum. Sepertinya ada hal yang sangat penting yang harus mereka bicarakan.


“Terima kasih karena sudah berkenan menunggu.” Maureen menjabat satu per satu tangan kolega mereka dengan ramah begitu pun dengan Byan.


“Silakan duduk.” Maureen mempersilakan kembali tetamu yang sudah berdiri menyambutnya.


“Terima kasih Tuan dan Nyonya,” timpal seorang laki-laki yang merupakan perwakilan dari kontraktor yang saat ini bekerja sama dengan perusahaan Byan.


“Ada apa ini? Sepertinya ada masalah serius?” Byan begitu penasaran dengan raut wajah pria paruh baya yang ia kenal bernama Alam.


"Silakan, Tuan." Laki-laki itu tidak lantas menjawab, melainkan segera menunjukkan sebuah berkas pada Byan dan Maureen.


“Tuntutan?” tanya Byan seraya mengernyitkan dahinya tidak mengerti.


Perusahaan kontraktor ini sudah puluhan tahun bekerja sama dengan Anggoro corp tapi mengapa tiba-tiba mengajukan sebuah tuntutan?


“Kami mohon maaf Tuan, kami harus menyerahkan ini pada Tuan. Karena kami merasa Anggoro corp perlu membaca tuntutan ini.” Pria bernama Alam itu tertunduk lesu di hadapan Byan.


Byan menghela nafasnya dalam, ia membaca detail tuntutan yang disampaikan salah satu keluarga pegawai kontruksi yang meninggal dunia saat sedang bekerja. Pria itu meninggal dunia karena tersengat listrik saat memasang instalasi listrik di cluster perumahan yang sedang di bangun.


Keluarganya tidak terima kejadian ini dianggap sebagai kecelakaan. Untuk itu mereka mengajukan tuntutan baik kepala pihak kontraktor tempat pria itu bekerja ataupun pada Anggoro Corp.


“Bagaimana detail kejadian yang sebenarnya?” Maureen yang pertama berreaksi. Suaranya terdengar tegas dengan tangan yang mengepal kuat. Ia tidak menyangka hal semacam ini bisa kembali terjadi.

__ADS_1


“Begini nyonya, pegawai ini memang bertugas sebagai petugas yang memasang instalasi listrik gedung. Dia memegang area pembangunan satu. Dari tiga area pembangunan, area pembangunan satu adalah yang paling terakhir selesai di pasang instalasinya.”


“Beberapa rekan kami melakukan uji coba dengan menyalakan panel listrik utama. Kami sangat yakin kalau pegawai kami yang satu ini sudah selesai memasang instalasi. Tapi ternyata, dia masuk lagi ke dalam atap Gedung untuk menyambungkan listrik lantai satu dan dua.”


“Beliau melakukan hal itu di luar perkiraan kami. Sehingga saat panel utama dinyalakan, pegawai itu masih berada di atap Gedung dan tersengat listrik hingga meninggal dunia. Kami menemukannya satu hari kemudian setelah pihak keluarga melapor bahwa pegawai tersebut tidak ada pulang ke rumah.”


Pria itu tertunduk lesu di hadapan Byan dan Maureen yang masih berusaha mencerna apa yang mereka dengar.


Terkejut? Ya.


Miris? Sudah pasti.


“Bagaimana bisa kalian seteledor itu?” pertanyaan itu yang kemudian dilontarkan Byan dengan suara yang meninggi.


“Maafkan kami, Tuan.” Hanya jawaban itu yang bisa dikatakan oleh Alam.


Tidak ada yang berbicara, semuanya hening. Termasuk Maureen yang hanya terduduk mematung sambil mengepalkan tangannya. Byan melihat wajah Maureen yang dipenuhi amarah.


“Apa pendapatmu?” Byan penasaran karena Maureen tidak berreaksi.


Maureen hanya menggeleng. Perempuan ini seperti tidak bisa berpikir dengan benar. Padahal biasanya ia selalu bisa memberikan jawaban dengan cepat atas pertanyaan apapun.


