
Nyonya Erna berjalan mendekat, dia bertanya kepada Michael, "Nak, kamu mau makan bersama Tante?"
Michael menoleh ke arah Nyonya Erna, dengan tatapan mata yang kosong ia menjawab, "Saya belum lapar, Tante makan duluan aja."
"Tapi kamu kan belum makan apa-apa dari tadi." ucap Nyonya Erna.
"Nggak pa-pa Tante, saya makannya nanti aja kalau Rose udah bangun." jawab Michael.
Nyonya Erna menghela nafas, memang sulit untuk membujuk orang yang sedang di landa kesedihan.
"Ya udah, kalau gitu Tante mau beli makan malam dulu ya." ucap Nyonya Erna.
Tanpa menunggu jawaban dari Michael, Nyonya Erna melangkah keluar dari kamar. Sekilas tatapan Michael terlihat penuh dengan kebencian. Namun tatapan itu kembali lembut saat ia menatap wajah Rose.
"Kenapa harus keluarga Yun?" tanya Michael dalam hatinya.
Peman Teddy kembali ke rumah sakit setelah meeting nya selesai. Dia mengajak Nyonya Erna untuk menjenguk Rose di kamarnya yang tentunya masih ada Michael di sana.
"Ma, Rose udah bangun?" tanya Paman Teddy.
Nyonya Erna menggelengkan kepala, "Belum Pa, sepertinya obat yang di resepkan dokter buat tidur Rose jadi lelap."
Sambil melangkah, kedua pasangan paruh baya itu akhirnya tiba di kamar bernomor 308.
"Tok Tok Tok!"
Nyonya Erna mengetuk beberapa kali sebelum masuk. Tentunya beliau langsung membuka pintu setelah mengetuk tanpa menunggu jawaban dari Michael.
Michael menoleh ke arah Paman Teddy dan Nyonya Erna, dia kemudian berdiri secara perlahan karena kakinya sudah mati rasa akibat terlalu lama berlutut.
"Tolong jelaskan apa yang terjadi pada Rose!" pinta Michael dengan wajah dan nada yang tidak menyenangkan.
Paman Teddy balik bertanya, "Maaf, tapi anda ini siapa?"
"Saya Michael, calon suami Rose!" jawab Michael masih dengan tatapan yang tidak menyenangkan.
"Nak Michael, sebenarnya kami juga tidak tau apa yang terjadi pada Rose." jelas Nyonya Erna dengan ramah dan wajah yang menyesal.
Nyonya Erna menceritakan kembali kejadian sebelum Rose di bawa ke rumah sakit.
FLASHBACK
__ADS_1
Nyonya Erna menemani Rose hingga tertidur di kamarnya, beliau kemudian menelepon Paman Teddy agar tidak mendatangi kamar Rose karena Nyonya Erna tidak ingin tidur Rose terganggu.
Setelah beberapa menit berlalu, Rose yang tertidur lelap tiba-tiba saja terbangun dengan jeritan histeris. Rose mengigau, dia mengucapkan kata "maaf" berkali-kali hingga akhirnya dia pingsan.
Nyonya Erna cemas melihat keadaan Rose, beliau segera memanggil Paman Teddy yang saat itu sedang membaca dokumen di teras kamarnya. Begitu melihat Rose yang berkeringat dingin, Paman Teddy langsung memanggil ambulance untuk memeriksa kondisi kesehatan Rose.
Sesampainya di rumah sakit, Dokter yang merawat Rose tidak menemukan penyakit yang menyebabkan Rose mengigau hingga pingsan, Dokter akhirnya memberi obat penenang agar Rose bisa tidur lelap.
Paman Teddy merasa cemas jika terjadi sesuatu kepada Rose di saat mereka bersamanya, itu sebabnya Paman Teddy mencari nomor telepon yang paling sering di hubungi oleh Rose akhir-akhir ini.
"Michael", nama itu yang paling sering muncul di log ponsel Rose. Paman Teddy segera menghubungi nomor ponsel Michael namun sambungan telepon nya terputus ketika ponsel Rose kehabisan baterai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Hanya itu yang bisa Tante jelaskan, karena kami juga tidak tau penyebab penyakit Rose." jelas Nyonya Erna.
Michael terdiam, dia bertanya-tanya dalam pikirannya.
"Apakah penyakit Rose kambuh lagi?
