Ranjang Dingin Ibu Tiri

Ranjang Dingin Ibu Tiri
Tali pengikat yang terputus


__ADS_3

“Kamu mau kemana?” tanya Byan saat melihat Maureen beranjak dari ranjangnya.


“Aku mau ke kamarku,” sahut Maureen. Di tangannya ia membawa dokumen yang Byan berikan dan sudah selesai ia pelajari. Badannya sudah lebih segar terlebih setelah membaca berkas yang ada di tangannya.


“Kenapa tidak di sini saja? Toh tidak ada bedanya. Aku juga tidak akan melakukan hal buruk terhadapmu.” Byan menahan tangan Maureen agar tidak beranjak.


Jujur, ia masih sangat cemas kalau membiarkan Maureen sendirian di kamarnya.


“Jangan becanda Byan. Mana pantas aku berada di kamar anak tiriku. Kamu aneh-aneh aja!” Maureen mengibaskan tangan Byan yang memegangi tangannya.


“Memangnya, yang mana anak tirimu? Coba, aku mau liat.” Pertanyaan Byan terdengar seperti ledekan. Ia tetap tidak melepaskan genggaman tangannya.


“Ish, kamu apaan sih? Becanda kamu gak lucu tau.” Maureen tetap berusaha melepaskan genggaman tangan Byan.


Byan tidak menimpali, melainkan malah menarik tangan Maureen hingga membawanya kepelukannya. Ia memeluk Maureen dengan erat.


"Byan, berhenti! Candaan kayak ini gak lucu." Maureen mencoba berontak karena dadanya berdebar kencang seperti genderang mau perang, namun Byan semakin mengeratkan pelukannya.


“Jangan berbohong Maureen, aku udah tau semuanya. Pernikahanmu dengan Anggoro hanya sebuah perjanjian, tidak pernah benar-benar terdaftar sebagai sebuah pernikahan yang sah. Statusmu sebagai ibu tiriku samar dan tidak memiliki kekuatan hukum apa pun.” Kalimat panjang itu diucapkan Byan di telinga Maureen.


Seketika Maureen terhenyak. Ia kaget karena ternyata Byan mengetahui sebanyak itu, sampai ke hal yang mendetail sekalipun.


“Jangan sok tau Byan, tidak semuanya kamu ketahui. Jadi jangan asal menebak.” Maureen masih berusaha menutupinya. Ia tidak mau usahanya gagal begitu saja. Ia masih harus menyelesaikan banyak hal sebelum membiarkan Byan tahu yang sebenarnya.


“Hem, aku ingin percaya tapi kamu tidak pandai berbohong. Setiap kali berbohong, suaramu selalu bergetar Maureen.” Byan semakin mengeratkan pelukannya. Mata Maureen membulat sempurna, bagaimana bisa Byan tahu kalau ia sedang berbohong.


Byan melerai pelukannya beberapa saat lantas menatap wajah Maureen yang kaget.


“Lihat, wajahmu terlalu tegang. Matamu juga terlalu bulat. Aku semakin yakin kalau tebakanku benar.” Byan tersenyum kecil di ujung kalimatnya.

__ADS_1


“Aku tidak berbohong!” Maureen mendorong tubuh Byan menjauh.


“Oh ya?” Byan kembali mendekat dan dengan sengaja menyenggol lengan Maureen.


“Tentu saja!” Maureen masih bersikukuh. Ia juga tidak berani membalas tatapan Byan yang lekat menatap wajahnya lengkap dengan segaris senyum simpul.


Byan melingkarkan tangannya di bahu Maureen lalu menariknya mendekat. Maureen sampai terhenyak kaget tapi ia tidak memberi perlawanan. Masih terlalu kaget.


“Aku sudah melihat surat perjanjian kalian. Anggoro melakukan itu hanya untuk mengamankan posisimu kalau suatu hari Edwin tahu siapa kamu. Jadi, itu bukan pernikahan yang sebenarnya,” bisik Byan yang membuat Maureen menolehnya dengan tatapan waspada.


“Rasanya aku paham, kenapa kamu gak mau tidur di ranjangmu dan Anggoro. Kamu pernah bilang, ranjang itu hanya boleh ditiduri oleh pengantin. Dan kamu bukan penganti Anggoro, itulah mengapa kamu merasa tidak memiliki hak. Apa kesimpulanku benar?” Byan sedikit membungkuk demi melihat wajah Maureen agar sejajar dengan wajahnya.


Maureen tidak lantas menjawab, hanya matanya saja yang berkedip kaget. Ia memang membuat surat perjanjian itu dengan Anggoro tapi ia tidak menyangka kalau Anggoro tidak pernah mendaftarkan pernikahan mereka. Jadi, ikatan macam apa ini?


“Tenang, aku tidak akan mengatakan hal ini pada siapapun. Aku memang mencari tahu sendiri karena aku ingin memutus semua hal yang membuat kita terikat pada kondisi yang tidak seharusnya.”