“Sudahlah jangan panik, masalah seperti ini mudah kok untuk diselesaikan.” Ada Edwin yang berujar dengan santai.


“Apa maksud Om?” Byan menatap pria paruh baya ini dengan tidak habis pikir.

__ADS_1


Edwin merapikan penampilannya terlebih dahulu sebelum menjawab Byan. Ia merasa saat ini waktunya ia tampil.


“Ya maksud Om, ini kan hanya kecelakaan, ya jangan diperbesar lah. Lagi pula, ini bukan kesalahan Anggoro corp, melainkan kelalaian pihak kontraktor.” Edwin menunjuk Alam hingga pria itu terhenyak. Mau protes tapi perkataan pria ini memang benar.


“Cukup tunjukkan rasa belasungkawa kita sama keluarga pegawai itu, kasihlah uang duka yang agak besar. Nanti juga mereka diam,” imbuh Edwin dengan santai.


“Anda pikir semudah itu?!” tiba-tiba saja Maureen meradang, membuat kaget Byan dan semua peserta rapat.


Matanya menyalak menatap Edwin dengan kesal.


“Loh, ya iya. Tujuan akhir mereka kan nyari uang. Emang mereka mau nuntuut manajemen kita dan manajemen kontraktor agar dipenjara semuanya? Ya enggak! Ujung-ujung tetep duit kok.” lagi Edwin berbicara dengan enteng.


“Tapi kita gak bisa bersikap seolah semuanya segampang itu, Mas! Mas mikirin gak gimana perasaan keluarga korban? Mungkin saja korban adalah tulang punggung keluarga yang tidak hanya menanggung dirinya saja. Mungkin juga ada anggota keluarga yang sangat bergantung pada laki-laki itu bukan hanya secara finansial tapi juga secara moril.”


“Bisa gak sih Mas punya empati sedikit saja terhadap mereka?! Mas pikir semuanya bisa di ganti dengan uang? NGGAK!!!!” Maureen benar-benar marah dan itu membuat seisi ruangan terkejut. Baru kali ini mereka mendengar suara Maureen yang tinggi dan emosional, lebih dari tiga oktaf. Biasanya wanita ini selalu tenang menghadapi masalah serumit apapun.


“Ya terus maksud kamu, kita biarin aja mereka nuntut kita, gitu? Buang-buang waktu Maureen! Jangan sampai gara-gara kelalaian satu ekor tikus, kita kehilangan semua keju yang kita punya. Rugi tau gak?!” Edwin tetap dengan pendiriannya.


“Ya biarin aja! Itu hak mereka kok kalau mau menuntut. Kita ikuti aja karena mungkin saja sebenarnya mereka gak butuh uang yang Mas maksud tapi yang mereka butuhkan adalah kebenaran. Mereka ingin melihat, sejauh mana tanggung jawab, kepedulian dan perhatian kita terhadap masalah ini,” urai Maureen dengan menggebu-gebu.


“Akh, kamu ribet! Otak kamu gak jalan gara-gara masalah begini doang!” Edwin menunjuk kepala Maureen dengan gemas.


“Udahlah, kita siapin aja uang yang besar. Gak usah menya menye nemuin mereka, nanti mereka tambah besar kepala. Minta mereka tanda tangan surat pernyataan kalau mereka gak akan banyak omong dengan sok-sokan koar-koar mau nuntut kita. Yang ada mereka hanya akan rugi. Uang yang mereka keluarin buat koar-koar pasti lebih besar di banding uang duka yang mereka dapat. Udah lah, begitu saja kok repot! Bodoh kalian semua, mau dipermainkan sama tuntutan yang gak penting!” umpat Edwin dengan penuh keyakinan.


Tapi tidak begitu dengan Maureen. Gadis ini tidak setuju dengan pendapat Edwin. Ia malah cenderung terlihat marah dan memilih meninggalkan ruangan rapat dengan langkahnya yang tegas.

__ADS_1


Ada apa dengan wanita itu?


****


__ADS_2