
Rose mengangkat sebelah tangannya, hendak memegang tangan Mama Daisy. Melihat tangan Rose menuju ke arahnya, Mama Daisy langsung memegang tangan Rose.
"Tidak perlu, Ma. Rose baik-baik saja sekarang. Tolong ambilkan minum ya, Rose haus!"
"Iya, tunggu sebentar ya sayang!" sahut Mama Daisy, dia berbalik menatap Papa Hanz yang baru saja masuk ke kamar, memberi isyarat untuk membawakan segelas air.
Papa Hanz segera menuang air hangat ke dalam gelas. Dia memberikan gelas itu kepada Mama Daisy. "Hati-hati!" ujar Papa Hanz sembari menyodorkan gelasnya.
"Makasih, Pa!" seru Mama Daisy ketika menerima gelas dari tangan Papa Hanz.
Michael membantu menaikkan tempat tidur Rose ke posisi duduk, dia lalu duduk di samping tempat tidur untuk menahan punggung Rose yang masih lemah.
"Pelan-pelan saja, airnya masih sedikit panas." Mama Daisy membantu Rose untuk memegang gelas yang berisi air hangat. Dia menuang pelan air itu ke dalam bibir Rose.
"Makasih, Ma." ucap Rose setelah memuaskan dahaganya.
"Kamu laper?" bisik Michael ke telinga Rose.
Rose segera mengangguk, dia memang sangat lapar karena sudah dua hari tidak menyentuh makanan. Michael mengeluarkan ponsel, dia mengirim pesan kepada Gerry untuk membawakan makanan.
Paman Teddy menepuk pelan bahu Papa Hanz, membuat Papa Hanz menoleh menatapnya. "Bisa kita bicara sebentar?" tanya Paman Teddy yang terlihat sangat serius.
Papa Hanz mengangguk, mereka berjalan keluar dari kamar. Papa Hanz mengajak Paman Teddy untuk berbicara di kantin rumah sakit, keduanya bergerak menuju ke sana. Sesampainya di kantin, Paman Teddy memilih meja yang berada di sudut paling dalam, agar dia bisa berbicara dengan leluasa.
Paman Teddy lebih dulu bersuara, "Maaf jika saya mengganggu waktu anda, Pak Hoffmann."
"Panggil saja Hanz." sahut Papa Hanz.
"Hanz, saya ingin bertanya tentang hubungan Rose dan laki-laki yang bernama Michael itu. Sejauh mana hubungan mereka?" Paman Teddy menunggu jawaban dari Papa Hanz dengan hati yang gelisah dan cemas.
"Entahlah, saya juga kurang mengetahui tentang masalah ini. Rose anak yang tertutup, dia jarang menceritakan masalahnya kepada siapapun. Kami bahkan baru mengetahui jika Rose sudah memiliki tambatan hati ketika kembali ke kota X." jelas Papa Hanz.
__ADS_1
"Jika bisa, tolong pisahkan mereka berdua." pinta Paman Teddy dengan wajah yang serius.
"Alasannya? Kenapa anda ingin memisahkan Rose dari laki-laki yang dia cintai?"
Papa Hanz merasa bingung karena permintaan dari Paman Teddy sedikit sulit. Dia tidak ingin melarang Rose menjalin asmara dengan laki-laki yang dia cintai. Dia tidak ingin mengekang Rose tanpa alasan yang jelas.
Paman Teddy tidak memiliki pilihan lain, dia menjelaskan alasannya kepada Papa Hanz. "Laki-laki itu, dia tidak akan bersikap baik kepada Rose. Dia menyimpan dendam yang sangat besar di dalam hatinya. Dendam itu, semuanya ditujukan kepada keluarga kami. Rose bisa saja masuk ke dalam rencana balas dendamnya nanti, saya tidak ingin melihat Rose menderita."
"Maaf jika ini terdengar lancang, tapi, bisakah anda menceritakan dendam apa yang ada di hati anak muda itu?" tanya Papa Hanz penasaran.
Paman Teddy menceritakan segalanya, tapi dia menyanggah tuduhan dari wanita itu. Sebab Paman Teddy tidak pernah masuk ke dalam kamar hotel seperti yang dituduhkan oleh Michelle.
