
"Hari ini aku membeli semua tiket penerbangan yang tersisa. Sama seperti saat James hampir tertabrak, aku yakin ledakan pesawat pasti akan terjadi persis seperti masa lalu yang aku ingat.
Aku sangat ingin mencegahnya, namun tidak banyak yang bisa ku lakukan dengan kondisiku sekarang.
Jika melaporkan hal ini ke pihak yang berwenang, aku pasti akan di curigai sebagai dalang. Jika aku mencegah semua orang naik ke pesawat itu, aku akan di anggap sebagai orang gila atau kemungkinan terburuknya adalah aku akan di incar oleh pelaku.
Satu-satunya hal yang bisa aku lakukan hanya mengurangi jumlah korban. Meski harus mendengar omelan Papa dan Mama nantinya, aku tetap membeli semua sisa tiket itu dengan kartu kredit Papa yang masih ada di tanganku.
...----------------...
"Apa yang aku baca ini?" ucap Michael sambil memijit keningnya yang terasa sakit.
"Rose... Bagaimana kamu bisa tau hal ini? Apa maksudnya masa lalu? Jika orang lain membaca tulisan ini, orang itu pasti akan mengira jika Rose berasal dari masa depan, tapi apakah itu mungkin?
Aku harap kamu bisa jujur menceritakan semuanya kepadaku setelah kamu bangun nanti." ucap Michael yang saat ini menatap wajah Rose dengan sangat penasaran.
Kepala Michael terasa sakit karena memikirkan banyak hal. Dia kembali fokus ke buku yang berada di tangannya. Michael membuka lembar selanjutnya, pria berwajah dingin ini kembali dikejutkan oleh cerita yang tertulis di buku diary itu.
Entah sudah berapa lama aku terkurung di tempat itu, aku merasa sesak karena setiap hari harus melihat dalam kegelapan. Sinar matahari yang terbit setiap pagi bahkan tidak pernah masuk karena ruangan itu dikelilingi oleh dinding-dinding tanpa jendela.
Aku ingin keluar, aku ingin melihat cahaya yang bersinar setiap pagi. Aku tidak ingin terus berada di ruang gelap itu.
Sesaat aku merasa menderita karena terkurung di sana, tanpa ku sadari penderitaan yang sebenarnya adalah saat aku di seret keluar dari tempat gelap itu.
Dua orang laki-laki datang ke tempat di mana aku di kurung, aku di tarik keluar dari ruangan itu. Sampai di luar, aku di paksa untuk masuk ke dalam sebuah mobil hitam yang terparkir di samping gedung.
__ADS_1
Aku di bawa ke sebuah bar yang lokasinya cukup jauh dari gedung tempat aku di kurung, setelah di turunkan di tempat itu, dua orang wanita yang ada di sana diperintahkan untuk mengurusi tubuhku yang dekil dan terlihat seperti pengemis.
Beberapa saat aku diikat di sebuah kamar yang berukuran cukup luas, seorang wanita membuka pintu kamar, wanita itu masuk ke dalam kamar bersama seorang rekannya.
Vinny, salah satu wanita yang berada di ruangan itu membuka paksa baju yang ku kenakan, setelahnya mereka mendorong tubuhku yang kurus ke dalam bak air yang sudah di siapkan dalam kamar mandi.
Saat-saat itu, rasanya aku sangat terhina dan menyedihkan. Tapi apapun yang aku rasakan, semua itu hanya bisa ku pendam dalam hati. Aku mengubur perasaan malu dan hina itu, aku tidak ingin memikirkan apapun kecuali bertahan untuk melalui semua penderitaan ini.
Selesai dimandikan, aku di rias oleh kedua wanita itu. Vinny bertugas untuk merias wajah dan rambutku, rekannya Felicia mencari gaun yang cocok untukku.
Saat itu, aku merasa sangat gelisah. Rasa cemas yang tiba-tiba terlintas di pikiran membuat tubuhku gemetaran. Aku takut, sangat-sangat takut hingga kedua kaki ini terasa lemas tak bertenaga.
