
“Temui saya sekarang.”
Sebaris pesan itu diterima Riswan melalui aplikasi chatnya. Pengirimnya tiada lain adalah Edwin. Laki-laki yang seharian ini ikut sibuk mengurusi masalah tuntutan keluarga korban kecelakaan kerja.
“Baik, Tuan.” Riswan segera membalas. Ia berjalan dengan langkah yang panjang menuju ruang kerja Edwin.
“Permisi, Tuan.” Laki-laki paruh baya itu mengetuk pintu ruangan Edwin yang seidkit terbuka.
“Masuklah.” Edwin segera berdiri, memilih duduk di sofa agar bisa berbincang santai dengan Riswan.
Riswan pun patuh, menghampiri Edwin dan duduk di sofa yang ditunjuk tuannya.
“Gimana keputusan Byan?” Edwin langsung berbicara pada intinya.
Riswan tidak lantas menjawab, ia melirik Melda terlebih dahulu. Mungkin ia takut Melda mendengar perbincangan mereka.
“Oh, gadis ini?” Edwin ikut menoleh Melda.
Riswan tidak menjawab ia hanya terdiam saja.
“Pergilah ke ruanganmu, jangan menguping. Pake headset yang biasa kamu pake untuk berlaga seperti penyiar radio itu,” titah Edwin pada Melda yang hoby mendengarkan musik.
“Baik, Tuan. Saya permisi.” Melda mengangguk sopan dan segera pergi ke ruangannya.
Sayangnya, ia tidak menuruti perintah Edwin seluruhnya. Menurut Melda, larangan ada perintah, sehingga ia memilih menguping dari pintu ruangannya untuk mencuri dengar pembicaraan dua laki-laki tersebut. Mungkin saja ada hal penting yang harus ia tahu.
“Apa Byan sudah mengambil keputusan?” lagi Edwin bertanya.
"Belum, Tuan. Sepertinya tuan muda masih kebingungan."
"Hah, begini saja bingung. Apa gunanya dia duduk di kursi pucuk pimpinan kalau tidak becus mengurusi masalah sekecil ini. Suruh aja dia turun dan berikan posisi itu pada orang yang lebih pantas." Edwin berbicara dengan sarkas.
Riswan tidak menimpali, ia hanya menyimak saja ucapan salah satu tuan besarnya.
"Cobalah, kamu bicara lagi dengan Byan. Pengaruhi dia agar menyelesaikan masalah ini dengan cara yang aku sarankan. Bukankah sebelumnya pun cara ini berhasil?" ucapan Edwin diakhiri dengan senyum sinis pada Riswan.
__ADS_1
Riswan masih memilih bungkam. Ia tengah memikirkan cara terbaik untuk berbicara dengan Byan.
"Kamu jangan kalah sama perempuan itu Riswan. Aku lihat, semakin ke sini kamu semakin mendukung dua orang yang seharusnya kamu singkirkan. Kamu mau, aku beritahu mereka apa yang sebenarnya sudah kamu lakukan?"
Diamnya Riswan malah berbuah ancaman dari Edwin. Ia tahu benar, bagaimana cara menekan orang kepercayaan Anggoro ini.
"Apa Maksud, Tuan? Hal apa yang mau tuan beritahukan pada Tuan dan Nyonya muda?" Kali ini Riswan balas menatap Edwin.
"Hahahahaha... ketakutanmu itu ketara sekali Riswan, padahal aku baru menggertakmu sedikit. Bagaimana kalau aku bersungguh-sungguh? Kamu yakin masih berani berdiri di atas kakimu dan menghadapi dua orang bodoh itu?" Pertanyaan Edwin membuat Riswan semakin tersudut.
"Silakan kalau Tuan mau bicara. Tentunya saya pun tidak akan segan menarik tangan Tuan untuk masuk ke dalam masalah yang Tuan timbulkan. Saya tidak akan membiarkan tangan saya tidak akan kotor sendirian." Riswan balas mengancam, membuat senyum sinis yang timbul di bibir Edwin pun pudar.
"Jangan macam-macam kamu!" cepat sekali Edwin berreaksi dan meraih kerah baju Riswan.
Tapi Riswan tampak tenang saja, seolah tidak peduli dengan hardikan tuannya. Beberapa saat kemudian, Riswan meraih tangan Edwin yang ada di kerah bajunya lalu melepasnya dengan paksa.
