
Michael segera pergi dari tempat itu, dia tidak bisa menahan amarahnya lebih lama lagi. Jika terus berada di sana, Michael takut dirinya akan membuat kekacuan di depan orang tua Rose. Dia tidak ingin kesan pertama terhadap dirinya, akan menjadi buruk di mata kedua orang tua dari wanita yang dia cintai.
Lily melirik ke arah laki-laki itu, dia tersenyum melihat wajah Michael yang memerah karena marah. "Wah, bakal seru nih!" ucapnya dalam hati.
Sementara itu, Rose yang tidak mengetahui keberadaan Michael di sana, dia sibuk memperkenalkan Junaidy kepada kedua orang tuanya dan juga Lily. Begitu juga Junaidy dia memperkenalkan kedua orang tuanya kepada Rose.
Junaidy menatap Rose, ia lalu berkata kepada wanita itu. "Rose, aku gak nyangka kamu adalah wanita yang ingin dikenalkan oleh Mama kepadaku."
"Sejujurnya, aku berpikir jika Jun itu seorang pekerja di minimarket. Jadi aku lebih kaget saat tau jika anak temannya Mama tuh ternyata kamu!" ucap Rose menyadari kesalahannya.
"Hahaha... Ternyata kalian berdua saling kenal. Jadi Mama gak perlu kenalin lagi deh." sambung Mama Daisy.
Seorang pelayan mendekati meja Rose, pelayan itu membawa beberapa buku di tangannya. "Silahkan di lihat dulu buku menu nya." ucap wanita muda itu sambil meletakkan buku di atas meja.
"Iya, Terima kasih!" jawab Rose.
Rose membagikan buku itu kepada yang lain, meminta mereka untuk memilih makanan yang akan di pesan. Wajah Junaidy tampak tak senang, Rose menyadari perubahan ekspresi di wajah laki-laki itu. Karena penasaran, dia pun bertanya sambil berbisik.
"Kamu kenapa, Jun?"
"Pelayannya itu lho, gak sopan banget! Masa menunya di letakkin gitu aja di meja, bukannya di bagi satu persatu!" keluh Junaidy dengan wajah kesal.
"Hahaha... Kamu ini, ada-ada aja deh! Ku pikir kenapa kok wajahnya jadi bete gitu, rupanya hanya masalah pelayan saja toh!" ujar Rose sambil tertawa.
"Masalah kecil sih, tapi kan gak nyaman dapat pelayanan kaki lima di restoran bintang lima!" keluh laki-laki itu lagi.
"Bener juga ya! Ya udah sabar-sabar aja. Ntar juga pasti ada tamu lain yang kesal sama pelayanan dari dia. Kamu gak usah jadi pemeran jahatnya!" ucap Rose menasehati.
Junaidy menatap Rose dengan tatapan penasaran, karena merasa sedang diperhatikan, Rose bertanya kepada laki-laki itu.
"Kenapa dari tadi liatin aku?"
"Aku sedikit bingung, kamu tuh sebenarnya umur berapa? Kadang-kadang, aku merasa sedang berbincang dengan seorang senior yang lebih tua. Padahal kamu tuh terlihat lebih muda dari pada aku!" jelas Junaidy dengan wajah serius.
"Hehe... Perasaan mu aja kali!" balas Rose dengan hati yang gelisah.
"Peka banget yah si Jun!" benak Rose.
Makan malam berjalan dengan lancar, namun tidak dengan perjodohan. Sebab Rose hanya merasa penasaran, itu sebabnya dia mengikuti keinginan Mama Daisy untuk berkenalan dengan anak dari temannya.
Rose dan keluarga pulang ke rumah, Lily segera menyelinap ke kamar Rose sebelum Kakaknya itu mengunci pintu kamar.
__ADS_1
"Lily, kamu kenapa di sini?" tanya Rose.
"Aku mau bobok bareng Kak Rose!" sahutnya.
"Ya uda, Kak Rose mandi dulu. Kamu bobok duluan aja." ucap Rose yang lalu berjalan menuju ke kamar mandi.
Lily tersenyum licik, dia segera mencari keberadaan ponsel milik Rose. Melihat ponsel itu terletak di atas meja rias, Lily dengan cepat mengambilnya.
"Aku akan menikah dengan pria pilihan Mama."
Lily ternyata mengirim pesan itu ke nomor Michael. Tanpa perlu menunggu lama, ponsel Rose berdering, nama Michael muncul di layar ponsel.
Lily dengan sengaja menolak panggilan dari Michael, membuat laki-laki itu menjadi gelisah dan panik. Tanpa berpikir lagi, Michael segera mengambil kunci mobil. Buru-buru, dia melajukan mobilnya ke rumah Rose.
