Ranjang Dingin Ibu Tiri

Ranjang Dingin Ibu Tiri
Kemarahan Maureen


__ADS_3

“Ada apa?” tanya Maureen saat ia melihat tatapan serius Byan dan Riswan yang tertuju padanya. Padahal ia baru tiba di mulut pintu dengan membawakan kopi untuk Byan dan Riswan.


“Kalian kenapa sih?” Maureen melenggang masuk ke dalam ruangan walau masih bingung dengan arti tatapan dua orang ini. Ia menaruh kopi di atas meja, satu untuk Byan dan satu untuk Riswan yang baru kembali.


“Ada yang mau ditanyakan?” terka Maureen saat melihat tatapan Byan yang menyelidik.


Byan tidak menjawab, melainkan hanya memberikan ponsel Maureen pada memiliknya.


Maureen yang penasaran pun segera mengecek ponselnya.


“Astaga, Melda beneran masukin aku ke group ini,” gumam Maureen yang masih terkejut. Ia melihat sudah ada dua ribu lebih pesan yang masuk di group itu dan belum satupun ia baca.


Ya, gara-gara mencari tukang mie ayam, Maureen jadi mengabaikan pesan-pesan yang masuk ke kotak masuknya. Melda juga mengirim pesan dan belum ia baca.


“Kak Mo, aku masukin group staf yaaa… biar hp kak Maureen gak sepi gitu, hahahaha….” Ini sih kalimat informasi sekaligus ledekan dari Melda.


Maureen tersenyum kecil, Melda memang paling tahu kalau jarang ada pesan yang masuk ke ponsel Maureen. Terlebih setelah Anggoro mengulti semua staf laki-laki di kantornya. Lewat itu tuh, laki-laki tambun yang sedang menatap Maureen dengan penuh perhatian. Apa dia mulai curiga lagi?


Maureen segera menghilangkan garis senyumnya.


“Udah baca pesannya?” tanya Byan yang ikut komentar.


“Pesan di group? Ya belum lah. Ini pesannya ada dua ribu lebih, mana sempet aku baca dalam hitungan menit.” Maureen berujar dengan sesungguhnya.


Mata Byan sampai membulat mendengar jawaban Maureen yang begitu terang-terangan.


“Mohon maaf, apa Nyonya bergabung dengan group itu lagi?” Riswan ikut penasaran.


“Iya, memangnya kenapa?” tantang Maureen.


“Mohon maaf Nyonya, tuan Anggoro sudah melarang Nyonya untuk bergabung di group itu. Karena group itu tidak baik.” Riswan berusaha mengingatkan.


“Astaga, kamu masih aja berpikir gitu. Mereka gak melakukan hal yang aneh-aneh kok di group ini. Justru gara-gara cara kamu dan mas Anggoro yang maksa aku buat keluar dari group itu dan pasang ultimatum gak boleh ada yang chat aku, kesannya aku jadi exclusive.


"Aku jadi canggung sama mereka. Dan yang lebih gila, mereka yang mendekatiku malah merasa semakin tertantang buat ngejar aku. Padahal aku biasa aja, sama dengan perempuan lainnya.”


“Kamu membatasi interaksiku dengan teman-teman staf, padahal mereka teman seperjuanganku. Mereka juga yang selalu membantuku kalau aku kesulitan dan harus lembur karena beban pekerjaan yang sangat banyak. Hanya karena ada satu dua orang yang menggodaku, kalian membatasi interaksiku. Padahal, bukannya tabiat setiap laki-laki memang suka menggoda, yang penting kan mereka tidak melecehkanku.”


“Sekarang aku mencoba bersosialisasi lagi dengan mereka, apa kali ini juga kalian akan melarangku?” kalimat Maureen begitu panjang dan cepat. Ia juga menatap kesal Byan dan Riswan bergantian.

__ADS_1


“Iya, tapi aku lihat chat mereka begitu?” Byan menggaruk kepalanya, kehabisan kata-kata.


Alasan Maureen memang masuk akal tapi entah mengapa ia sangat kesal.


“Ya aku kan udah bilang, yang penting mereka masih tau batasan. Gak melecehkan aku. Lagi pula, kamu kenapa sih repot banget sama urusan pribadiku? Ingat ya, selain aku punya sisi professional, aku juga punya sisi pribadi yang tidak boleh kalian campuri. Ingat itu.” Mata Maureen sampai melotot pada Byan dan Riswan, membuat dua laki-laki itu terhenyak dan saling melirik.


Mereka ketar ketir tapi Maureen santai saja. Bukankah hal seperti itu lebih menakutkan? Karena Maureen mungkin tidak tahu bahaya apa yang mengintai di depannya.