"Jangan suka memancing di air keruh Tuan, karena Tuan hanya akan mendapatkan sampah," imbuh pria tua itu seraya bangkit berdiri. Tidak lupa ia merapikan kemejanya yang berantakan karena cengkraman tangan Edwin.
"Saya permisi," pamitnya sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan Edwin yang mengeram kesal.
"Brengsek!!! Dasar laki-laki tua brengsek!!" seru Edwin setelah Riswan keluar dari ruang kerjanya dan membiarkan pintu ruangannya terbuka.
****
Menjelang malam, Maureen baru pulang. Suara deru mesin mobilnya membuat Byan terhenyak. Byan yang baru selesai makan malampun memilih menunggu Maureen di anak kedua tangga menuju lantai dua. Ia ingin melihat kondisi Maureen setelah tadi pagi begitu emosional karena masalah tuntutan keluarga pegawai kontruksi.
Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan, walau ia harus bersabar diri dan melihat dulu kondisi emosional Maureen.
"Selamat malam, Nyonya," sapa pelayan yang menyambut Maureen.
"Malam," Maureen menyahuti dengan malas. Terlihat sekali kalau wajahnya tampak sangat lelah.
"Anda mau makan malam sekarang, Nyonya?" tanpa menunjukkan wajahnya, pelayan itu melanjutkan pertanyaannya.
"Gak usah, aku gak lapar. Aku hanya ingin beristirahat." Sambil berjalan Maureen melepas satu per satu antingnya. Rasanya tidak cukup nyaman.
__ADS_1
"Apabila Nyonya memerlukan sesuatu, Nyonya bisa memanggil saya."
"Hem," hanya itu sahutan Maureen sebelum benar-benar pergi.
Baru beberapa langkah di ambilnya, ia mendapat hadangan dari anak tirinya. Byan bersidekap menghalangi jalan Maureen.
"Dari mana seharian ini?" tanya Byan penasaran.
Maureen menatap Byan beberapa saat lalu membuang nafasnya kasar.
"Kita bicara besok, hari ini aku sangat capek." Terlihat sekali kalau Maureen enggan membahas masalah apapun dengan Byan.
Ia memilih melanjutkan langkahnya meninggalkan Byan, tapi saat naik ke anak tangga pertama, Byan malah sengaja menghadang jalannya.
"Kamu tahu kan kalau kamu juga harus profesional? Dan kamu juga tau kan kalau pergi tiba-tiba tanpa memberi kabar pada bosmu itu sangat tidak sopan?" Antara peringatan atau kerinduan yang diutarakan Byan.
"Saya minta maaf , BOS!" dengan ringan Maureen memberi penekanan pada kata terakhir yang diucapkannya.
"Boleh saya istirahat sekarang?" Ia menatap Byan dengan menantang. Lihat alis kirinya yang terangkat lebih tinggi dari yang kanan juga tatapannya yang dingin.
"Tidak! Kamu belum menjelaskan apapun." Byan menjegal langkah Maureen dan memegang tangannya dengan erat. Ia tidak mengizinkan wanita itu pergi.
Maureen mengibaskan tangan Byan dengan kasar. "Aku tidak sedang ingin bermain-main," ucapnya dengan sinis.
"Dan aku tidak akan membiarkanmu pergi. Pikirmu akan akan diam saja setelah kamu membuatku pusing tujuh keliling?" Byan kembali meraih tangan Maureen.
Mereka bertatapan tajam beberapa saat.
"Pikirmu aku akan peduli dengan rasa pusingmu?" kali ini Maureen tersenyum sarkas, benar-benar tidak peduli. Lagi, ia mengibaskan tangannya dari Byan.
"Satu hal lagi, besok aku cuti. Jadi tolong jangan menggangguku. Permintaan ini bukan hanya sebagai bawahanmu tapi juga sebagai ibu tirimu." Maureen berbicara dengan tegas membuat Byan menatapnya tidak mengerti. Kenapa kemarahan Maureen terlihat semakin jelas saja?
"Selamat malam, BOS!" pamit Maureen kemudian. Ia sudah tidak peduli lagi dengan apa yang Byan pikirkan tentang dirinya.
"Sial!" dengus Byan saat melihat Maureen berlalu begitu saja dari hadapannya. Entah mengapa ia kehilangan alasan untuk menahan wanita itu agar tetap di sisinya.
__ADS_1
Lalu permintaan Maureen untuk cuti, ia tidak salah dengar bukan? Bagaimana dengan hari-harinya besok, bisakah dilalui tanpa Maureen?
****