
“Aaahh, segarnyaa ….” Suara hembusan nafas lega itu terdengar dari mulut Byan. Ia menggeliat dengan nyaman sesaat setelah keluar dari ruang terapi.
Di meja kasir ada Maureen yang sedang membayar semua layanan pijat yang mereka terima.
“Kamu menyukainya?” tanya Byan pada Riswan. Wajah laki-laki itupun terlihat berseri.
“Tentu tuan, terima kasih banyak.” Sahut Riswan dengan senang hati.
“Sepertinya kita harus sering-sering ke tempat seperti ini. Kita perlu memanjakan diri kita jangan hanya pekerjaan saja yang diurusi.” Celoteh Byan dengan sesungguhnya.
“Saya setuju.” Riswan mengacungkan ibu jarinya.
Tidak lama Maureen menghampiri, wanita itu sudah selesai bertransaksi.
“Selanjutnya, kemana kita?” tantang Byan.
“Kita makan malam dulu, ini sudah terlalu larut.” Maureen melihat jam di tangannya dan sudah jam tujuh malam.
Berdiam diri di tempat seperti ini memang membuat waktu tidak terasa berlalu. Tubuh Maureen sudah terasa segar, sakit kepalanya pun hilang. Rasanya ia bisa melihat banyak hal dengan lebih jelas. Penglihatannya sudah secerah mentari pagi.
“Boleh, makan dimana kita?” Byan terlihat antusias. Sepertinya apa yang Maureen rasakan, ia pun merasakannya.
“Aku sudah memesan tempat di restoran terdekat. Kita bisa ke sana sekarang.”
“Okey!” dengan semangat Byan berjalan di samping Maureen.
Restoran yang di tuju ternyata tidak terlalu jauh. Maureen memesan ruangan VIP untuk mereka bertiga.
“Nyonya, saya izin makan di luar saja.” Pamit Riswan yang merasa canggung.
“Aku hanya memesan satu meja, jadi di sini saja.” Jawaban Maureen memang selalu tegas.
Riswan menoleh tuan mudanya dengan ragu.
“Duduklah, tidak ada yang memintamu pergi.” Tegas Byan, mengamini ucapan Maureen.
“Baik, terima kasih tuan.” Riswan akhirnya ikut bergabung.
Maureen segera memanggil pelayan dan memesan beberapa menu. Ia bertanya menu rekomendasi dan jawabannya makanan laut.
“Bos saya tidak makan seafood, saya pesan sup ini saja.” Maureen menujuk satu menu paling direkomendasikan di restoran ini.
Ia juga memesan menu lainnya sementara Byan hanya memperhatikan wanita itu dari tempatnya.
Dimanapun Maureen berada dan apapun yang dilakukannya, wanita ini memang selalu memukau. Maureen begitu bersungguh-sungguh, ia bahkan mengetahui apa yang disukai dan tidak disukai Byan. Sebaik itu Maureen mengenal tentang dirinya.
“Ada lagi?” pertanyaam Maureen membuyarkan lamunan Byan. Sedari tadi pelayan membacakan ulang menu tapi entah menu apa yang dipesan Maureen, Byan tidak menyimaknya dengan benar. Ia hanya fokus pada ibu tirinya.
__ADS_1
“Tidak ada.” Byan menggeleng.
“Baik, kalau begitu, mohon di tunggu.” Pelayan itu pamit meninggalkan mereka.
“Apa kamu selalu selancar ini saat mengurus Anggoro?” tanya Byan penasaran. Ia tidak peduli jika di antara ia dan Maureen ada Riswan.
“Maksudmu?” Maureen mengernyitkan dahinya tidak mengerti.
“Ya, maksudku apa kamu juga mengenal Anggoro sebaik kamu mengenalku? Mengenal apa yang kami sukai dan tidak kami sukai?” Byan memperjelas pertanyaannya.
“Tentu saja, karena itu pekerjaanku.” Maureen menjawab dengan tegas.
“Tugasku adalah sebagai seorang PA. Tidak ada yang ingin aku capai atau target yang mau aku dapatkan selain dianggap mumpuni memenuhi tugasku. Itu saja.” Imbuhnya dengan santai.
“Okey, tidak ada target. Lalu kenapa kamu pernah mengincar posisi strategis di perusahaan ini? Bukankah itu berarti kamu memiliki target dan menikahi Anggoro menjadi salah satu cara yang kamu lakukan untuk mencapai target itu?”
Pertanyaan Byan seperti mengunci Maureen. Ia juga menatap Maureen dengan lekat.
Riswan yang berada di tengah-tengah mereka, merasa begitu canggung. Harusnya ia memang tidak ikut makan satu meja dengan majikannya.
“Belajarlah untuk membedakan mana misi pribadi dan mana misi professional. Saat ini, kita bertemu dalam misi professional, sama seperti saat aku melayani mas Anggoro. Jika kemudian aku memiliki misi pribadi, maka itu bukan urusanmu ataupun urusan mas Anggoro. Kenapa kamu mempermasalahkannya?” jawaban Maureen memang selalu telak.
“Aku menjadi PA mas Anggoro dengan cara yang professional, jika kemudian secara pribadi mas Anggoro tertarik kepadaku, aku bisa apa? Mungkin karena aku memang cukup mempesona bukan hanya secara professional tapi juga secara pribadi. Apa kamu mau membantah?”
