Rose Second Life

Rose Second Life
Episode 13. Bertemu Mama dan Papa Hoffmann


__ADS_3

"Tenangkan dirimu. Cepat mandi dan ganti pakaian! Aku akan membawamu ke suatu tempat." ucap Michael dengan suara yang lebih lembut. Dia tidak ingin kejadian semalam terulang lagi.


Rose masih diam sambil memegang erat gunting di tangannya, dia menatap Michael dengan sikap waspada.


Michael tahu gadis itu takut padanya, dia keluar dari kamar setelah berkata, "Waktumu 10 menit!"


Rose menarik napas yang sejak tadi ditahan olehnya, dia merasa lega karena lelaki itu telah keluar dari kamar.


Tanpa sadar dia menuruti perintah Michael. Rose masuk ke kamar mandi, perlahan ia membersihkan tubuhnya yang penuh luka dengan handuk putih dan air hangat.


Rose mengenakan baju kaos putih dengan celana karet yang lebar. Dia keluar dari kamar setelah mengikat rambutnya dengan membawa sebuah tas yang menyimpan gunting di dalamnya.


"Kamu telat 12 menit!" ucap Michael saat melihat Rose keluar dari kamar.


Rose menatap Michael dengan tatapan kesal. "Dasar sok ngatur!" batin Rose.


"Ikut aku!" perintah Michael sambil melangkah menuju pintu keluar.


Gerry telah menunggu di depan pintu, dia membawa mobil hitam milik Michael. Gerry membuka pintu di belakang mobil untuk Michael dan Rose, dia menutup kembali saat mereka sudah duduk di dalam mobil.


"Singgah dulu di rumah!" perintah Michael pada Gerry yang menjadi supir.


"Baik Tuan muda." jawab Gerry sambil melajukan mobil.


15 menit kemudian mereka memasuki sebuah pagar besi yang di kelilingi pohon-pohon cemara, rumput hijau dan beberapa tanaman bunga menghiasi taman di sana.


Mobil dilajukan dengan pelan, Rose melihat ke kanan kiri tempat itu dengan terkagum-kagum. "Tempat yang sangat indah." batin Rose.


Setelah 2 menit berjalan memasuki taman, terlihat sebuah bangunan mewah yang besar bagai istana. Gerry menghentikan mobil di depan pintu yang sangat tinggi dan besar. Beberapa pelayan keluar menyambut Tuan muda mereka.


"Turun!" ucap Michael sebelum dia keluar dari mobil.


Seorang pelayan laki-laki membuka pintu mobil di samping Rose, "Silakan Nona..." ucap pelayan dengan sedikit membungkuk.


Rose menatap pemandangan di depannya dengan wajah bingung, dia menelan air liurnya. "Apakah ini dunia dongeng?" benak Rose.


Saat Michael berjalan sampai di depan pintu, dia membalikkan badannya ke arah Rose yang masih duduk terbengong di kursi mobil. Dengan wajah datar dia berkata, "Turun sendiri atau perlu ku bantu?"


Rose segera tersadar dari lamunannya, dia turun dari mobil dan berjalan mengikuti langkah Michael.

__ADS_1


Orang tua Michael sudah duduk menunggu putra mereka. Sebelumnya Michael sudah menelepon Mama Hoffmann, dia memberi kabar bahwa pagi ini akan pulang membawa calon istrinya.


Mama Hoffmann sangat senang mendengar kabar baik itu, dia segera memerintahkan koki untuk memasak banyak makanan enak demi menyambut calon menantu.


Mama Hoffman segera berdiri menyambut Rose saat melihat gadis cantik itu datang bersama Michael, dia senang putranya yang di kira gay kini telah memiliki calon pendamping.


"Hallo nak, kamu pasti calon istri Mike ya?" tanya Mama Hoffmann tanpa basa basi.


Rose mengerutkan dahinya, "Calon istri?" benaknya.


"Sejak kapan aku jadi calon istri kamu?" bisik Rose dengan suara yang sangat kecil.


"Kenalin Ma, Pa, ini Rose calon istri saya." ucap Michael tanpa memperdulikan pendapat Rose.


Mama dan Papa Hoffmann tersenyum lebar hingga menampakkan deretan gigi mereka yang rapi.


Rose menjadi salah tingkah, entah apa yang harus dia lakukan untuk menghadapi kebohongan Michael.


"Selamat pagi Om, Tante." ucap Rose sambil menunduk sedikit kepalanya.