Setelah mereka puas dengan hasil kerja mereka yang berjam-jam lamanya, Vinny membawa ku ke sebuah kamar mewah yang terletak di lantai paling atas.
"Tunggu di sini dan jangan banyak tingkah!" perintah Vinny yang saat itu hendak meninggalkan ruangan.
Beberapa saat aku ditinggal hingga akhirnya seseorang membuka pintu kamar. Laki-laki tua berperut buncit masuk ke dalam kamar, dia kelihatan seperti sedang mabuk.
Berulang kali pria buncit itu hampir terjatuh ketika berjalan sempoyongan ke arahku. Aku ketakutan karena rasa gelisahku yang saat ini menjadi kenyataan. Aku kembali dihadapkan dengan pria hidung belang yang tentunya adalah hadiah dari Luna.
Aku berlari ke sana sini di dalam kamar hanya untuk menjauh dari pria buncit yang menyebut dirinya sebagai Tuan Rolan. Entah berapa lama kejar-kejaran itu berlangsung sampai pintu kamar kembali dibuka oleh seseorang.
Aku menatap ke arah pintu, Wilson sedang berdiri di sana dengan wajah yang di selimuti amarah. Sedetik kemudian, Luna juga terlihat berdiri di sana.
"Berhenti disana!"
__ADS_1
Luna membentak Wilson yang hendak mendatangiku.
"Kau lah yang harus berhenti! Dasar perempuan gila!" ucap Wilson membalas bentakan Luna.
Pertengkaran pun terjadi di dalam kamar itu, baik Wilson maupun Luna sama-sama tidak ada yang mengalah. Mereka saling membentak dan membalas perkataan kasar yang dilontarkan oleh pasangannya.
Ketika Luna kehabisan kata-kata, dia menatapku dengan mata yang penuh dendam dan amarah. Aku tidak tau kenapa Luna begitu membenciku, aku bahkan tidak ingat pernah berbuat salah kepadanya.
Kini Wilson menggenggam tanganku, laki-laki itu menarik aku keluar dari kamar. Luna di tinggalkan di sana bersama pria buncit yang telah tertidur lelap karena mabuk.
Luna mengejar kami, dia menahan pintu mobil yang hendak di tutup oleh Wilson setelah memaksa ku masuk.
Luna kembali membentak dan berteriak, tapi kali ini bentakannya di tujukan kepadaku. Wanita itu menyebutku ja*ang yang telah merebut suaminya, dia kemudian menjambak rambut panjangku yang sudah mencapai pinggang.
Wilson terlihat sangat marah ketika melihat Luna memperlakukan aku dengan kasar, laki-laki itu menarik lengan Luna dari rambutku yang sudah acak-acakan.
Beberapa kali Luna memberontak untuk melepaskan diri dari Wilson, dan setelah cengraman Wilson terlepas, wanita itu kembali menyerangku dengan high heels yang dia pakai.
Aku merintih kesakitan saat high heels miliknya mendarat di perutku. Berkali-kali dia menendang tepat ke arah perutku. Tak lama kemudian aku pun pingsan karena tidak sanggup lagi menahan rasa sakit itu.
Saat aku tersadar, aku sudah berada di sebuah kamar rumah sakit. Wilson duduk di sebelah ranjang tempat aku berbaring. Laki-laki itu sedang menatap sebuah foto hasil USG di tangan nya.
Saat itu, raut wajah Wilson terlihat sedih. Meskipun penasaran, aku tidak berani bertanya kepada laki-laki itu. Aku memilih untuk diam dan melanjutkan tidurku.
Sehari setelah itu, Luna mendatangi rumah sakit. Wajah Luna terlihat memar, keningnya terbalut perban putih yang rapi. Aku mengira jika Luna ke rumah sakit untuk berobat, namun ternyata dia kembali memaki dan berteriak di kamar tempat aku di rawat.
__ADS_1
^^^BERSAMBUNG...^^^