
Michael duduk di depan sebuah televisi, dia menonton dengan wajah yang serius. Namun yang di tonton bukanlah sinetron ataupun film laga melainkan tontonan dewasa yang kini sedang terjadi di dalam kamar Wilson dan Luna.
Michael mendengar semua percakapan mereka, dia tersenyum sinis lalu berkata, "Aku akan menghancurkan kalian terlebih dulu, agar kalian tau apa akibat dari menyentuh wanita milik seorang Michael!"
Gerry berdiri diam di samping Michael, dia terlihat gelisah sebab menonton sesuatu yang belum pernah dia lihat seumur hidupnya. Sementara Michael hanya menganggap kedua pasangan itu sebagai pasangan anjing yang sedang bergulat.
"Ger, beli semua saham Harris Utama yang ada di market. Akuisisi perusahaan itu dalam waktu seminggu!" perintah Michael kepada asistennya.
"Baik, Tuan Muda!" jawab Gerry dengan wajah yang memerah.
"Ger!"
"Ya?"
"Kenapa wajahmu merah gitu?"
"Hehe... Saya cuma kepanasan." jawab Gerry dengan malu-malu.
"Panas? Karena melihat kedua anjing gila ini?"
"Ehemmm...! Itu... Saya baru pertama kali lihat yang beginian." jawabnya dengan wajah yang semakin merah.
"Dasar GG!!!"
"GG? Apa itu, Tuan?"
"Gak Guna!"
Gerry melirik Tuan Mudanya itu dengan memasang wajah sebal dan kesal. Dia merasa selalu di bully oleh Tuan Mudanya itu. Seolah mengetahui jika asistennya itu sedang menatapnya, Michael menoleh ke arah Gerry. Wajah kesal itu pun segera menghilang, buru-buru dia memaksakan senyuman dengan sambil cengegesan. Dalam hati dia mengeluh, "Kenapa selalu aku yang di salahkan?"
__ADS_1
Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Mobil Rose masuk ke halaman depan, dia baru saja tiba di rumah setelah 30 menit perjalanan. Rose mencari ponsel miliknya yang terjatuh, ponsel itu terjatuh saat si merah hampir mencium moncong sebuah mobil yang datang dari arah berlawanan.
Rose menunduk, mencari di bawah kursi. Senyumnya merekah begitu saja ketika ia melihat sebuah ponsel di bawah sana.
"Ini dia!" ucapnya sembari menjulurkan lengan untuk mengambil ponsel. "Pok Pok!" Rose menepuk-nepuk ponselnya yang sedikit berpasir.
Setelah mengunci pintu mobil, Rose masuk ke dalam rumah. Langkah kaki Rose langsung menuju ke kamar tercinta. Dia meletakkan tas dan kunci mobil di atas meja, begitu juga dengan ponselnya.
Rose berjalan menuju ke kamar mandi, melepas semua pakaian hingga tubuhnya tak tertutupi sehelai pun benang. Rose memutar keran, air mulai turun dari atas. Air hangat menerpa tubuhnya, membasahi permukaan kulitnya yang putih mulus tanpa noda.
Rose membersihkan diri di bawah guyuran air hangat yang mengalir dari shower. Saat ia memejamkan mata, bayangan Michael terus saja muncul di benaknya. Wajah sedih dan kecewa yang terekam di memori kepalanya itu selalu muncul tanpa diperintah.
"Apa dia baik-baik saja?" gumam Rose.
Selesai membersihkan diri, Rose mematikan keran air. Dia mengambil sebuah handuk kimono yang terlipat rapi di lemari kaca, lalu memakai handuk kimono untuk menutupi sekaligus mengeringkan sisa air yang menempel pada kulitnya.
"Tringgg!"
Prince : Hati ku udah ada di kamu semuanya. Gak bersisa lagi!
Setelah membaca pesan, Rose tersenyum geli. Meski belum pernah bertemu dengan teman chat satu-satunya ini, entah kenapa hati Rose merasa nyaman. Walaupun yang dikatakan oleh pria ini selalu gombalan receh para anak muda, Rose merasa sedikit terhibur dengan kata-kata yang dia anggap canda. Dia lalu mengetik balasan pesan.
