
Rose di bawa ke dalam ruang operasi, Michael dan Gerry menunggu di depan. Tangan Michael bergetar, baru kali ini dia merasakan perasaan takut. Seumur hidupnya, dia belum pernah mengenal rasa takut. Namun karena seorang wanita, tangannya bergetar tanpa bisa dia kendalikan.
Michael menatap kedua tangannya yang bergetar dan berlumuran darah. Hatinya gelisah, cemas, takut, kacau, semua perasaan bercampur aduk. Ini pertama kalinya Michael merasa tidak berdaya, yang bisa dia lakukan hanya duduk dan menunggu.
Gerry memahami isi hati dan pikiran bos nya. Dia menepuk pelan bahu Michael dan berkata, "Nona Rose akan baik-baik saja, Dokter yang menangani Nona Rose adalah Dokter terbaik di rumah sakit ini."
"Drtttt.... Drtttt..!"
Handphone Rose bergetar, nama James tertera di layar. Michael menjawab telepon dari James.
James mengira Rose yang menjawab telepon. "Rose, kamu belum sampai rumah? kok gak kirim pesan ke aku?"
"Dia ada di Rumah Sakit" ucap Michael singkat sebelum memutus panggilan.
James melihat layar ponselnya, "Apa aku salah pencet nomor?" batinnya. James menatap layar ponsel, "Nomornya sudah betul punya Rose, tapi kenapa laki-laki yang jawab?" gumam James.
James memeriksa lokasi handphone Rose, dia segera meluncur ke sana dengan motor bututnya. James bertanya pada suster "Apakah ada pasien dengan nama Rose?"
"Ya, pasien sedang di operasi di lantai 2." jawab suster.
James berlari dengan cepat ke ruang operasi, Rose masih berada di dalam ruangan yang dingin itu. James menelepon untuk memastikan siapa orang yang telah mengambil handphone Rose. Dia melirik ke kanan dan kiri, lirikannya terpaku pada ponsel yang di pegang oleh Michael.
"Permisi, apakah anda yang menjawab telepon tadi?" tanya James pada Michael.
"Ya, aku yang jawab." ucap Michael.
"Apa yang terjadi pada Rose?" tanya James dengan wajah panik.
Michael menunduk menatap darah di tangannya, dia tidak ingin menjawab James. Gerry menyadari bos nya tidak ingin di ganggu. Dia membawa James menjauh dari Michael dan menceritakan hal yang dia ketahui.
James terduduk lemas di kursi, dia tidak menyangka Rose akan mengalami musibah seperti ini. Baru saja mereka bermain dan makan bersama dengan bahagia.
__ADS_1
Malam itu menjadi malam yang panjang untuk Michael dan James. Mereka duduk di kursi Rumah Sakit menunggu operasi Rose yang entah kapan selesai. Michael menyuruh Gerry pulang lebih dulu, dia tidak ingin Gerry ikut menunggu di sana.
Waktu sudah menunjukkan pukul 04.00, pintu kamar operasi masih tertutup rapat. Michael berjalan dengan kaki lemah ke kamar mandi, dia membersihkan darah di tangan dan mencuci wajahnya.
Michael menatap wajahnya di cermin, kini dia menyadari bahwa hati dan pikirannya dipenuhi oleh Rose. Dia berharap dirinya masih punya kesempatan untuk melindungi wanita itu.
Pukul 05.14 pintu ruang operasi terbuka, seorang dokter keluar dari sana dengan wajah lelah. James berlari ke arah dokter, dengan buru-buru dia bertanya. "Dok, bagaimana kondisi Rose?"
Dokter membuka masker di wajah kemudian menjawab, "Banyak organ tubuhnya yang terluka, tapi untungnya nyawa gadis muda itu masih bisa diselamatkan."
James dan Michael merasa lega mendengar jawaban Dokter, otot-otot mereka yang tegang sedari malam sudah rileks kembali begitu mendengar kabar baik itu.
