Rose Second Life

Rose Second Life
Episode 54


__ADS_3

"Mike, lepasin dulu!" pinta Rose dengan nada rendah agar tidak membuat pria itu marah.


"Kau! Lepaskan tangan wanitaku!" ucap Mike dengan nada rendah namun terdengar mengancam.


Junaidy memicingkan matanya, dia tampak kesal dengan sikap kasar Michael terhadapnya setiap kali mereka bertemu.


"Kenapa harus aku? Kau tidak mendengar jika Rose memintamu untuk melepaskan tangannya?" ucap pria itu.


"Mike, ayo pulang!" ajak Rose dengan wajah memelas, membuat hati Michael tidak tega. Pria itu akhirnya mengalah, dia melepaskan tangan Rose lalu berdiri diam di sampingnya.


"Jun, maaf ya aku pulangnya sama Mike. Ada yang harus aku bicarakan sama dia. Kamu nggak apa-apa kan aku tinggal?" ucap Rose sambil menatap wajah Junaidy.


"Iya, aku nggak apa-apa kok. Kamu hati-hati di jalan dan jangan lupa kabarin kalau udah sampai di rumah." ucap pria itu dengan senyuman ramah.


"Makasih ya, bye bye!" ucap Rose sambil melambaikan tangan.


Michael langsung menarik tangan Rose dan menyeretnya hingga ke mobil. "Masuk!" perintah pria yang bossy itu.


Rose pun menurut saja, dia masuk ke dalam mobil dan duduk diam manis di sana hingga tiba di rumah. Michael membuka pintu mobil untuk Rose, wanita itu turun dari sana lalu membuka pintu rumah.


Begitu pintu terbuka, Michael langsung menarik lengannya dan membawa wanita itu ke sofa ruang tamu. Pintu depan bahkan belum di tutup olehnya yang terlalu terburu-buru.


"Siapa laki-laki itu?" tanya Michael dengan wajah yang terlihat marah.


"Teman!" jawab Rose singkat.


"Teman? Teman kencan?" bentak Michael dengan suara meninggi.


"Nggak, dia cuma teman yang pernah nolongin aku." jawab Rose menjelaskan namun tak ingin di dengar oleh Michael.


"Mulai sekarang, jangan pernah bertemu lagi dengan laki-laki itu!" titah Michael dengan nada paksaan.


"Mike, dia itu penyelamat aku. Nggak mungkin aku abaikan orang yang sudah menolong nyawaku!" tolak Rose dengan beralasan.


Wajah pria itu semakin marah, dia menarik tubuh Rose yang ada di depannya. "Kau harus berjanji untuk tidak lagi bertemu dengan laki-laki itu!" ucapnya dengan wajah yang dangat dekat dengan wajah Rose.

__ADS_1


"A...Aku nggak bisa melakukan itu." jawab Rose sambil menatap mata pria di depannya.


Sedetik kemudian bibir Rose sudah menjadi ******* bibir Michael, pria itu mencium bibir Rose dengan sangat liar. Tak berhenti di situ, ciumannya kini turun ke tengkuk lehernya yang indah dan menggoda. Berulang kali Rose mendorong tubuh lelaki itu, namun kekuatannya hanya sebatas geli-geli saja untuk Michael yang rajin berolah raga.


"Lepaskan aku Mike!" ucapnya dengan nada memohon namun tak di gubris oleh sang pria yang sudah mulai bergairah.


"Mike!" bentaknya dengan suara kuat ketika sebuah tangan menyusup ke dalam bajunya dan hampir menggapai bukit kembar di dalamnya.


Jari jemari pria itu masih tetap menyusup ke sela-sela pakaian dalam milik Rose hingga akhirnya ia menyentuh salah satu bukit kembar di sana. Rose terperanjat, bayangan masa lalu mulai melintas di kepalanya.


"Jangan! Tolong jangan lakukan ini kepadaku!" ucapnya dengan tubuh yang gemetaran.


"Sial!" pekik Michael yang segera tersadar karena merasakan getaran dari tubuh Rose.


"Rose!" panggilnya dengan suara pelan agar tak mengagetkan wanita yang tengah ketakutan itu.


Rose mengangkat wajahnya yang tadi dia tundukkan, dia menatap Michael lalu berkata, "Kenapa kau melakukan ini? Kenapa kalian memperlakukan aku seperti ini? Apa salahku?" suara yang dimulai dengan nada rendah itu perlahan meninggi. Rose menumpahkan semua kemarahan dan rasa kecewanya terhadap pria itu.