"Mari sini duduk di samping Tante." ajak Mama Hoffmann dengan semangat 45.


Sarapan pagi itu dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan bertubi-tubi oleh kedua orang tua Michael.


Walaupun Mama dan Papa Hoffmann menyukai Rose pada pertemuan pertama, mereka harus mengetahui latar belakang calon menantunya.


Selesai sarapan Michael pamit, dia menggenggam tangan Rose dan membawanya ke mobil. Gerry dengan setia menunggu di depan pintu.


Rose menatap Michael dengan wajah kesal, "Sejak kapan aku setuju menjadi calon istrimu?"


"Sejak kita tidur bersama." jawab Michael singkat.


"Aku tidak akan pernah menjadi istri mu!" ucap Rose dengan nada marah.


"Lalu kenapa kamu tidak berkata seperti itu saat di depan orang tua ku?" Michael menatap Rose dengan senyum dingin di wajahnya.


"Aku hanya menjaga perasaan Om dan Tante, tidak berarti aku setuju untuk menjadi calon istrimu!"


Michael terlihat marah, wajahnya yang memang sudah dingin menjadi lebih dingin lagi saat ini. Dia mendekat ke arah Rose, dengan nada meremehkan dia berkata, "Semua wanita berusaha menggoda ku, tapi sekarang kamu bilang tidak ingin menjadi istri ku? Hmm!

__ADS_1


"Jangan terlalu meninggikan dirimu, aku sudah mengalah dengan memberi mu status sebagai istri ku. Di nilai dari keadaan sekarang, kamu bahkan tidak pantas menjadi simpanan seorang Michael Prince Hoffmann."


Wajah Rose memerah, amarahnya kini memuncak hingga ke ubun-ubun. Pria ini sudah menghina dan menginjak-injak harga dirinya dengan sangat rendah.


Namun tidak ada kata-kata yang bisa dia ucapkan untuk melawan perkataan yang di lontarkan Michael, karena hidupnya memang sangat rendah dan kotor sebelum dia terlahir kembali.


Michael tersenyum sinis melihat Rose tidak bisa melawan perkataannya, dia menjauhkan diri dari Rose dan membenarkan posisi duduknya.


Michael membawa Rose untuk menemui seorang Dokter Psikiater yang ternama. Rose hanya menurut tanpa bertanya apapun, karena dirinya tahu seperti apa sifat Michael.


Walaupun dia bertanya, pria itu hanya menjawab dengan singkat tanpa memberi penjelasan. Lebih baik dia menghemat tenaga dari pada melawan pria arogan di sampingnya.


Dokter Frans telah menunggu mereka di ruang kerja, dia mempersilahkan Michael dan Rose duduk di sebuah sofa panjang.


"Coba ceritakan apa yang terjadi pada pasien!" ucap Dokter Frans memulai pemeriksaan.


Gerry berdiri di samping, dia mulai menceritakan tingkah laku Rose yang secara berulang mengucapkan kalimat sama dengan tangisan histeris.


"Maaf, apakah Nona ini pasien yang di maksud?" tanya Dokter Frans sembari menatap Rose.


"Betul!" jawab Michael.


Rose menatap Michael dan Gerry secara bergantian, dia tidak tahu apa yang salah pada dirinya. Rose bahkan tidak menyadari perilaku histerisnya semalam.


Dokter Frans melanjutkan pertanyaan nya, "Apakah anda pernah mengalami peristiwa yang sulit di lupakan? atau peristiwa itu secara berulang muncul di mimpi anda?"


"Apa yang harus ku jawab? Tentu saja pernah, tapi itu kehidupan masa lalu ku. Tidak mungkin aku mengatakan bahwa aku terlahir kembali setelah meninggal di usia 28 tahun. Bisa-bisa aku di anggap benaran gila." batin Rose.


"Nona Rose..."


Dokter Frans memanggil karena melihat Rose termenung tidak menjawab. Rose segera tersadar dari lamunannya.


"Tidak, tidak pernah!" jawab Rose dengan wajah panik.


Dokter Frans dapat melihat jika Rose sedang berbohong. Maklum saja karena Dokter Frans memang ahli psikiater yang sudah menangani banyak pasien. Pria itu dapat melihat kebohongan pasien melalui tingkah laku dan tatapan mata mereka.


"Maaf, sepertinya saya harus berbicara berdua dengan pasien." ucap Dokter Frans kepada Michael.


^^^BERSAMBUNG...^^^

__ADS_1


__ADS_2