
James segera menutup bagian tubuhnya itu dengan menggunakan kedua telapak tangan sambil berkata, "Rose! Kamu kok jadi mesum?"
"Hahaha!"
Suara tawa pun terdengar di seluruh ruangan.
Setelah menghabiskan makanan mereka, James mencuci piring kotor dan Rose kembali ke ruang depan. Dia mengamati laporan di perusahaan milik Wilson yang sudah hampir jatuh bangkrut. Dengan senyum polos yang terlihat menakutkan, Rose pun bergumam, "Saatnya balas dendam!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seorang pengacara menemui Wilson, pria itu ditugaskan untuk membantu kasus yang dilayangkan kepada pria itu. Tuduhan atas penculikan, ancaman serta percobaan pemerkosaan.
"Tuan Wilson, tim kami sudah menyelidiki semua kejadian di tempat yang anda sebutkan. Menurut saya, yang bisa kita lakukan saat ini hanya mengakui kesalahan lalu meminta maaf kepada korban agar hukuman yang akan anda terima, tidak terlalu berat." ucap Pak Edy, pengacara Wilson.
Pria itu pun menjambak rambutnya sendiri, geram dengan situasi yang kini dia hadapi.
"Bagaimana Tuan Wilson? Apakah anda bersedia melakukan saran dari saya?" tanya Pak Edy.
"Aku tidak punya pilihan lain, ini semua gara-gara Luna. Wanita bodoh itu akhirnya hanya menjadi pembawa sial dalam hidupku!" batin Wilson.
"Baiklah, saya akan meminta maaf kepada korban." jawab Wilson dengan wajah kesal.
Pak Edy lalu pamit untuk menghubungi korban. Pria paruh baya itu berjalan keluar setelah melihat pesan yang baru masuk di ponsel miliknya.
Sebuah mobil sedan hitam menunggu di depan pintu, Pak Edy langsung membuka pintu mobil dan masuk ke dalam. Pria itu lalu menghubungi nomor ponsel seseorang.
"Hallo, Selamat Siang!"
Terdengar suara jawaban dari ponsel, Pak Edy segera menjawab, "Selamat Siang, Tuan Gerry. Saya sudah meyakinkan pelaku untuk mengakui kesalahan."
"Baik, bayaran anda akan segera saya kirim." jawab Gerry.
"Terima Kasih!" sahut Pak Edy yang lalu menutup sambungan ponsel.
Gerry berjalan menuju ke ruangan Michael.
__ADS_1
"Tok Tok Tok!"
Segera terdengar jawaban dari balik pintu. "Masuk!"
Gerry masuk ke dalam, dia lalu berkata, "Tuan Muda, semuanya sudah berjalan sesuai rencana."
"Kerja bagus!" jawab Michael singkat tanpa menatap Gerry.
Gerry pun keluar, dia lalu menuju ke cafetaria di kantor. Secangkir kopi tanpa gula dia siapkan bersama segelas air putih hangat. Pria itu lalu kembali ke ruangan Michael.
Gerry meletakkan cangkir dan gelas di sudut meja Michael. Dia lalu keluar tanpa membuat suara.
"Tuan Muda akhir-akhir ini jadi semakin dingin aja. Aku jadi deg deg-an kalau lagi di sampingnya. Mudah-mudahan badmood nya Tuan Muda cepat hilang." batin Gerry.
Rose kembali ke perusahaan, seorang wanita menatap Rose saat dia baru saja turun dari sepeda motor milik James. Wanita itu lalu bertanya dalam hati, "Kenapa anak bos malah naik motor butut sih?"
Pikiran dari wanita itu seakan terbaca oleh Rose, dia lalu mendekat ke wanita tersebut. "Naik motor itu seru lho!" bisiknya yang membuat wajah si wanita langsung berubah merah karena malu sebab pemikirannya diketahui oleh Rose.
Rose pun melangkah masuk ke dalam tanpa mempedulikan wanita itu. Sesampainya di ruang kerja, Rose membuka laptop yang ada di atas meja. Dia lalu memantau harga saham di perusahaan Harris Utama.
"Kristan!" panggilnya ketika dia melihat tanda merah di layar.
"Pergilah ke alamat ini!" Rose menyerahkan secarik kertas yang bertuliskan alamat. Dia lalu meneruskan ucapannya, "Bawa pengacara yang bernama Yusuf kemari, sekarang juga!" perintah Rose.
