Rose Second Life

Rose Second Life
Episode 34


__ADS_3

"Tuan muda, pesanan anda sudah sampai." ucap Gerry.


"Letakkan saja dulu di sana!" perintah Michael tanpa mengalihkan tatapannya.


Kotak makan mewah yang di bawa Gerry berisi bermacam sushi dan sashimi kesukaan Michael. Dia meletakkan kotak makan di meja kaca yang letaknya tidak jauh dari meja kerja Michael.


"Drtttt... Drttttt...!"


Ponsel Michael bergetar, di layar ponsel terlihat nama wanita yang dia pikirkan sejak tadi. Awalnya Michael tidak ingin menjawab karena menjaga gengsinya, namun karena hatinya lebih kuat dari pada pikirannya, Michael tanpa sengaja menekan tombol "jawab" di layar ponselnya.


"Hallo..."


Terdengar suara pria dari ponsel Michael, mendengar suara itu membuat Michael berpikiran yang tidak tidak. Dia hendak bertanya siapa gerangan pria yang sedang memakai ponsel Rose namun dia urungkan niatnya itu.


"Maaf, apa benar saudara mengenal wanita yang benama Rose?"


"Jederrr!"


Petir serasa menyambar diri Michael. Kalimat yang biasanya di sebutkan saat pemilik ponsel tersebut berada dalam kondisi yang tidak menyenangkan membuat Michael bergidik ngeri.


Dengan perasaan gelisah dan cemas, Michael menanti kalimat berikutnya yang akan disampaikan orang di seberang sana.


"Tuttt Tuttt Tuttt!"


Sambungan telepon tiba tiba saja terputus, Michael mencoba menelepon ponsel Rose namun nomor yang dia tuju saat ini sudah tidak aktif.


Nomor yang tidak aktif membuat Michael lebih cemas lagi, dengan wajah panik dia memerintahkan Gerry untuk mencari tau apa yang terjadi pada Rose.


Gerry saat itu sudah membaca berita ledakan pesawat tujuan ke kota H, dia bersyukur Michael tidak naik ke pesawat itu.


Flashback


"Cari tau penerbangan mana yang di pesan Rose untuk besok!" perintah Michael.


Beberapa menit kemudian Gerry berkata, "Bos, Nona Rose memesan tiket pesawat ke Kota H dengan nomor penerbangan XXX."


"Siapkan tiket pesawat yang sama untuk ku!" perintah Michael lagi.


"Siap Bos!" jawab Gerry.


Gerry menelepon seseorang untuk memesan tiket pesawat, namun tiket dengan nomor penerbangan XXX sudah habis terjual.


Susah payah Gerry mencari tiket itu karena semua sudah di booking. Gerry bahkan menghubungi beberapa orang yang membeli tiket pesawat untuk menawarkan tiket lain yang jauh lebih mahal hanya demi mendapatkan tiket untuk Michael namun sayangnya semua tawaran Gerry di tolak.

__ADS_1


Tentu saja orang-orang itu tertarik dengan tawaran dari Gerry, namun karena mereka menganggap itu hanya lelucon dan prank dari penipu, mereka langsung menolak dan menutup telepon.


Gerry yang memang pantang putus asa menelepon pihak travel, dia minta segera di kabari apabila tersedia tiket untuk penerbangan tersebut.


Beruntung di malam hari pihak travel yang buka selama 24 jam segera mengabari Gerry setelah penumpang atas nama Teddy Yunardi dan Erna Widya membatalkan penerbangan mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Bos..." Gerry memasang wajah serius yang memang sering ia perlihatkan, namun kali ini lebih dingin dan tegas.


Michael menatap Gerry, menunggu untuk mendengar apa yang akan dikatakan oleh asistennya itu.


"Tolong tenang dan dengarkan saya hingga selesai." ucap Gerry.


"Cepat katakan saja!" bentak Michael tak sabar.


"Pesawat yang di tumpangi Nona Rose meledak tadi sore saat akan lepas landas." ucap Gerry dengan cepat tanpa tanda baca.


Michael bangkit dari kursi empuknya, ia meraih kerah baju Gerry, "Kau! Apa yang sedang kau bicarakan sekarang?"