"Setelah kematian gadis itu, saya merasa bersalah kepada keluarganya. Jika saja saat itu saya menerima dia sebagai istri kedua, mungkin dia tidak akan bunuh diri."
Paman Teddy menyesali keputusannya menolak dan mengusir Michelle pulang. Tapi sebulan kemudian, dia mendengar sesuatu yang seharusnya tidak dia dengar. Malam ketika Michelle berada di dalam kamar hotel, mereka memberi gadis itu obat halusinogen. Dia menyebut nama Teddy ketika berhubungan dengan tiga laki-laki secara bersamaan.
Ketiga laki-laki itu adalah rekan bisnis Paman Teddy, mereka memang membuat janji untuk bertemu di sana. Tapi ternyata Paman Teddy tidak bisa hadir, karena saat itu banyak pekerjaan yang belum selesai. Entah bagaimana, Michelle meminum wine yang sudah di campur dengan obat halusinogen. Membuat gadis muda itu melihat wajah Paman Teddy di semua wajah laki-laki yang dia temui.
"Dia benar-benar cantik!"
"Bahkan tubuhnya sangat indah."
"Sayang sekali hanya bisa dinikmati satu kali saja."
"Obat halusinogen itu benar-benar berguna."
"Entah di mana gadis itu sekarang, aku masih ingin mencicipi tubuhnya yang aduhai itu."
"Kau pikir kau saja yang mau? Aku juga sangat menginginkan gadis muda itu!"
"Hahaha...!"
__ADS_1
"Habis bersenang-senang, kita malah pergi tanpa ketahuan. Sempurna sekali bukan?"
"Biar saja dia mengira jika Teddy yang sudah menidurinya."
Sementara itu, Paman Teddy mendengar semuanya dari balik pintu. Sejak dia mengetahui kebenaran atas peristiwa yang menimpa Michelle, Paman Teddy terus merasa bersalah. Memang benar bukan dia pelakunya, tapi rekan kerjanya yang menjadi penyebab semua ini.
Tidak hanya kehilangan kehormatannya, dia bahkan meninggal karena bunuh diri. Membuat Paman Teddy semakin merasa bersalah di dalam hatinya. Tapi kejadian itu sudah berlalu bertahun-tahun. Dia bahkan sudah hampir melupakan wajah Michelle. Jika bukan karena wajah Michael yang mirip dengan kakaknya, Paman Teddy tidak akan mengingat peristiwa itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Michael menyuapi Rose, dia sedang menikmati bubur hangat yang di belikan oleh Gerry. James masuk ke kamar, dia datang dengan membawa sup ayam yang dia masak sendiri.
"Rose, mau sup ayam?" tanya James sambil mengangkat tinggi rantang yang dia bawa.
Rose segera mengangguk sambil tersenyum.
"Bentar yah aku tuang dulu!" James mengambil sebuah sendok, dia memindahkan sup dari rantang ke sebuah mangkuk kecil yang dia bawa dari rumah.
"Nih, makan ini aja, lebih sehat!" ujar James sambil menyodorkan mangkuk ke depan Michael.
Michael mengambil mengkuk dari James, dia kembali menyuapi Rose dengan sup hangat buatan James.
Papa Hanz kembali ke kamar bersama Paman Teddy, dia melihat semua yang di lakukan oleh Michael untuk Rose.
"Meskipun dia memiliki dendam, aku tidak melihat kebencian di matanya ketika dia menatap Rose. Sikapnya bahkan sangat lembut di depan Rose. Mungkin, dia tidak sejahat bayangan Teddy." benak Papa Hanz.
Selesai menghabiskan semangkuk sup ayam yang bergizi, Rose diberikan air hangat oleh Papa Hanz. Papa Hanz duduk di depan Rose, dia lalu bertanya kepada putrinya itu.
"Rose, apa yang sebenarnya terjadi di gedung yang terbakar itu? Siapa orang yang sudah menculikmu? Kenapa kamu bisa tau, ada ruangan bawah tanah di dalam gedung?"
^^^BERSAMBUNG...^^^
__ADS_1