Berselang 20 menit, mobil Michael sudah tiba di depan rumah Rose. Dia ingin segera menghancurkan pintu rumah, agar bisa langsung menemui wanita itu. Namun niat gilanya dia urungkan, mengingat orang tua Rose saat ini sedang berada di rumah.
Michael akhirnya mencoba menelepon Rose lagi. Baru saja berdering satu kali, sudah terdengar suara dari wanita yang dia rindukan.
"Hallo!"
"Hallo!"
Michael terdiam beberapa saat, dia memikirkan kalimat yang tertulis di pesan yang di kirimkan oleh Rose tadi.
Mendengar Rose memanggil namanya, hati Michael terasa semakin sakit. "Mungkin ini akan menjadi terakhir kalinya aku mendengar Rose memanggil nama ku." benak Michael.
"Mike! Kamu di situ?" suara lembut Rose terdengar bagai sayatan di hati Michael saat ini. Dia berusaha menahan rasa sakit itu, tapi tetap saja hatinya merasa terluka.
"Rose, kamu serius?" tanya Michael dengan perasaan gugup.
"Serius? Apanya?" tanya Rose tak mengerti.
"Kamu... tadi uda ketemu kan sama keluarga dari pria yang bernama Junaidy?" tanya Michael.
"Kenapa Michael bisa tau hal ini?" benak Rose.
"Mike, aku tadi memang ketemu sama orang tua Jun. Tapi...!"
Karena takut mendengar alasan pertemuan itu, Michael segera memotong kalimat Rose. "Rose, aku tidak akan membiarkan laki-laki lain merebut hati mu! Kamu, hanya boleh menjadi milik aku seorang. Milik Michael!"
Rose agak bingung mendengar kata-kata dari Michael, namun dia merasa senang dan bahagia ketika kalimat itu diucapkan oleh laki-laki yang sudah mengisi ruang kosong di hatinya.
__ADS_1
"Rose!" panggil pria itu karena tidak mendengar suara Rose lagi.
"Iya, aku di sini!" jawab Rose sambil tersenyum bahagia.
"Aku mau ketemu sama kamu, sekarang!" pinta Michael dengan nada memerintah.
"Tapi ini sudah jam 12 malam. Besok ajah kita ketemunya." bujuk Rose dengan suara pelan.
"Gak, aku mau ketemu sekarang juga!" Michael tetap kekeh dengan keinginannya. Membuat Rose tak mampu untuk menolak permintaan dari laki-laki itu.
"Ya udah, terserah kamu aja." jawab Rose mengalah.
"Kamu bisa keluar sebentar?" pinta Michael. "Aku di depan rumah kamu sekarang." sambungnya.
"Aku...!" Rose menatap pakaiannya, dia sudah memakai dress putih transparan yang di belikan oleh Mama Daisy.
"Aduh, aku kan malas mau ganti baju lagi!" keluh Rose dalam hati.
"Rose! Cepetan!" ucap Michael dengan suara yang meninggi. Membuat Rose lupa jika dirinya sedang berpakaian tak layak untuk bertemu dengan seorang pria.
Rose berjalan cepat menuju keluar pintu. Lily menatap Kakaknya itu, sejak tadi dia hanya tersenyum sambil mengintip dari balik selimut.
"Rose!" panggil Michael ketika melihat sosok seorang wanita membuka pintu.
Rose berjalan tergesa-gesa menuju ke mobil. Michael dengan sigap membukakan pintu untuknya. Rose pun masuk ke dalam mobil, kini mereka berdua duduk bersampingan di ruangan yang sempit itu.
Mata Michael menuju ke bawah, dia menyadari pakaian Rose yang begitu tipis hingga terlihat semua isi di dalamnya.
"Kenapa?" tanya Rose yang bingung ketika Michael mengalihkan tatapannya ke arah lain.
"Kamu... Lain kali kamu gak boleh pakai pakaian ini di luar rumah!" ucap Michael dengan wajah yang memerah.
Mendengar larangan dari Michael, Rose mengingat kembali jika pakaiannya saat ini sangat memalukan. Dia segera menunduk, berusaha menutupi tubuhnya yang terekspos sejak tadi.
"Ehemmm... Rose, kamu sengaja pakai baju ini buat godain aku ya?" tanya Michael dengan nada malu-malu tapi mau.
Blush
Wajah Rose semakin merah, dia lalu memukul pelan pundak Michael yang terus-menerus meledek dirinya.
Michael menangkap kedua tangan Rose, mereka saling bertatapan. Tanpa sadar, wajah Michael semakin mendekat. Sesaat kemudian, bibir Michael telah melahap bibir indah milik Rose.
__ADS_1
^^^BERSAMBUNG...^^^