Rose : Berarti bener dong kamu tuh gak punya h...
Belum sempat Rose mengirim pesan balasan untuk Prince, sebuah nomor tak di kenal mengirimkan sebuah pesan yang berisi rekaman video.
Rose memutar rekaman video itu, suara yang tak asing terdengar dari rekaman. Rose begitu terkejut mendengarnya hingga dia tak mampu berkata-kata. Apalagi rekaman setelahnya, rekaman yang memperlihatkan sepasang pria dan wanita yang sedang bermain dengan panas di atas ranjang.
"Ternyata mereka sudah berhubungan sebelum aku mengenal pria itu! Hubungan yang terkutuk pula!" ucap Rose mengingat kejadian di masa lalu.
__ADS_1
Rose berjalan ke sisi ranjang, perlahan dia duduk di atas kasur yang terasa empuk. Matanya terpejam, dia membayangkan semua hal buruk yang telah dia lalui. Masa lalu kelam yang di sebabkan oleh Wilson dan Luna.
"Kau akan membuatku menderita? Hah... Memang apa salahku? Apa yang telah ku lakukan sehingga kau memperlakukan aku seperti seorang pendosa? Luna, Wilson! Aku akan membalas kalian! Aku akan membuat kalian membayar atas semua penderitaan yang aku alami di masa lalu!"
Rose kembali mengamati nomor ponsel yang mengirimkan video tersebut, "Nomor siapa ini? Kenapa dia mengirimkan video ini kepadaku?" ucapnya dengan rasa penasaran.
"Drrtttt! Drrrtttt!"
Sebuah notifikasi pesan masuk lagi di ponsel Rose, dia membuka pesan itu. Pesan dari nomor yang tidak terdaftar, juga berbeda dari nomor yang tadi.
Pesan itu ternyata berisi ancaman dari seseorang, nama James di sebut-sebut dalam pesan tersebut.
"Datanglah ke hotel Victory, kamar nomor 666 di lantai 6. Jika kau datang bersama orang lain atau pun melapor ke polisi, kau hanya akan melihat mayat pria yang bernama James!"
"James!" ucap Rose dengan mata yang membelalak, dia sangat terkejut membaca pesan itu. Dengan tangan yang gemetar, dia segera menekan tombol panggilan cepat.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, silahkan coba beberapa saat lagi."
Nomor yang tidak aktif membuat Rose semakin panik, dia bergegas melepas handuknya. Rose membuka lemari, mengambil baju kaos dan celana jeans panjang yang terletak paling depan. Buru-buru dia memakai set pakaian itu tanpa mempedulikan rapi tidaknya.
Rose menyambar kunci mobil dan tas yang terletak di atas meja rias, ia keluar dari kamar dengan langkah yang cepat. Rose berlari kencang menuju ke mobil, pintu rumah bahkan masih terbuka lebar saat wanita itu melajukan mobilnya.
Mobil Rose berhenti di depan pintu gerbang, dia hendak mencari ponselnya sebab dia tidak mengenal jalan menuju ke Hotel Victory. Rose baru mengingat jika dirinya melupakan ponsel yang masih terletak di atas ranjang. Rose memundurkan laju mobil, dia berhenti lalu turun.
Rose kembali ke kamar, suara bunyi ponsel terdengar di seluruh ruang pribadi itu. Dia mengambil lalu melihat layar ponsel yang sedikit bergetar. "Michael" nama yang tertera di kaca bercahaya.
Di dalam sebuah mobil yang melaju, Michael berkata dengan hati yang gelisah. "Tolong jawab Rose! Ku mohon, cepat jawab!"
Sementara Rose yang sudah panik mengingat ancaman dari orang misterius, menolak panggilan dari Michael. Rose kembali ke mobil dengan membawa ponselnya, dia membuka peta untuk menuju ke Hotel Victory.
__ADS_1
^^^BERSAMBUNG...^^^