
"Mike!" gumam Rose begitu melihat wajah laki-laki itu.
Michael tersenyum ketika matanya bertemu dengan mata Rose. Namun senyum itu menghilang begitu saja ketika ia mengalihkan tatapannya. Dia melangkah masuk diikuti oleh Gerry, sang asisten setia yang selalu melakukan tugas dengan sempurna.
"Tuan Muda kami menyetujui wacana pemberhentian Tuan Wilson dari posisi presdir!" ucap Gerry begitu langkah mereka terhenti.
Wajah Wilson kini semerah buah tomat yang sudah matang. Dia begitu marah hingga rasanya semua darah naik ke atas pembuluh darah di kepala.
"Mari kita lihat berapa jumlah saham yang dimiliki oleh anak muda ini." ucap Pak Hendy memecah keheningan.
Pak Hendy tersenyum begitu melihat angka di surat kepemilikan yang berada di atas mejanya. "10%. Dengan tambahan 10% berarti jumlah yang setuju menjadi 50%. Tuan Wilson, sepertinya anda harus menyerahkan surat pengunduran diri secepatnya!"
"Brakkkk!"
Wilson memukul meja dengan tangannya, dia merasa begitu kesal dan marah. Kekalahan yang tidak bisa ia prediksi hari ini semuanya dikarenakan oleh Rose dan Michael.
"Aku bersumpah, aku akan membunuh mereka berdua!" ucapnya dalam hati.
Rose masih tertegun melihat wajah Michael di depannya. Dia tidak menyangka jika orang yang berusaha dia hubungi sejak kemarin malam adalah Michael.
"Baiklah, sekarang kita akan memilih siapa yang akan di angkat menjadi presdir setelah pengunduran diri Tuan Wilson!" lanjut Pak Hendy.
"Yes... Berhasil! Aku... Aku akan terus membuat hidupmu menderita, terhina dan terpuruk! Sampai kau menyesal, pernah lahir ke dunia ini." batin Rose.
Wilson mengepal erat kedua telapak tangannya, dia menatap Rose dan Michael secara bergantian dengan tatapan penuh dendam dan kebencian yang mendalam. Namun kedua muda mudi itu tampaknya tak peduli, sebab mereka langsung pamit dari ruang pertemuan.
Rose berjalan di depan, di ikuti oleh Kristan di sampingnya. Michael dan Gerry berjalan di belakang mereka. Setibanya di parkiran, Michael masuk ke dalam mobil tanpa melirik Rose. Hal itu membuat Rose kepikiran, sebab tidak biasanya Michael bersikap cuek begitu terhadap dirinya.
Rose merasa penasaran, dia berbalik melihat Michael yang baru saja masuk ke dalam mobil. "Aku belum mengucapkan kata terima kasih kepadanya." benak Rose. Dia akhirnya memutuskan untuk mendatangi mobil Michael sebelum mobil itu melaju.
"Tok Tok!" Rose mengetuk kaca jendela mobil milik Michael, pria itu menoleh menatapnya. Dia pun membuka kaca jendela lalu bertanya, "Ada apa?"
"Aku... Aku mau mengucapkan terima kasih. Terima kasih karena sudah membantuku tadi." ucap Rose dengan wajah malu-malu.
"Bukan apa-apa, lagi pula aku bukan membantumu. Aku memang tidak suka kepada pria itu." jawab Michael dengan wajah dingin dan sinis.
__ADS_1
"Deg!" Hati Rose tersentak. Perih dan sakit, tiba-tiba saja ia rasakan.
"Kenapa hati ku terasa sakit melihat perlakuan dingin Michael terhadapku?" batin Rose.
Michael seakan menyadari kesalahannya, kesalahan karena menyakiti perasaan wanita di hadapannya. Hatinya juga terasa sakit ketika melihat Rose bersedih, namun ia harus mempertahankan sikap dinginnya agar Rose mengerti. Mengerti jika sikap dingin yang di tunjukkan olehnya juga membuat hati Michael terasa sakit.
"Jika tidak ada lagi yang ingin kamu sampaikan, aku permisi dulu!" ucap Michael.
"Ayo jalan Ger!" perintahnya kepada asistennya.
Rose menatap kepergian mobil Michael, dia berdiri di sana hingga mobil itu gak terlihat lagi. Tiba-tiba saja dia tersenyum, lalu dia bertanya kepada diri sendiri.
"Apakah seperti ini, rasa sakit di hatimu ketika ku abaikan?"