“Waahh, kamu memang penuh misteri Maureen dan kamu sangat konsisten menyimpannya. Untuk beberapa saat, aku sangat tertarik pada misteri itu dan membuatmu terlihat memiliki banyak wajah. Tapi sekarang, aku lebih tertarik pada sosokmu yang asli. Maureen yang rajin belajar. Menguasai ilmu tehnik sipil padahal kamu kuliah jurusan ekonomi. Maureen yang mahir berbahasa asing juga wawasanmu yang sangat luas padahal kamu tumbuh ditengah banyaknya keterbatasan.”


“Maureen yang memiliki tekad yang kuat. Maureen itu yang ingin aku kenal.” Byan mengusap kepala Maureen lalu menangkup sisi kiri wajah wanita itu dengan telapak tangannya yang besar.


“Maureen yang itu juga yang akan aku bela dan aku temani saat kamu yakin untuk melangkah dan mengajukan kembali tuntutan hukum pada om Edwin.” Kali ini Byan menatap Maureen dengan tajam, seolah wanita ini menjadi poros dunianya saat ini.


“Maureen yang tidak akan pernah aku lepaskan dan akan aku perjuangkan dengan cara apa pun itu.” Berganti Byan menempatkan dahinya di dahi Maureen seraya memejamkan matanya. Ia begitu menikmati hembusan napas Maureen yang menerpa wajahnya.


“Maureen yang membuatku berpikir kalau hidup bukan hanya tentang menuntut sesuatu yang harus kita dapatkan melainkan berusaha mewujudkan apa yang kita ingnkan. Maureen yang tidak pantang menyerah dan membuatku merasa kalau aku punya tujuan hidup.”


“Maureen itu yang ingin aku lihat sekarang.” Byan memejamkan matanya seraya mengusap-usap pipi Maureen dengan lembut.


“Bisakah aku mendapatkan kesempatan untuk masuk ke hidup Maureen yang itu?” suara Byan semakin lemah, terdengar seperti bisikan yang membuai Maureen. Wanita itu tidak bergeming. Ia masih berusaha mengendalikan dirinya. Mengendalikan seorang Maureen yang selama ini ia sembunyikan dari hadapan banyak orang.

__ADS_1


“Maureen yang ingin kamu lihat, tidak semenarik yang kamu pikirkan, Byan.” Maureen menimpali dengan ragu.


“Oh ya? Bagian mana yang menurutmu tidak menarik? Maureen yang saat ini sedang tidak percaya diri kah?” Byan membuka matanya yang semula terpejam. Ia menatap netra bening yang terlihat berkaca-kaca dan ketakutan. Takut dengan perasaannya sendiri.


“Tidak ada yang tidak menarik darimu Maureen. Aku bahkan sangat suka setiap hal random yang ada pada dirimu. Lalu, kenapa kamu harus takut pada perasaanmu sendiri? Tidak akan ada yang melarang kamu menujukkan perasaanmu termasuk jika kamu marah, sedih, senang dan merasakan berbagai perasaan yang tidak ingin dilihat oleh orang lain. Kamu selalu punya tempat untuk dirimu sendiri Maureen. Jangan mengingkarinya, karena aku akan selalu menghormati itu.” Byan berujar dengan tegas, dengan penuh keyakinan bahwa yang ia katakan adalah yang sesungguhnya.


Maureen tidak menimpali. Dengan takut-takut ia mengangkat tangannya lalu menyentuh wajah Byan dengan telapak tangannya yang dingin.


Byan tersenyum kecil, sentuhan minimalis Maureen saja membuat jantungnya berdebar kencang.


“Kamu mau menunjukkan Maureen itu padaku?” tanya Byan seraya menggenggam tangan Maureen yang ada di pipinya.


Maureen mengangguk kecil. Ia merasa kalau Byan baru saja melepaskan dirinya dari rasa takut menunjukkan dirinya sendiri.


Tanpa ragu, Maureen menjinjitkan kakinya lalu sedikit meraih tengkuk Byan. Laki-laki itu membungkuk berusaha mengimbangi tinggi Maureen.


Mata bulat Maureen pun terpejam. Ia mendekatkan wajahnya pada Byan, sangat dekat sampai hidung keduanya bersinggungan. Dengan segenap perasaan, mengecup bibir Byan dengan lembut. Satu kecupan yang membuat otak Byan seperti berhenti berpikir dan membuatnya membalas kecupan Maureen yang tidak ragu itu. Memagutnya perlahan dan hati-hati seolah sangat takut kalau Maureen akan terluka.


Melepas sejenak kecupannya dan saling bertatapan untuk beberapa saat. Mereka melembar senyum tipis satu sama lain. Lantas keduanya sepakat untuk melanjutkan apa yang sudah mereka mulai. Saling berdecapan bertukar saliva satu sama lain hingga nyaris kehabisan napas.


“Aku mencintaimu, Maureen,” bisik Byan di sela jeda yang ia ambil untuk mengganti oksigen di rongga dadanya yang hampir habis.


“Bagaimana bisa aku menolaknya?” timpal Maureen seraya mengusap bibir Byan yang basah dan terlihat menarik.


Byan tersenyum tipis, tanpa menunggu aba-aba, ia kembali melum.at bibir Maureen yang sensual. Dengan penuh gairah dan penuh perasaan.


Sepertinya memang lebih baik saat mereka mengakui perasaan satu sama lain.


****

__ADS_1


__ADS_2