Deringan telepon mengalihkan kemarahan Maureen pada Byan dan Riswan. Ia segera menjawab panggilan dari rekan kerjanya.


“Iya, Dit?” jawab Maureen yang sedikit menjauh dari Byan dan Riswan.


“DIT?!” gumam Byan dan Riswan bersamaan.


“Apa maksudnya Adit?” Byan bertanya pada Riswan.


“Bisa jadi, Tuan.”


Dua orang ini langsung waspada. Riswan cemas layaknya seorang ayah pada putrinya sementara Byan cemas layaknya, apa ya?


Telinga mereka meruncing, diam-diam menyimak kembali pembicaraan Maureen dengan lawan bicaranya.


“Berapa hari kira-kira kita di sana? Berdua aja kan?”


Jantung Byan berdebar kencang mendengar pertanyaan itu.


“Nyonya muda mau pergi kemana tuan?” tanya Riswan.


“Mana aku tau!” Byan menanggapinya dengan emosional.


“Ya udah, kamu siapin dulu aja berkas-berkas kita. Kalau tiga hari doang kayaknya aku bisa. Aku coba minta izin sama pak bos untuk keberangkatannya bagusnya kita kapan.”


“Iya, pesan satu kamar aja buat kita berdua.”


“Sip, makasih ya, Dit.”


Kalimat terakhir Maureen benar-benar membuat dada Byan panas. Ia tidak bisa membayangkan kalau Maureen akan pergi selama tiga hari dengan seseorang bernama Adit, sudah pasti laki-laki kan? Mereka juga tidur satu kamar, astagaaaa… Perut Byan mendadak sakit.


Tapi lihat wajah Maureen, dia tampak tenang dan biasa saja. Berjalan dengan santai mendekat pada Byan dan Riswan yang menatapnya penuh kecurigaan.

__ADS_1


“Kenapa?” Maureen meneguk kopinya dengan santai.


“Kamu mau kemana?” Byan sudah tidak sabar untuk bertanya.


“Temenku ngajak aku ke pulau yang lagi di bangun katanya ada yang harus kami cek. Ada beberapa titik pembangunan yang gak ada report progressnya. Dia curiga kalau pemborong sengaja menunda pembangunan demi memperpanjang waktu pengerjaan.”


“Berdua saja? Dengan temanmu?” Byan makin tidak karuan.


“Iya, kamu kan lagi sakit. Kamu di suruh bedrest. Masa mau ikut? Aku izin pergi cuma tiga hari doang dan Melda akan membantuku mengurus pekerjaan di sini. Nah ini untungnya akur sama temen staf, jadi aku ada yang bantuin!” kalimat Maureen terdengar ketus.


“Tapi gak harus pergi dengan laki-laki kan?” Byan mulai tidak terima.


“Laki-laki? Laki-laki siapa?” Maureen balas bertanya.


“Ya itu, yang telepon kamu? Si Adit!” ketus Byan.


“Si Adit siapa? Yang telepon aku itu bukan Adit tapi Dita. De I Te A. DITA! Adit dari mana sih?!” Maureen mulai kesal dengan sikap sok tahunya Byan.


“Ooohh….” Dua laki-laki ini sama-sama menghembuskan nafasnya lega.


“Apanya yang Oooohh? Kalian pikir aku mau pergi berduaan sama cowok terus tidur sekamar selama tiga hari gitu?!” Maureen mulai paham arah pikiran Byan dan Riswan.


“Dia yang mikir begitu. Aku sih enggak!” Byan langsung menunjuk Riswan.


“Saya tidak bicara apa-apa tuan.” Riswan menggeleng lemah. Walau dalam pikirannya muncul pemikiran begitu tapi ia bersumpah kalau tidak mengatakan apa-apa pada Byan.


“Kalian ini ya, negative banget pikirannya sama aku mentang-mentang aku ini janda.” Maureen benar-benar kesal. Pikiran seperti itu tiba-tiba saja melintas di benaknya dan membuatnya kecewa.


“Walaupun janda, aku punya harga diri, ya... gak akan berbuat sesuka hati yang bisa mempermalukan diriku sendiri dan orang-orang di sekitarku. Lagi pula aku masih punya waktu dua bulan untuk menjalankan amanah mas Anggoro.”


“Sekarang, terserah kalian mau berpikir apa soal aku. Aku udah gak peduli.” Tegas Maureen seraya pergi meninggalkan Byan dan Riswan dalam keadaan kesal.


Langkahnya terlihat tegas dan terburu-buru.


“Suaranya nyonya muda turun dua oktaf, beliau benar-benat kecewa, Tuan.” Riswan bersuara lirih dan Byan hanya bisa mematung melihat kepergian Maureen.


Bagaimana bisa ia berpikir senegatif itu pada Maureen?


****

__ADS_1


__ADS_2