
"Aku sudah lama merasa kesal dengan kesombongan wanita itu! Akhirnya hari ini dia bisa merasakan bagaimana rasanya harga diri yang di injak-injak oleh orang yang lebih berkuasa. Ingatlah rasa terhina ini seumur hidupmu!" benak Roy.
Sepanjang malam, dari kamar itu hanya terdengar suara teriakan, jeritan dan rintihan yang memilukan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rose kembali melajukan mobilnya, sekali-kali dia mengintip ke kaca spion untuk melihat jarak mobil hitam yang sedang mengikutinya.
"Ada jalur simpang empat di depan, aku akan berbelok ke kiri untuk memastikan apakah pria ini sedang mengikutiku atau kami hanya kebetulan bertemu." pikir Rose dalam hati.
Rose berbelok ke arah kiri begitu sampai di jalur simpang empat, namun mobil hitam itu tidak ikut berbelok. Rose merasa sedikit lega melihat mobil itu lurus terus tanpa mengikuti arah laju mobilnya.
Namun rasa lega itu ternyata hanya sementara saja, mobil hitam yang di lihatnya tadi tiba-tiba saja sudah berada di belakang mobil porsche merah yang dikemudikan oleh Rose.
Rose mengambil ponselnya untuk menghubungi polisi, namun tanpa sadar dia menekan nomor panggilan cepat yang terhubung ke ponsel Michael.
"Drttt! Drttt! Drttt!"
Michael meninggalkan ponselnya di ruang kerja, sementara dirinya sedang berada di ruang meeting bersama Gerry dan karyawan lain.
Rose menatap layar ponselnya karena tidak mendapat jawaban, dia kembali menekan tombol cepat untuk menghubungi Michael ketika melihat nama Michael muncul di layar ponselnya.
Masih tidak ada jawaban dari ponsel itu membuat hati Rose sedikit kecewa. Rose mengarahkan laju mobilnya ke kantor polisi yang terdekat, tak lupa dia menelepon nomor darurat 110 untuk meminta bantuan.
Belum sempat mobilnya mencapai kantor polisi, dua mobil hitam lainnya berhenti di depan mobil Rose dan menghalangi jalannya. Rose semakin panik ketika melihat Deny dan Roy turun dari mobil itu.
"Kenapa mereka semua bisa ada di sini?" gumam Rose dengan suara yang mulai gemetar.
"Mike, tolong aku!" ucapnya dengan sangat putus asa.
"Drtttt! Drtttt!"
Rose menatap ke layar ponsel nya yang bergetar, dia melihat nama Dr. Frans di sana. Segera Rose menekan tombol jawab yang ada di layar, "Dokter, tolong saya! Tolong selamatkan saya!" ucap Rose dengan nada panik.
Sementara itu Dr. Frans yang mendengar suara panik Rose menjadi ikutan panik, buru-buru dia bertanya, "Ada apa? Rose! Kamu ada di mana sekarang?"
"Dokter! Tolong saya... Mereka mau menculik saya. Saya sekarang berada di ... Tut... Tut... Tut..." belum sempat Rose menyebutkan di mana dia berada namun sambungan telepon telah terputus.
__ADS_1
"Ada apa dengan pasien ini? Apakah dia mengalami serangan panik lagi?" pikir Dr. Frans yang salah mengira jika Rose sedang mengalami sindrom panik attack yang memang sering kambuh belakangan ini.
Dokter muda itu kembali menghubungi Rose, namun nomor ponselnya sudah tidak aktif lagi. Merasa keadaan Rose berbahaya jika tidak ada orang yang berada di sampingnya, Dr. Frans memutuskan untuk menghubungi Michael yang terdaftar sebagai wali pasien.
Michael baru saja kembali ke ruang kerja, dia masih harus membereskan beberapa laporan. Pria itu belum sempat memeriksa ponselnya sehingga dia tidak mengetahui jika Rose sudah beberapa kali menghubunginya saat dia tidak ada di sana.
"Drtttt! Drtttt!"
Ponsel Michael bergetar, dia memastikan nama penelepon terlebih dulu sebelum menjawab.
"Dr. Frans?" ucap Michael mengerutkan alisnya ketika melihat nama itu di layar ponsel.
"Hallo Dok!" sapa Michael begitu ia menjawab telepon.
