Rose Second Life

Rose Second Life
Episode 42


__ADS_3

"Bos, silahkan diminum!" ucap Gerry sambil menyerahkan secangkir kopi untuk Michael.


Michael mengambil kopi yang dibawakan oleh asistennya itu, "Terima kasih." ucapnya sebelum mengesap kopi hitam kesukaannya tanpa campuran pemanis apapun.


"Bos, laper nggak?" tanya Gerry dengan wajah nya yang lugu.


Michael menatap asistennya itu dengan ekspresi yang seolah mengatakan, "Laper pake banget!"


Gerry yang mengerti arti tatapan bosnya segera mengeluarkan sepotong sandwich yang baru saja dia beli di kantin. Sandwich itu memang disiapkan untuk Michael dan Rose.


"Kalau kurang, disini masih ada lima." ucap Gerry ketika Michael mengambil roti dengan isi yang berlapis itu.


Tatapan Michael yang awalnya sudah asem kini semakin asem lagi. Dalam hati pria itu berpikir, "Kau kira aku ini hantu kelaparan ya?"


"Bo... Bos... Itu, sandwichnya saya beli buat Nona Rose juga." ucap Gerry terbata-bata.


"Kamu tuh taunya cuma makan aja ya!" keluh Michael sembari membuka bungkus plastik sandwichnya.


Beberapa jam berlalu, Michael dan Gerry masih duduk menunggu Rose yang belum juga selesai berkonsultasi. Karena bosan, Gerry membaca berita lewat ponselnya. Sementara Michael hanya duduk diam memikirkan banyak hal.


Sementara itu, Rose masih membicarakan mimpi buruk yang dia alami kepada Dokter Frans. Dokter muda yang awalnya merasa ragu itu kini mulai percaya dengan cerita Rose mengenai dirinya yang terlahir kembali.


"Rose, apakah anda pernah berpikir untuk membalaskan dendam anda kepada pelaku?" tanya Dokter Frans dengan wajah serius.


"Ba... Balas dendam?" tanya Rose memastikan apa yang baru saja dia dengar.


"Benar, jika anda tidak ingin melupakan masa lalu yang mengerikan itu, saya rasa Rose harus balas dendam untuk menghilangkan rasa takut anda terhadap pelaku sekaligus mencari keadilan yang sudah Rose inginkan sejak lama. Bukankah begitu?" ucap Dokter Frans.

__ADS_1


"Benar, aku merasa sangat tidak adil dengan kehidupan yang aku jalani dulu. Aku tidak pernah menyakiti orang lain dengan sengaja, kenapa mereka harus menyiksaku sedemikian rupa hingga akhirnya membunuhku? Aku merasa tidak adil. Aku ingin meminta keadilan atas penderitaanku di masa lalu. Aku... Aku akan balas dendam!" ucap Rose dengan mata yang memancarkan kebencian.


"Satu hal yang ingin saya ingatkan kepada anda, meskipun Rose ingin balas dendam kepada mereka, jangan sampai Rose kehilangan jati diri dan jangan melukai diri anda maupun orang lain hanya demi sampah-sampah masyarakat itu!" ucap Dokter Frans.


"Saya mengerti, saya akan mengingat nasehat dari dokter." jawab Rose.


"Apakah perasaan anda menjadi lebih baik?" tanya Dokter Frans.


"Ya, saya merasa bodoh dengan sikap penakut saya di masa lalu. Ke depannya, saya akan melawan rasa takut itu. Saya akan menghancurkan orang-orang munafik itu!" ucap Rose dengan wajah serius.


"Baiklah, jika anda perlu bantuan, jangan sungkan untuk menghubungi saya kapanpun itu." ucap Dokter Frans.


Dokter muda itu mengembalikan buku diary Rose. Saat Rose akan keluar, dia bertanya kepada Dokter Frans, "Apakah Dokter punya pengalaman yang sama seperti saya?"


Wajah Dokter Frans yang biasanya selalu tersenyum ramah kini berubah dingin. Dia mengepal erat kedua tangannya, menarik nafas dalam-dalam kemudian menjawab, "Adik saya, adik saya memiliki pengalaman buruk yang sama seperti Rose."