Gerry terdiam menerima emosi Michael yang dilampiaskan kepadanya.


Michael melihat remot tv yang terletak di sebelah kotak makan, dengan cepat ia membuka siaran yang selalu menyampaikan berita secara langsung dari lokasi kejadian.


Michael terjatuh di lantai, kakinya terasa tidak bertenaga, dia menjambak rambut hitamnya dengan sekuat tenaga. Betapa sakit dan hancur hatinya ketika membayangkan Rose telah pergi selamanya.


Michael berteriak dalam hati, dia menyesali apa yang telah dia lakukan pagi ini. Dia menyesal karena telah bersikap kasar kepada Rose. Dia menyesal telah memalingkan wajah dari Rose yang menatapnya dari belakang.


"Bos, tolong tenangkan diri anda. Masih ada sesuatu yang harus saya laporkan." ucap Gerry.


"Aku tidak ingin mendengar apapun saat ini. Keluar!" bentak Michael.


"Tapi..."


"Keluar!" bentak Michael memotong perkataan Gerry.


"Ini laporan mengenai Nona Rose." ucap Gerry dengan cepat sebelum Michael kembali membentaknya.


Michael menoleh ke arah Gerry, ia menatap asistennya itu dengan mata yang mulai berair.


Tanpa menunggu perintah, Gerry melanjutkan laporan yang baru saja ia terima dari bawahannya.


"Memang benar Nona Rose memesan tiket penerbangan, namun hal yang sangat aneh adalah beliau memesan tiket sebanyak 48 lembar. Dimana saat itu kursi penumpang yang masih tersedia tepat berjumlah 48 kursi."

__ADS_1


"Maksudmu Rose memesan semua tiket yang tersisa?" tanya Michael.


"Ya Bos, Nona Rose memesan semua tiket penerbangan yang tersisa, oleh sebab itu saya kesulitan memesan tiket penerbangan yang sama untuk bos.


Tapi kemudian ada telepon yang mengabarkan jika dua kursi penumpang sudah tersedia karena penumpang tersebut membatalkan penerbangan mereka. Itu sebabnya saya bisa mendapatkan tiket untuk bos di saat-saat terakhir."


"Lalu, apa sebenarnya yang ingin kamu sampaikan?" tanya Michael.


"Ini hanya penilaian saya pribadi. Saya merasa jika Nona Rose sengaja memesan semua tiket itu untuk mencegah orang lain membelinya. Jika tebakan saya benar, maka seharusnya Nona Rose juga tidak naik ke pesawat itu!" jawab Gerry.


"Daftar korban jiwa yang menjadi penumpang pesawat."


Suara televisi memecahkan kesunyian yang baru beberapa detik.


Michael menatap serius ke layar televisi yang menampilkan nama-nama korban.


"Ger..." panggil Michael.


"Ya Bos." jawab Gerry.


"Tidak ada." ucap Michael.


"...."


Gerry diam dan bertanya tanya dalam hati, apanya yang 'tidak ada'?


Wajah Michael terlihat lebih bersemangat, ia berdiri kemudian mencium kening Gerry yang saat ini terdiam bagai manekin di toko pakaian.


"Tidak ada nama Rose disana!" sorak Michael dengan wajah ceria.


Michael menelepon pihak bandara, ia minta untuk disiapkan penerbangan jet pribadi ke kota H dalam waktu 1 jam.


Gerry yang masih berdiri mematung segera tersadar ketika mendengar suara derit pintu kantor yang di buka oleh Michael dengan buru buru.


Gerry mengikuti langkah Michael dengan setengah berlari, dia cukup kesulitan untuk mengejar langkah kaki Michael yang panjang.


Michael tiba di bandara lebih cepat karena ngebut di jalan. Gerry sibuk menyiapkan dokumen sementara Michael duduk dengan sejuta pikiran yang terlintas di benaknya.


"Kenapa Rose membeli semua tiket yang tersisa?"


"Apakah Rose sudah tau jika pesawat itu akan meledak?"


"Jika benar Rose sudah tau dari awal, bagaimana dia bisa tau???"

__ADS_1


^^^BERSAMBUNG...^^^


__ADS_2