"Nona Rose!" suara Kristan membuat Rose menoleh melihatnya. Pria itu lalu bertanya, "Apa yang sedang Nona pikirkan? Mobil orang itu sudah pergi dari tadi. Kenapa Nona masih terbengong di sini?"
Rose menunduk sesaat, ia kembali menoleh ke arah Kristan. "Aku... Apa yang harus aku lakukan jika kehilangan anak ayam?" tanya Rose secara kiasan.
"Maksudnya pria tadi itu adalah anak ayam Nona?" Kristan yang peka, secara cepat menduga, Rose memiliki perasaan untuk Michael.
"Ya, anak ayam ku yang biasanya selalu menempel. Ke sana dan ke sini, dia selalu mengikutiku. Tapi kini sudah berbeda, dia pergi tanpa berbalik menatapku." jawab Rose.
Rose menundukkan kepala, ia menyadari jika semua penolakannya terhadap Michael akan membuat pria itu sakit hati. Pada akhirnya, sakit hati itu akan membuat Michael menjauh dan melupakannya.
"Entah sejak kapan, Michael... Pria itu sudah mengisi ruang kosong di dalam hatiku!" benak Rose.
Setelah membenahi hati, Rose mengajak Kristan kembali ke kantor. Kristan hanya mengangguk mematuhi perintah dari Nona nya yang ia kagumi.
Sementara itu, di dalam mobil Michael. Pria itu merasa tidak bisa menahan ekspresi dinginnya di hadapan Rose. Dia meminta Gerry agar segera pergi, karena dia tidak sanggup lagi menahan keinginannya. Keinginan untuk memeluk dan menatap lembut mata Rose yang bercahaya, bagai bintang di langit malam.
"Gimana penampilanku tadi, Ger?" tanya Michael kepada asistennya yang sedang menyetir.
Gerry mengacungkan jari jempol ke arah belakang. "Sempurna Bos!" jawab Gerry yang suka mengubah panggilan Tuan Mudanya.
"Tapi aku tidak tega melihat wajah sedihnya itu!" ucap Michael ketika membayangkan kembali ekspresi di wajah Rose tadi.
__ADS_1
"Gak apa-apa, Bos! Ini hanya sebentar saja sampai Nona Rose mengerti jika di hatinya hanya ada Bos seorang." saran Gerry yang sepertinya di setujui oleh Michael sebab pria itu mengangguk-angguk di belakang.
Rose dalam perjalanan menuju ke kantor, dia melewari minimarket tempat ia bertemu dengan Junaidy. "Gimana kabarnya ya? Udah lama banget gak ketemu." benak Rose.
"Drtttt! Drtttt!"
Ponsel Rose bergetar. Merasakan getaran di dalam tas, Rose membuka dan mengeluarkan ponselnya.
"Mama" nama yang tertera di layar ponsel.
Rose segera menjawab panggilan telepon dari wanita yang paling berjasa baginya.
"Hallo Ma, Selamat pagi!" sapa Rose dengan nada yang ceria.
"Hallo, anak mama yang paling cantik!" balas Mama Rose.
"Apa kabar Mama dan Papa? Rose kangen banget lho, udah lama gak ketemu Mama dan Papa." ucap Rose dengan suara manja.
"Mama dan Papa baik dan sehat. Rose juga sehatkan? Dan Mama ada kabar bahagia buat Rose dan Lily." sahut Mama Rose dari seberang sana.
"Kabar apa, Ma?" tanya Rose penasaran.
"Rencananya, Mama dan Papa akan kembali tinggal di Kota X. Mama mau menghabiskan waktu lebih banyak bersama anak-anak Mama. Gimana? Rose senang kan dengarnya?"
Rose terdiam, dia baru ingat ini memang kejadian yang sama seperti masa lalu. "Mama dan Papa kembali untuk menjodohkan aku dengan anak dari sahabat mereka. Tapi aku, aku menolak tanpa bertemu dengan pria itu. Karena saat itu, aku sudah memiliki Wilson." pikir Rose.
"Rose!" panggil Mamanya karena Rose tidak menjawab.
"Ya, Ma! Rose di sini." jawabnya cepat.
"Kamu dengar kata-kata Mama barusan?"
"Iya, Rose senang Mama dan Papa udah mau kembali. Tapi Ma...!"
Rose terdiam, dia tak melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"Tapi apa Rose?" tanya Mama Rose penasaran.
^^^BERSAMBUNG...^^^