Karena rasa sayang dan perlindungan dari keluarganya, Viona selalu mendapatkan apa yang dia mau dan tidak pernah menghadapi kesulitan. Gadis itu tidak tau betapa buruknya kehidupan sosial yang sebenarnya, dia tidak tau betapa banyak manusia yang bersifat buruk dan keji terhadap sesamanya.


Viona yang naif terjerat cinta pria yang bernama Alex, pria itu menggoda Viona yang polos dan mencuri hatinya. Gadis muda yang baru pertama kali jatuh cinta itu tidak sadar jika dirinya hanya salah satu barang taruhan Alex dan temannya.


Suatu malam, seusai pesta kelulusan akademi, Viona di bawa temannya yang bernama Felicia ke sebuah kamar hotel. Alex sudah menunggu di kamar itu bersama dua orang teman pria yang bertaruh dengannya.


Begitu Felicia dan Viona tiba disana, kedua teman Alex segera bersembunyi di kamar sebelah yang terhubung dengan kamar Alex. Felicia menyerahkan Viona yang sudah diberi minuman bercampur obat perangsang kepada Alex.


Alex menyerahkan cek sebesar sepuluh juta kepada Felicia sebagai imbalan. Felicia keluar dari kamar itu tanpa sedikitpun rasa bersalah. Alex kemudian melancarkan aksi bejadnya, dia menyetubuhi Viona yang sedang dalam pengaruh obat.


Setelah berhasil merenggut mahkota suci milik Viona, Alex memanggil kedua temannya itu untuk menjajahi tubuh Viona yang telah dia nodai. Alex merekam semua perbuatan temannya terhadap Viona, dia menyimpan video itu di handphone miliknya.

__ADS_1


Viona terbangun di pagi hari berikutnya, dia merasa sakit di sekitar tulang paha dan alat kelaminnya. Punggungnya nyeri dan seluruh tubuhnya terasa pegal. Viona mencoba mengingat apa yang terjadi semalam.


Belum sempurna ingatan yang kembali kepadanya, Viona dikagetkan oleh keberadaan pria asing yang baru saja keluar dari kamar mandi. Viona berteriak histeris melihat pria itu tidak mengenakan pakaian maupun dalaman.


Rasa terkejutnya belum habis sampai disana, pria asing lain muncul dari kamar sebelah, pria itu membungkam mulut Viona yang sedang berteriak.


"Diam!" perintah pria yang bernama Dion.


"Pagi-pagi uda semangat aja ya kamu!" ucap pria lain yang bernama Ken.


"Kalau kamu semangat gitu kan kita jadi susah buat nolak!" ucap Dion.


Viona ketakutan, dia menarik selimut putih yang bernoda darah untuk menutupi tubuhnya yang polos tanpa sehelai pun benang.


"Ka... Ka... Kalian, mau apa kalian?" tanya Viona dengan tangan yang mulai gemetaran.


"Kami mau apa? Memangnya apa lagi yang bisa dilakukan saat di ranjang jika bukan bermain permainan keluar masuk?" ucap Ken yang mulai dikuasai birahi karena melihat tubuh mulus milik Viona.


"Pergi! Pergi kalian!" teriak Viona sambil meronta.


Ken menarik paksa selimut yang menutupi tubuh Viona, sementara Dion menahan kedua tangan gadis itu.


"Aku duluan ya!" ucap Ken yang mulai melahap bibir indah Viona yang kemerahan.


Ken mencium dan memberi tanda di setiap inchi kulit mulus Viona, mulai dari bibir turun ke dadanya yang padat berisi, hingga ke paha wanita itu. Puas menandai tubuh mulusnya, Ken memasuki tubuh Viona dengan paksaan, Viona berteriak keras karena rasa sakit yang ia rasakan ketika benda milik pria itu menusuknya dengan kuat. Berkali kali Ken memompa tubuh itu meskipun Viona menangis dan memohon untuk dilepaskan.


Giliran Dion pun datang, dia juga melakukan hal yang sama terhadap Viona. Pada akhirnya wanita itu diam saja, ia pasrah karena rasa sakit di hatinya terasa sesak hingga ia tak mampu lagi berteriak maupun berkata-kata.

__ADS_1


^^^BERSAMBUNG...^^^


__ADS_2