Lanjut Maureen dengan senyum tipis yang ia tunjukkan pada Byan.
Makan malam dengan menu mewah itu ternyata tidak cukup bisa dinikmati oleh Byan. Ia lebih banyak memperhatikan Maureen di banding memperhatikan makananya.
Beberapa kali Maureen menawarkan menu yang berbeda karena sepertinya Byan tidak selera makan. Secara professional, Maureen memang melakukannya dengan baik tapi secara pribadi, ia tidak peduli sama sekali dengan kegelisahan Byan. Hal itu membuat Byan sadar, bahwa Maureen tidak pernah menyiapkan satu sudut pribadi dalam hubungannya dengan Byan.
Hingga tiba di rumah, Byan masih memikirkan banyak hal. Ia sudah tidak bertingkah aneh lagi seperti sebelumnya. Entahlah, ada perasaan kecewa dengan jawaban Maureen yang menurutnya terlalu lugas dalam hal membedakan mana area professional dengan area pribadi.
Malam yang semakin larut, membawa dua orang itu masuk ke kamar masing-masing. Mereka perlu beristirahat. Byan sudah mau membuka pintu kamarnya tapi kemudian ia urung melakukannya.
“Maureen,” panggilnya seraya berbalik.
“Ya,” Maureen balas berbalik.
Mereka berdiri berhadapan dan terhalang jarak beberapa meter saja.
“Aku ingin bertanya,” Byan dengan tatapannya yang serius.
“Silakan,” Maureen menangapi dengan santai. Ia bahkan menyilangkan tangannya di depan dada.
“Menjadi ibu tiriku, apa professional atau pribadi?” tanya Byan tiba-tiba.
“Pribadi.” Sahut Maureen dengan tenang.
__ADS_1
“Jika kemudian kita bertemu secara pribadi lebih dulu dibanding kamu bertemu Anggoro secara professional, mana yang akan kamu pikirkan lebih dulu?”
Kali ini dahi Maureen sedikit berkerut. Ia mencoba memahami maksud pertanyaan Byan.
“Tidak ada Jika Byan, karena kesempatanku dengan mas Anggoro sudah lebih dulu dan tidak bisa diulang.”
“Iya, aku bilang jika! Bayangkan saja jika kita bertemu lebih dulu di banding kamu bertemu Anggoro, mana yang akan kamu pikirkan lebih dulu.” Suara Byan terdengar naik dengan kalimat yang cepat dan rapat.
“Ada apa denganmu sebenarnya? Apa kamu kelelahan atau makananmu terlalu asin, sampai sensi begini?” Maureen tidak habis pikir.
“Bagaimana jika aku menyukaimu?” timpal Byan dengan cepat.
Maureen terhenyak kaget. Jantungnya berdebar kencang secara tiba-tiba dan aliran darahnya terasa cepat. Maureen berusaha menenangkan dirinya sebelum menjawab pertanyaan Byan. Ia tidak mau salah berbicara.
“Kamu memang harus menyukaiku karena aku ibu tirimu?”
“Bagaimana kalau aku menyukaimu karena kamu seorang wanita? Dan bukan sebagai ibu tiriku?” pertanyaan Byan semakin tegas dengan tatapan tajam pada Maureen seperti tengah menuntut jawaban.
Maureen masih benar-benar terkejut, tidak pernah menduga arah pembicaraannya dengan Byan. Ia melihat mata Byan yang begitu tegas menatapnya dan tangannya yang mengepal kuat seperti ia sudah mengeluarkan semua tenaganya untuk menyampaikan perasaannya pada Maureen.
“Maka, semuanya sia-sia Byan. Karena sampai kapanpun, aku tetap mantan istri mas Anggoro. Ibu tirimu.” Tegas Maureen yang berusaha tenang.
Ia menelan salivanya kasar-kasar setelah mengucapkan kalimat itu, rasanya seperti ada sensasi globus, rasa tidak nyaman atau mengganjal di tenggorokannya. Meski begitu, tenggorokan Maureen tidak terasa sakit, hanya sangat mengganggu seperti halnya ungkapan perasaan Byan saat ini.
Byan hanya tersenyum kecil, miris tepatnya. Ia tidak lagi berkata apapun selain mengucapkan, “Selamat malam ibu tiri.” Ucapnya dengan senyum kelu.
Maureen tidak menimpali ia memilih masuk ke kamarnya dan menutup pintu kamarnya rapat-rapat.
Lantas ia bersandar pada daun pintu seraya menepuk-nepuk dada kirinya agar berhenti berdebar kencang. Sungguh, ini mulai menyiksanya.
Di kamarnya, Byan melepas jasnya dengan kasar lalu melempar jas itu ke atas Kasur. Ia terduduk di tepian ranjang sambil menangkup wajahnya yang rasanya memerah. Dadanya masih bergolak terlebih saat mengingat jawaban Maureen.
Kenapa ia tidak bisa terima dengan jawaban Maureen? Ada apa dengan dirinya hari ini? Kenapa ia merasa begitu tertarik oleh pesona Maureen yang membuatnya tidak bisa memejamkan mata?
"Hey Byan! Sadarlah!" Byan menampar wajahnya sendiri dengan keras.
****
Jill Maureen Emrys
Byantara Ethan Anggoro
Selamat menghalu ria, hehehehe....
__ADS_1