Rose Second Life

Rose Second Life
Episode 50


__ADS_3

Rose menyadari kemarahan Michael, dia menuruti perintah dari pria itu agar tidak menambah kemarahannya. Namun sebelum dia masuk ke dalam mobil, Rose menatap Junaidy dan mengatakan kepada pria itu jika Michael adalah kenalannya.


Rose masuk dan duduk di samping kursi kemudi mobil, karena memang pintu di sana yang dibuka oleh Michael untuknya.


"Bammmmm!"


Pintu ditutup dengan bantingan dari luar. Michael begitu marah sampai-sampai ia tidak bisa mengontrol emosi dan sikap kasarnya.


Selama di perjalanan pulang, tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut Michael. Pria itu hanya fokus menyetir sambil sesekali melirik ke arah Rose yang duduk diam di sampingnya. Perjalanan yang hanya berjarak 30 menit terasa seperti sudah berjam-jam bagi Rose karena keheningan dan ketegangan Michael yang terasa asing.


Sesampainya di mansion, Michael membukakan pintu untuk Rose, "Turun!" ucapnya dengan wajah dingin yang menakutkan.


Rose masuk lebih dulu ke dalam mansion, Michael mengikuti langkahnya dari belakang. Sesampainya di ruang tamu, tiba-tiba saja Michael meraih lengan Rose dan menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya.


Dia menarik nafas panjang dan menghembuskan nafas itu perlahan. "Rose, apa yang harus aku lakukan padamu?


"Kau tau betapa takutnya aku sejak sore tadi?


"Kau tau betapa kacau hatiku ketika aku tidak bisa menemukanmu?


"Jantungku serasa berhenti berdetak ketika memikirkan dirimu sedang berada dalam bahaya. Tapi, apa yang kulihat barusan? Kau malah berduaan bersama laki-laki lain! Haruskah kupatahkan kaki dan sayapmu agar kau tetap diam di sampingku?"


Rose memejamkan mata, membayangkan seberapa takut hati Michael saat dia tidak bisa dihubungi. Dia tau jika Michael salah paham terhadapnya ketika melihat kebersamaannya dengan Junaidy, namun itu bukanlah alasan untuk Rose marah kepada Michael, sebab memang dia memiliki alasan untuk cemburu kepada pria lain yang mendekati pasangannya.


"Mike, maukah kamu mendengar penjelasan dariku?" lirih Rose dengan hati-hati agar tidak menambah kemarahan laki-laki tersebut.


"Aku tidak membutuhkan penjelasan apapun." jawab Michael, pelukannya dilepas begitu saja tanpa menatap wajah wanita yang sejak tadi dia cemaskan.


Pria itu berbalik dan melangkah ke luar dari pintu mansion. Dia kembali masuk ke dalam mobil dan melajukannya tanpa mengucapkan sepatah kata kepada Rose yang menatap kepergiannya.


Rose merasakan sedikit perasaan kecewa dan sedih. Dia kecewa karena Michael tidak ingin mendengar penjelasan darinya, dan dia merasa sedih melihat kepergian pria itu tanpa menjelaskan apa yang telah terjadi.


"Kenapa dia pergi begitu saja? Padahal hari ini aku sangat membutuhkan seseorang untuk bersandar!" batin Rose.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seminggu berlalu begitu saja, Rose menjalani hari-hari seperti biasa namun dia menambah satu kegiatan lain di sela-sela waktunya yang kosong.


"Angkat dagunya! Fokus lihat ke mata lawan!"


"Sedikit lagi, tendang lebih kuat."


"Bughhh!"


"Ya bagus!"


"Prokkk Prokkk Prokkk!"


Suara tepuk tangan mengakhiri jadwal latihan Rose untuk hari ini.

__ADS_1


Rose mulai fokus melatih tubuhnya, dia mempelajari ilmu bela diri dasar di tempat kursus latihan bela diri yang di rekomendasikan oleh Pak Ridwan.


Flashback


Rose kembali ke kantor polisi keesokan hari setelah membuat pengaduan. Saat itu ia bertemu dengan Pak Ridwan yang tengah memberi sedikit arahan kepada beberapa petugas polisi.


"Selamat pagi Pak, saya Rose, yang kemarin membuat laporan di sini." sapa Rose.


