
Rose mulai kesal dan marah, dia melangkah ke pintu namun di tahan oleh Michael.
"Ganti dulu baju mu sebelum keluar!" ucap Michael dengan nada memerintah.
"Nggak!" jawab Rose melawan.
"Kamu yakin nggak mau ganti sendiri?" tanya Michael dengan nada dingin.
"Huh...!" keluh Rose dengan membuang wajahnya ke arah lain.
Michael menarik turun baju yang di kenakan Rose, baju itu melorot hingga memperlihatkan dua buah gunung kembar yang di tutupi bra berwarna cream. Rose segera menutupi tubuhnya dengan kedua tangan yang di silangkan di dadanya.
"Kau! Bajingan!" ucap Rose dengan wajah memerah karena marah.
Michael tersentak melihat wajah Rose yang mulai panik, dia segera menutupi tubuh Rose dengan jas yang baru di lepasnya.
Rasa panik Rose segera mereda, dia tidak sempat kambuh untuk ketiga kalinya. Michael merasa lega melihat wajah Rose telah tenang kembali.
"Tenangkan diri mu! Aku tidak berniat melakukan apapun pada mu. Apakah kamu tahu? baju yang kamu pakai bisa mengundang niat jahat lelaki hidung belang. Jadi tolong, jangan pernah memakai baju seperti itu lagi." ucap Michael dengan suara rendah.
Rose mengangkat wajahnya, dia menatap lelaki yang sedang ada di hadapan nya.
"Ternyata dia berniat melindungi ku. Aku telah salah mengartikan maksud dari tindakan nya." benak Rose.
"Kamu keluar dulu!" ucap Rose dengan suara kecil.
Michael melangkah keluar, dia menunggu di depan pintu.
"Ceklek!"
Rose keluar dari kamar, dia mengenakan kemeja lengan panjang dan celana jeans. Michael tampak puas dengan pilihan busana nya.
Michael mengantar Rose ke kampus sebelum berangkat ke kantor. Gerry kewalahan mengatur jadwal bos nya yang makin berantakan akibat terlalu banyak mengundur janji dengan klien. Di tambah lagi dengan pekerjaan baru Michael sebagai bodyguard Rose, makin banyak jadwal yang harus di hemat oleh Gerry.
Rose turun di depan pintu gerbang kampus, dia mengucapkan terima kasih kepada Gerry dan Michael karena sudah mengantarkan nya.
James kebetulan baru saja sampai, dia mengajak Rose ke perpustakaan kemudian mengalungkan lengan ke pundak nya. Michael melihat itu dari balik jendela, rasa cemburu kembali menjalar di hati nya.
__ADS_1
"Wanita ini benar-benar tidak penurut!" ucap Michael dengan nada marah.
Gerry menggeleng dan diam-diam tertawa mendengar keluhan bos nya.
Luna yang juga kuliah di kampus itu secara kebetulan melihat Rose dan James yang begitu dekat, dia mengira James adalah pacar Rose. Dia mengambil foto kedua orang itu dan mengirim foto itu kepada Wilson.
"Bammm!"
Wilson membanting handphone nya saat melihat foto yang di kirimkan oleh Luna.
"Seharusnya aku membunuh pria itu!" kata Wilson.
Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Wilson menuju ke kampus tempat Rose berada, dia menunggu gadis itu di depan pintu. Begitu melihat wajah Rose, dia langsung menarik lengan nya dan memaksa nya masuk ke dalam mobil.
"Apa hubungan mu dengan pria miskin itu?" tanya Wilson di saat Rose masih terkejut.
Panik dan takut. Tubuh Rose mulai gemetaran, tangan dan kakinya kehilangan tenaga. Pria di depan nya saat ini bagaikan iblis dengan topeng wajah manusia.
Rose membuka pintu mobil namun pintu terkunci. Dia meronta berusaha melepaskan genggaman tangan Wilson, pria itu menampar dengan kasar wajah Rose kemudian mencium bibirnya dengan paksa.
