Rose Second Life

Rose Second Life
Episode 91


__ADS_3

"Tolong!"


"Tolong... Siapapun, tolong aku! Aku ingin keluar dari sini!"


"Tolong!"


Wilson terus berteriak meminta pertolongan, dengan sisa kekuatan yang dia miliki, dia menggedor dan mendorong pintu. Berharap agar pintu itu terbuka. Namun sayangnya, pintu itu sudah di kunci dengan gembok besi. Sekuat apapun Wilson mendorong dan mendobrak, tidak akan ada gunanya.


Setelah kehabisan tenaga, Wilson duduk di lantai dengan tangan yang terikat rantai besi. Persis ketika dia menjadikan Rose sebagai tahanan di kehidupan sebelumnya. Tetapi, tentu saja Wilson tidak mengingat semua itu. Laki-laki itu kelaparan, tenggorokannya kering dan tubuhnya lemas tak bertenaga.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Michael berada di ruang kerja, Gerry berdiri di sampingnya. "Tuan Muda, sampai kapan anda akan membiarkan Wilson di rumah kosong?" tanya Gerry penasaran. Dia tidak menyangka Tuan Muda yang dia layani bisa berbuat nekad dengan mengurung Tuan Muda dari keluarga Harris.


"Biarkan saja dia di sana sampai akhir hayatnya!" jawab Michael dengan wajah dingin yang membuat Gerry merinding.

__ADS_1


"Tetapi, jika dia tidak makan dan minum. Mungkin ajalnya akan segera tiba." sahut Gerry dengan wajah gelisah.


"Berikan saja dia sisa makanan dari pengawal yang mengawasinya. Minuman, berikan dia air yang dikeluarkan dari tubuh pengawal yang berjaga di depan!" seru Michael sambil menyeringai.


Bulu kuduk Gerry kembali berdiri, meskipun dia sudah lama bekerja untuk Michael, baru kali ini dia merasa jika Tuan Mudanya itu benar-benar jelmaan dari Raja iblis.


Seminggu telah berlalu, Rose sudah di izinkan untuk kembali ke rumah. Dia juga sudah bosan berbaring di rumah sakit tanpa melakukan apa-apa. Waktu masih menunjukkan pukul 8 pagi. Rose baru selesai menghabiskan saraoan yang di bawakan oleh James sebelum laki-laki itu berangkat ke kampus.


Sementara itu, Michael sedang menuju ke rumah sakit, dia berniat untuk mengantar Rose pulang. Ketika dia tiba di rumah sakit, dia melihat Paman Teddy sudah berada di sana. Laki-laki itu datang bersama Nyonya Erna. Keduanya datang dengan maksud yang sama dengan Michael, untuk mengantar Rose pulang ke rumah.


Rose menjadi serba salah, karena dia harus memilih salah satu di antara mereka. "Siapa yang harus aku pilih? Aku tidak ingin siapapun kecewa karena tidak ku pilih. Apa yang harus ku lakukan di situasi seperti ini?" benak Rose.


Pintu kamar di buka dari luar, Rose dan yang lainnya secara reflex menatap ke arah pintu. Papa Hanz dan Mama Daisy masuk ke dalam kamar. Mereka langsung memanggil Rose dan tersenyum manis sambil menatap wajah putrinya.


"Ma, Pa, Selamat Pagi!" sapa Rose yang akhirnya merasa lega. Tidak perlu lagi memilih salah satu di antaranya, karena Rose hanya akan ikut pulang bersama Mama Daisy dan Papa Hanz.

__ADS_1


"Om, Tante!" sapa Michael sambil tersenyum. Melihat kedua orang tua asuh Rose datang, Michael langsung terpikirkan sebuah cara untuk menang tanpa perlu perlawanan.


"Biar Rose pulang bersama saya saja." pinta Michael sambil melirik ke arah Rose. Wanita itu tersenyum lucu, melihat Michael yang terlalu ngebet ingin mengantarnya. Padahal sudah berhari-hari dia menginap di rumah sakit hanya demi menemani Rose.


"Ya sudah, kalau gitu Papa dan Mama mau singgah sebentar ke kantor. Rose jangan nakal yah, jalannya pelan-pelan biar lukanya nggak kebuka lagi." Papa Hanz dan Mama Daisy saling bertatapan, mereka merasa senang karena memiliki calon menantu yang perhatian terhadap Rose.


Paman Teddy dan Nyonya Erna hanya bisa menghela napas panjang, mereka mengantar Rose hingga dia masuk ke dalam mobil milik Michael.


"Dah Pa, Ma. Rose duluan ya." ucap Rose sambil melambaikan tangan. Michael dengan cepat menutup kaca jendela mobil, dia menjalankan mobilnya tanpa pamitan kepada kedua orang tua Rose yang masih berdiri di samping mobil.


Rose mengalihkan tatapannya ke arah Michael, dengan tatapan kesal, Rose melotot ke wajah laki-laki di sampingnya.


"Kenapa?" tanya Michael yang masih menatap lurus ke depan.


"Kamu tuh yang kenapa!? Kenapa kamu selalu bersikap kasar dan nggak sopan di depan Mama dan Papa?" tanya Rose dengan nada meninggi. Dia tidak bisa lagi mentolerir sikap kasar Michael terhadap Papa dan Mama kandungnya.

__ADS_1


Michael menginjak rem secara tiba-tiba, kening Rose hampir saja terantuk dashboard mobil di depannya. Rose semakin kesal dan marah atas sikap Michael yang seperti itu. Dia berbalik ke samping dan menatap Michael dengan mata yang melotot.


^^^BERSAMBUNG...^^^


__ADS_2