"Baik, Nona muda!" jawab pria itu yang lalu segera melangkah keluar.
Rose meneruskan tatapan matanya ke layar laptop. Dengan pengalaman dia bekerja di kehidupan yang lalu, dia langsung mengerti jika angka di layar itu membuktikan bahwa perusahaan Wilson saat ini sedang dalam kondisi yang sangat anjlok.
Rose berniat membeli semua saham yang ada di sana. Namun uang yang di miliki oleh Rose tidaklah sebanyak itu. Dia lalu berpikir bagaimana cara mendapatkan uang besar secara cepat tanpa harus meminta dari orang tuanya.
Rose pun berpikir, mencoba mengingat masa lalu. "Brakkk!" wanita itu memukul meja lalu berdiri. Dia menyambar tas dan ponsel yang ada di atas meja lalu segera berlari keluar.
"Astaga...! Kenapa aku bisa melupakan hal sepenting ini!" pikir Rose ketika dia berlari menuju ke parkiran mobil.
Rose segera masuk dan melajukan mobil porsche merah, dia menuju ke sebuah toko perhiasan. "Youth" nama toko perhiasan yang dituju oleh Rose. Satu jam perjalanan menuju ke sana dengan kecepatan rata-rata 60km/jam. Rose langsung turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam toko Youth.
__ADS_1
Seorang laki-laki muda dengan pakaian rapi dan memakai dasi biru datang mendekat, dia lalu bertanya, "Ada yang bisa saya bantu, Nona?"
Rose pun menjawab dengan pertanyaan, "Apakah ada kalung yang berwarna perak dengan liontin berbentuk hati? Saya mau yang ada batu berlian berwarna emas di tengah liontin."
Laki-laki itu terdiam, dia berpikir sesaat sebelum akhirnya dia menjawab, "Ada. Apakah Nona berminat untuk membelinya?" tanya pria itu dengan wajah bingung dan penasaran.
Senyum di bibir Rose segera melebar, dia lalu menjawab dengan wajah ceria, "Ya, saya mau membeli kalung itu!"
"Tunggu sebentar Nona, saya akan mengambilkan kalung yang anda inginkan." jawab Laki-laki itu.
Laki-laki itu pun berjalan masuk ke sebuah pintu yang berada di belakang. Rose menunggu di sana sambil melihat-lihat perhiasan yang dipajang di toko.
Beberapa menit kemudian, laki-laki itu keluar dengan membawa sebuah kotak berwarna hitam.
"Nona, apakah ini kalung yang anda maksud tadi?" tanya laki-laki itu setelah membuka kotak dan memperlihatkan isinya kepada Rose.
"Benar, saya mau membeli kalung ini!" jawab Rose.
"Anda benar-benar mau membeli kalung ini?" tanya laki-laki itu sekali lagi, memastikan jika pendengarannya tidak salah.
"Iya, saya mau beli ini. Sekarang juga!" jawab Rose dengan yakin.
"Nona ini benar-benar aneh! Sekian banyak perhiasan model terbaru, kenapa dia malah membeli kalung yang sudah kuno seperti ini?" batin si laki-laki.
Kalung itu dibungkus kembali dengan rapi di dalam kotak perhiasan. Rose menyerahkan sebuah kartu kredit kepada laki-laki di depannya.
"Nona, harga kalung ini 20 Juta, namun karena di sini tertera produk tahun 1990. Nona akan mendapat diskon 50% dari harga aslinya. Jadi harga kalung ini menjadi 10 Juta Rupiah."
"Baik, Terima kasih!" jawab Rose dengan senyuman di bibirnya.
Setelah transaksi selesai, Rose mengeluarkan uang 1 Juta Rupiah dari dalam tas, dia lalu memberikan uang itu kepada si laki-laki yang tadi mengambilkan kalung.
"Ini tips untuk Mas. Terima kasih ya!" ucapnya sambil berlalu menuju ke parkiran mobil.
Laki-laki itu menatap sejumlah uang di kini berada di atas telapak tangan, dia lalu berucap, "Aku lagi mimpi apa ya? Kok bisa dapat pelanggan seaneh ini?"
__ADS_1
Rose masuk ke dalam mobil, dia lalu membuka kotak perhiasan. Kalung di dalam kotak dia naikkan hingga ke depan mata. "Beruntung sekali aku masih ingat kehidupan yang lalu!" Rose pun tersenyum lebar sambil menatap kalung di tangannya.
^^^BERSAMBUNG...^^^