Michael hanya terdiam, dia lalu memeluk Rose dengan erat. "Michael, kau benar-benar seorang bajingan! Bisa-bisanya kau memperlakukan wanita yang penuh luka dengan cara seperti ini!" Michael memaki diri sendiri dalam pikirannya.


Rose mulai tenang, dia mendorong tubuh Michael yang memeluknya lalu berkata dengan wajah dingin, "Mulai sekarang, aku tidak ingin melihat wajahmu lagi! Tolong keluar dari sini!"


"Kenapa? Apakah kau sudah jatuh cinta kepada laki-laki lain?" tanya Michael dengan hati yang hancur.


"Tidak, aku tidak akan pernah jatuh cinta lagi! Tidak akan!" ucap Rose dengan sangat serius.


"Lalu kenapa???" jerit pria itu dengan wajah kecewa.


"Aku tidak ingin mengulangi kesalahanku!


"Aku tidak ingin hidup dengan pria yang hanya melampiaskan emosi kepadaku!


"Aku tidak ingin memiliki cinta yang posesif!


"Aku tidak ingin memiliki cinta yang penuh dengan dendam!

__ADS_1


"Aku tidak ingin merasakan penderitaan yang sama dengan masa laluku!


"Tolong keluar! Keluar dan menghilanglah dari hidupku!" bentak Rose dengan penuh emosi.


Michael begitu terkejut dengan kata-kata yang keluar dari mulut wanita di depannya. Baru kali ini dia merasakan rasa sakit yang luar biasa meskipun tidak terlihat luka di tubuhnya.


"Apa yang harus aku lakukan? Dia begitu marah hingga tega mengusirku dari hidupnya. Kenapa harus berakhir seperti ini? Aku benar-benar tidak rela untuk melepasnya dari hidupku!" benak Michael.


"Keluar!" ucap Rose lagi karena pria itu tetap bergeming di sana.


Michael rasanya ingin menangis karena wanita itu terus mengusirnya, bukan dari rumahnya saja tapi juga dari hatinya. Baru kali ini dia merasakan bagaimana rasanya kesedihan yang mendalam dan air mata yang tak tertahankan. Tanpa di sadari, wajahnya mulai lembab karena air mata yang mengalir dari sudut matanya.


Beberapa kali dia berkata dalam hati, "Semuanya akan baik-baik saja, Rose akan memaafkan aku jika amarahnya telah reda." Namun tentu saja dia menyadari jika kata-kata itu hanyalah sebuah penghiburan untuk diri sendiri yang tengah bersedih.


Michael menuruti keinginan Rose, dia pergi dari rumah itu meninggalkan Rose yang masih berdiri dengan menahan tangisnya.


"Rose, kamu harus kuat! Kamu harus jadi wanita yang tidak bisa diremehkan oleh siapa pun! Karena hidupmu adalah kesempatan yang diberikan oleh Tuhan. Jangan menjadi pencundang lagi di kehidupan yang kedua ini!" batin Rose.


Michael melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia menghubungi Gerry lalu berkata, "Bawa pria itu ke rumah kosong yang ada dipinggir kota!"


"Pria?" tanya Gerry bingung.


"Wilson! Aku ingin kau membawanya sekarang juga, bagaimanapun caranya!" titah Michael dengan suara yang penuh amarah.


"Siap bos!" jawab Gerry yang bertanya-tanya ada apa dengan pria itu.


Di sebuah rumah kosong yang sudah lama tak berpenghuni, pria itu di bawa dengan mobil van hitam. Gerry menyeret pria itu masuk ke dalam lalu mengikatnya di tiang yang berada di tengah ruangan.


Bughhh!


Baghhh!


Dughhh!


Sepanjang malam hanya ada suara pukulan dan erangan yang keluar dari ruangan gelap itu. Tubuh Wilson menjadi punching bag Michael yang sedang di landa emosi.

__ADS_1


"Pria ini, dia yang sudah menyebabkan trauma pada Rose. Apakah itu berarti dia juga pernah melakukan kekerasan terhadap wanita lemah itu? Apakah itu sebabnya dia selalu ketakutan saat aku menyentuhnya? Apakah pria ini pernah mem...memp*rkosa wanita itu?" pertanyaan-pertanyaan di pikiran Michael.


^^^BERSAMBUNG...^^^


__ADS_2