Pak Ridwan tersenyum ramah melihat Rose yang menyapa, "Ya, tentu saja saya masih ingat. Sudah di ambil laporannya?"


"Sudah Pak. Ini saya baru mau pulang." jawab Rose sembari memperlihatkan amplop coklat yang ada di tangannya.


"Oh, kalau gitu hati-hati di jalan ya!" ucap Pak Ridwan.


Rose pun berjalan ke luar, dia menuju ke tempat parkir mobil yang semalam ia tinggalkan di sana. "Wow...!!!" batin Rose ketika melihat jendela kaca mobilnya yang penuh retakan halus.


Pak Ridwan ternyata ikut ke luar, mobilnya terparkir di sebelah mobil Rose sehaingga mereka kembali bertemu di sana.


"Ini mobil Rose?" tanya Pak Ridwan ketika menatap mobil yang sudah tak lagi sedap dipandang itu.


"Iya Pak, hancur banget yah?" tanya Rose sambil menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal.


"Ini gara-gara preman yang kemarin?" tanya Pak Ridwan sambil memperhatikan mobil Rose yang lecet dan penyot sana sini.


Rose mengangguk, "Iya Pak, ini mau saya bawa ke bengkel dulu biar bisa diperbaiki."


"Saya pesan taxi online saja nanti Pak."


"Kalau gitu biar saya saja yang mengantar Rose pulang. Bahaya kalau nanti ketemu lagi sama preman yang kemarin." ucap Pak Ridwan menawarkan tumpangan.


Rose berpikir beberapa saat, dia memang masih takut jika preman itu kembali muncul di hadapannya, "Ya udah kalau gitu Rose ikut aja. Makasih banyak ya Pak!" jawab Rose menyetujui tawaran dari Pak Ridwan.


Dalam perjalanan, Pak Ridwan bertanya, "Rose, kamu sering diikutin preman ya?"


"Nggak juga Pak, baru sekali ini aja."


"Kamu nggak berminat belajar bela diri Rose?"


"Bela diri? Maunya sih Pak, tapi saya belum pernah belajar bela diri dari kecil. Memangnya masih bisa belajar dari sekarang?"


"Bisa saja kalau kamu mau. Bela diri itu penting loh! Setidaknya bisa kita pakai untuk kabur."


"*Benar juga, apa sebaiknya aku belajar aja ya*h?" pikir Rose.


Setibanya di depan mansion, "Terima kasih ya Pak." ucap Rose sebelum turun dari mobil.


"Oh Ya, saya sepertinya mau belajar ilmu bela diri Pak. Terima kasih sudah memberi saran untuk Rose."


"Rose ada kenalan yang mengajar ilmu bela diri?" tanya Pak Ridwan.

__ADS_1


Rose menggelengkan kepala.


Pak Ridwan membuka laci yang ada di samping tempat duduk, dia mencari-cari sesuatu di dalamnya.


"Nah ini, Rose boleh coba belajar di sini." ucapnya sambil menyerahkan selembar kartu nama.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Rose menatap layar ponselnya, dia menunggu pesan dan telepon dari Michael yang tak kunjung tiba.


"Dia masih marah ya?" pikir Rose.


Rose melempar handphone nya ke atas ranjang, tubuhnya dijatuhkan di atas kasur yang empuk.


"Mike... Aku kangen!" gumamnya sebelum tertidur.


Hari berikutnya


Rose mendapat chat di tab tab dari seseorang yang menjadi satu-satunya teman Rose di aplikasi itu.


Prince : Pagi...


Rose : Selamat pagi


Prince : Sehat?


Rose : Sehat, kamu?


Prince : Aku lagi sakit.


Rose : Sakit apa?


Prince : Sakit rindu


Rose : Hahaha... Kalau rindu ya telepon ajah orang yang Prince rindukan.


Prince : Maunya sih gitu, tapi aku takut dia bakal ngereject panggilan kalau lihat namaku.


Rose : Kalau gitu chat ajah.


Prince : Ini sekarang lagi chat.


Rose : Oh, jadi ada di balas?


Prince : Ada. Kamu nggak kangen sama seseorang?


"Aku kangen sama Mike!" jawab Rose dalam hati.


^^^BERSAMBUNG...^^^

__ADS_1


__ADS_2