Tapi kenapa? Apa sebabnya?
Kepada siapa kata maaf itu di tujukan?
Apakah Rose adalah pelaku yang menyebabkan meledaknya pesawat tadi sore?"
Ya Tuhan... Apa yang sedang aku pikirkan? Mana mungkin Rose dalang di balik ledakan pesawat itu. Gara-gara ucapan Gerry, aku jadi mencurigai Rose. Tidak, tidak mungkin Rose pelakunya. Aku yakin pasti bukan Rose pelakunya. Dia tidak akan pernah melakukan hal sekejam ini."
Paman Teddy mengejutkan Michael dengan tiba-tiba menepuk bahunya.
"Michael, apa yang sedang kamu pikirkan hingga tidak mendengar panggilan kami?" ucap Paman Teddy.
Michael tampak tak suka dengan sentuhan Paman Teddy, dia menatap pria paruh baya itu dengan tatapan benci dan jijik. Di sapunya bahu yang di tepuk oleh Paman Teddy beberapa kali seolah ingin menghilangkan bekas kotoran di sana.
"Saya akan membawa Rose kembali ke kota X. Kalian boleh pergi sekarang!" ucap Michael dengan wajah dingin.
Paman Teddy dan Nyonya Erna saling menatap, mereka bingung dengan keputusan yang di ambil Michael secara sepihak.
"Nak Michael, kami yang sudah membawa Rose ke kota ini, maka kami juga yang akan mengantarkan Rose kembali ke kota X. Itu adalah bentuk tanggung jawab kami!" ucap Nyonya Erna menolak keputusan Michael.
"Saya cuma kasih tau, bukan minta izin dari kalian!" sahut Michael dengan nada kesal.
__ADS_1
"Tapi..."
"Nggak ada tapi-tapi. Tolong pergi dari sini sekarang juga!" bentak Michael memotong pembicaraan Paman Teddy.
"Sudahlah Pa, kita ngalah aja biar Rose nggak terganggu istirahatnya yah..." bujuk Nyonya Erna.
Mendengar bujukan dari Nyonya Erna, Paman Teddy akhirnya mengalah. Mereka kembali ke hotel Angkasa setelah memberikan kunci kamar hotel milik Rose kepada Michael.
"Barang-barang Rose masih ada di hotel. Tolong di jemput sebelum kalian kembali ke kota X. Ada banyak barang yang Rose beli tadi. Dia pasti nggak mau barangnya ketinggalan di sini." pinta Nyonya Erna.
Nyonya Erna masih bersikap sopan dan ramah terhadap Michael meskipun pria itu sudah bersikap kasar. Bukan karena beliau takut, bukan juga karena beliau tidak memiliki amarah, namun itu di sebabkan karena Nyonya Erna tau perasaan Michael yang tulus untuk Rose.
Nyonya Erna menghargai juga mengerti perasaan Michael dan amarah pria itu karena wanita yang dia cintai kini terbaring lemah di rumah sakit di saat wanita itu pergi bersama mereka.
Pastinya Michael merasa tidak senang dengan keberadaan orang yang membuat kekasihnya tidak sadarkan diri. Meskipun itu bukanlah salah Paman Teddy ataupun Nyonya Erna.
Nyonya Erna menganggap sikap Michael terhadap mereka hanyalah bentuk rasa tidak suka karena Rose masuk rumah sakit. Namun sebenarnya, ada alasan lain di balik kebencian Michael terhadap mereka. Lebih tepatnya, Michael sangat membenci keluarga Yun.
Michael mengambil ponselnya, ia menelepon Gerry yang sedang menunggunya di parkiran mobil.
"Bawakan baju ganti untukku!" pinta Michael begitu Gerry menjawab telepon.
"Baik!" jawab Gerry.
Dalam beberapa menit saja Gerry sudah tiba di sana dengan membawa tas berisi pakaian Michael.
Michael masuk ke kamar mandi yang ada di dalam kamar itu, dia melepas rasa lelahnya dengan mandi di bawah guyuran air hangat.
Suara percikan air ke dinding kamar mandi membuat Rose bermimpi tentang masa lalunya.
"Dingin...!
Tolong keluarkan aku!
Aku mohon, tolong keluarkan aku dari sini!
Dingin sekali...
Aku mohon...."
^^^BERSAMBUNG...^^^
__ADS_1