Rose di bawa ke ruang ICU untuk di pantau lagi, Michael meminta ruang ICU pribadi untuk Rose. Kedua pria itu mengikuti langkah suster yang mendorong Rose ke kamar ICU.
James sangat sedih melihat Rose yang terbaring lemah di tempat tidur, hatinya terasa sakit melihat selang-selang yang terpasang di tubuh sahabatnya. James menggenggam jemari Rose yang masih ada bekas darah, dia berkata dalam hati. "Cepatlah sadar..."
Michael berdiri di sisi lain tempat tidur, dia meneteskan air mata pertamanya untuk seorang wanita. Dia menatap lekat wajah Rose yang tak berdaya, dengan lembut Michael menyisir rambut Rose yang menutupi wajahnya.
"Tuhan... Seumur hidup, aku belum pernah memohon padamu. Namun hari ini, aku ingin memohon dengan segenap jiwa dan ragaku. Tolong beri kesempatan untukku. Aku masih ingin melihat senyuman dan tawanya. Aku masih ingin melihat wajah kesal dan tangisnya. Kumohon... sembuhkan dia Tuhan." doa Michael dalam hati.
"Titttt........"
Suara monitor memberi tanda detak jantung telah berhenti.
Dokter dan perawat berlari ke ruang ICU, suster meminta Michael keluar dulu, agar kerja mereka tidak terganggu.
Beberapa menit kemudian Dokter keluar dari kamar, dia berkata dengan pelan. "Maaf, kami sudah berusaha. Namun pasien tidak dapat diselamatkan."
"Tidak... Tidak mungkin... Tidak!!!" ucap Michael histeris.
Michael terbangun dengan napas yang memburu, mimpi buruk itu telah membuat jantungnya berdetak kencang. Michael segera mendekat ke ranjang dan memegang telapak tangan Rose.
__ADS_1
"Hangat, masih hangat... Untung lah hanya mimpi." benak Michael.
Kedua pria itu tertidur di kursi setelah lelah menunggu semalaman. James ikut terbangun karena suara langkah kaki Michael.
"Kenapa pria ini masih berada di sini?" benak James.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Gerry menelepon Michael, dia berkata, "Tuan muda, hari ini ada rapat dengan Tuan Smith."
"Batalkan semua jadwalku seminggu ke depan." jawab Michael singkat.
"Baik, akan saya lakukan." ucap Gerry.
"Tolong bawakan baju ganti untukku, dan bawa dokumen penting yang harus di selesaikan hari ini." perintah Michael sebelum menutup telepon.
Gerry tiba dalam waktu 30 menit, dia membawa setumpuk dokumen dan satu tas berisi pakaian. Gerry juga membawa segelas kopi panas beserta sandwich kesukaan bos nya.
James kagum melihat Michael, dia hanya perlu memerintah untuk melakukan sesuatu. Kehidupan mereka berdua tentunya sangat berbeda. James harus berusaha sendiri bahkan untuk melakukan hal sekecil apapun.
Jari Rose mulai bergerak, perlahan dia membuka mata. Kata pertama yang dia ucapkan adalah, "Apa aku sudah mati?"
Michael dan James segera mendekat ke tepi ranjang dan memanggil namanya.
"Rose...!" panggil kedua pria itu bersamaan.
"Apakah aku sedang bermimpi?" tanya Rose yang masih kebingungan.
"Kamu gak mimpi, kamu masih hidup. Ini aku James sahabat baikmu." jawab James dengan mata berkaca-kaca.
Rose menatap Michael dan James secara bergantian, dia menghentikan gerakan bola matanya di wajah Michael.
"Dia lagi... kenapa dia selalu menghantuiku? aku selalu berada dalam kondisi menyedihkan saat bertemu dengan pria ini." batin Rose.
__ADS_1
"Syukurlah dia telah sadar. Terima Kasih Tuhan, karena Engkau telah mengembalikan dia padaku." batin Michael.
^^^BERSAMBUNG...^^^