"Selamat sore, bisa saya bicara dengan wali dari pasien yang bernama Rose?" tanya Dr. Frans.
"Ya, saya wali dari pasien yang bernama Rose. Ada apa Dr. Frans menghubungi saya?" tanya Michael dengan rasa penasaran.
"Apakah saat ini anda sedang berada di samping Nona Rose?" tanya Dr. Frans.
"Baru saja saya menelepon pasien untuk memastikan jadwal pertemuan berikutnya. Tapi suara pasien terdengar sangat panik. Juga, dia meminta tolong kepada saya. Pasien mengatakan jika ada orang yang ingin menculiknya." Dr. Frans menceritakan dengan terperinci.
Tanpa ba be bi bo bu, Michael langsung menutup telepon dari Dr. Frans, ia hendak menghubungi Rose namun saat ia menatap layar ponselnya, laki-laki itu melihat 9 panggilan tak terjawab dari Rose.
"Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif."
Michael menelepon Rose, namun nomor itu tidak dapat di hubungi. Melihat panggilan ponsel dari Rose yang sudah sebanyak 9 kali, Michael yakin jika Rose sedang berada dalam bahaya.
Michael menjerit keras, "Gerry!"
Asisten itu masuk ke ruangan Michael dengan terburu-buru karena mendengar suara teriakan Michael yang terdengar begitu panik.
"Cepat cari lokasi Rose! Sekarang!" perintah laki-laki itu dengan suara berteriak, matanya terlihat membesar dengan raut wajah yang di penuhi dengan kekhawatiran.
Sementara itu, Rose yang berada di dalam mobil masih mencoba untuk menghubungi polisi agar mereka cepat tiba di lokasi.
Melihat ketiga wajah yang tak asing di luar mobilnya, membuat Rose mengingat kenangan buruk yang dulu pernah dia jalani. Namun kenangan buruk itu malah membuat Rose memberanikan diri untuk menghadapi ketakutannya.
__ADS_1
"Aku harus tenang!" ucap Rose berulang kali kepada diri sendiri.
"Aneh, kenapa tidak ada satu pun mobil yang lewat di jalan ini?" tanya Rose dalam hatinya ketika dia melihat jalanan yang sepi tanpa satupun pengendara selain mereka.
Deny mengetuk jendela kaca mobil. "Buka!" perintah pria itu.
"Buka woi buka!" teriak Roy dari jendela kaca yang berlawanan sisi.
Karena Rose tidak juga membuka pintu mobil, Deny berjalan kembali ke mobil hitamnya, dia mengambil besi panjang yang ada di bagasi mobil. Pria itu kembali mendekat ke mobil Rose dengan senyuman bengis yang menyeramkan.
Rose memalingkan tatapan ke arah berlawanan, ia menutup wajahnya dengan kedua tangan begitu melihat Deny mengayunkan besi panjang ke arah jendela kaca mobil.
"Pranggg!!"
Kaca jendela itu retak hanya dengan satu hantaman.
Dari jauh, suara teriakan seorang pria terdengar begitu jelas hingga membuat Rose membuka mata dan menatap ke arahnya.
"BERHENTI!"
Teriakan dari pria itu menghentikan ayunan tangan Deny yang hampir menjangkau kaca jendela Rose untuk yang kedua kalinya.
Junaidy memberhentikan sepeda motornya di dekat mobil Rose, dia turun dari tempat duduk dan segera menghampiri wanita yang terjebak di dalam mobil itu.
"Siapa bocah ini? Pahlawan kesiangan?" tanya Deny dengan wajah kusut yang mencerminkan jika ia tak suka melihat kedatangan Junaidy.
"Kalian ini ngapain sih? Mau jadi kriminal?" tanya Junaidy tanpa rasa takut.
"Hei bocah, minggir sana! Jangan ikut campur!" ancam Roy yang berjalan ke tempat Junaidy berdiri.
"Hancurin kaca jendelanya!" perintah Roy ke Deny yang masih memegang besi panjang di tangannya.
Junaidy mencoba menahan lengan Deny, namun Roy menendang perut Junaidy hingga tubuh pria itu terjatuh ke aspal jalanan yang kasar.
"Rasain!" umpat Roy dengan wajah kesal.
^^^Bersambung...^^^
__ADS_1