Penyakit cemas Rose kambuh, dia mulai memohon dan menangis histeris. Bukannya menghentikan tindakan gilanya, Wilson makin tergoda dengan suara tangisan Rose.
"Wanita ******, kali ini tidak ada lagi orang yang akan menyelamatkan mu!" kata Wilson.
Wilson masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri nya di bawah siraman air. Dia keluar dengan mengenakan handuk putih yang di lilitkan ke pinggang.
"Pranggg!" Wilson terjatuh pingsan.
Rose terbangun karena rasa sakit di tubuhnya. Luka yang di jahit Dokter kembali terbuka saat Wilson menarik dan memaksa dengan kasar.
Rose mengingat kejadian yang baru saja terjadi, dia mengambil vas bunga dan menunggu Wilson di depan pintu kamar mandi. Vas itu di pecahkan di kepala Wilson, Rose dengan cepat berlari keluar kamar.
Michael melihat nya masuk ke dalam lift namun tidak sempat memanggil nya. "Apa yang dilakukan wanita itu di hotel?" tanyanya dalam hati.
Michael ada pertemuan penting di hotel, untuk sementara dia mengabaikan Rose dan melanjutkan langkahnya ke ruang meeting.
Dua jam telah berlalu, meeting akhirnya selesai. Michael menelepon Rose namun tidak di jawab. Gerry di perintahkan untuk mencari keberadaan gadis itu.
__ADS_1
Tas milik Rose tertinggal di mobil Wilson, handphone dan dompet berada di dalam tas.
Gerry menemukan lokasi handphone Rose di parkiran hotel. Michael mencari ke seluruh parkiran hingga akhirnya dia melihat tas yang dia kenali di dalam sebuah mobil.
"Ger, mobil milik siapa ini?" tanya Michael.
Gerry segera memeriksa plat dan dalam waktu 5 menit dia menjawab, "Mobil itu milik Wilson Harris."
"Jederrr!"
Seketika jantung Michael berdetak kencang. Rasa panik dan cemas menyelimuti diri nya. Pria bajingan yang mencoba memperkosa Rose, saat ini tas wanita itu ada di dalam mobil nya.
"Cepat cari wanita itu sampai ketemu!" perintah Michael.
Gerry memeriksa rekaman cctv di dalam gedung hotel. Dia kembali dengan membawa beberapa rekaman yang sudah di potong.
"Tuan muda, silakan anda lihat rekaman ini." ucap Gerry sambil menyerahkan sebuah handphone yang menyimpan data rekaman.
"Dia kabur, dia pasti baik-baik saja. Seharusnya aku mengejar Rose saat melihat nya tadi." benak Michael.
Michael menyesali kecerobohan nya, dia tidak berpikir panjang saat melihat wanita muda di hotel sendirian. Seharusnya dia lebih memperhatikan wanita itu.
"Tuan muda, Nona Rose saat ini ada di Rumah Sakit Gleni." lapor Gerry setelah mengetahui lokasi Rose.
"Cepat ke sana!" ujar Michael dengan wajah cemas.
Rose saat ini sedang ada di rumah sakit, dengan tenaga yang tersisa dia berjalan ke rumah sakit terdekat. Namun apa daya, rumah sakit yang terdekat membutuhkan waktu 1 jam perjalanan.
Rose duduk di ruang tunggu, dia masih mengantri karena rumah sakit ini di datangi banyak pasien.
Michael turun dari mobil dan berlari masuk mencari Rose. Napasnya memburu karena berlari sangat kencang. Hatinya seketika lega saat melihat Rose duduk di sebuah kursi sambil memijat kakinya.
Michael berlari mendekat dan langsung memeluk Rose. "Kamu nggak apa apa? Apakah kamu terluka? Apakah bajingan itu menyakiti mu?" bertubi-tubi pertanyaan di lontarkan.
"A...aku... aku baik-baik saja." jawab Rose yang masih terkejut karena pelukan mendadak dari Michael.
Michael melepas pelukan nya, tanpa sadar dia mencium bibir Rose dengan penuh cinta.
__ADS_1
"Uhmmm....!"
^^^BERSAMBUNG...^^^