
Pesawat lepas landas tepat jam 12 siang, pramugari memberikan beberapa informasi penting untuk keselamatan para penumpang.
Kota H
Pesawat mendarat dengan mulus di lapangan udara internasional Kota H. Penumpang turun dari pesawat secara bergiliran meskipun ada beberapa penumpang yang masih tidak sabar hendak menyelip antrian.
Seorang pria tinggi berkaca mata menghampiri tempat mereka bertiga berdiam diri menunggu seseorang.
"Perkenalkan, nama saya Ivan. Saya ditugaskan untuk mangantarkan Tuan Teddy ke hotel Angkasa." ucap pria itu sembari memberikan selembar kartu nama.
Paman Teddy menerima kartu nama yang diberikan oleh Ivan, ia melihat kartu itu sejenak sebelum ia masukkan ke dalam kantong kemeja.
"Barang barangnya sudah lengkap semua?" tanya Ivan.
"Iya, udah semua disini." jawab Paman Teddy.
Kami berjalan mengikuti langkah kaki Ivan ke arah parkiran mobil. Sebenarnya Ivan meminta kami untuk menunggu saja di depan pintu keluar, namun Paman Teddy dan Nyonya Erna bersikeras untuk ikut berjalan ke parkiran.
Sebuah mobil Van putih sudah menunggu dengan Ac yang menyala, sengatan matahari membuat cuaca di kota H terasa panas. Dengan cepat aku masuk ke dalam mobil untuk menyejukkan kulitku yang terbakar sinar matahari.
Paman Teddy dan Nyonya Erna ikut naik ke mobil setelah selesai memastikan semua barang bawaan masuk ke dalam bagasi mobil.
"Panas banget ya di Kota H." keluh Nyonya Erna.
Paman Teddy hanya tersenyum kecil sambil mengipasi istrinya yang kegerahan.
"Tuan, Nyonya dan Nona silahkan minum dulu. Ada minuman kaleng di dalam laci mobil." ucap Ivan yang duduk di sebelah supir.
"Makasih." jawab Rose riang.
Tanpa ragu Rose membuka laci dan mengambil satu kaleng soda dingin, tak lupa dia menawari Paman Teddy dan Nyonya Erna yang juga kelihatan hendak melepas dahaga.
"Di sini kok panasnya nggak kira-kira gini yah? Duh... Tau gini aku nggak mau deh ikut ke sini." keluh Rose dalam hati.
Mobil berjalan keluar dari parkiran menuju ke salah satu pintu Tol. Ivan menyalakan radio untuk memecahkan suasana sepi di dalam mobil.
"Selanjutnya akan kami laporkan kecelakaan pesawat yang menyebabkan pesawat meledak di kota X."
"Ya Tuhan... Ternyata pesawat itu masih saja meledak sesuai dengan ingatanku." gumam Rose.
Rose menatap jam tangan yang terlilit di lengan kirinya. saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 14.38 Wib.
"Tepat di jam yang sama!" batin Rose.
__ADS_1
Entah berapa lama Rose tenggelam dalam pikirannya, mobil yang mereka tumpangi kini sudah memasuki parkiran Hotel Angkasa.
Ivan dan supir menurunkan koper dan tas bawaan, Paman Teddy dan Nyonya Erna langsung menuju lobby hotel diikuti oleh Rose yang masih merasa bersalah dengan berita kecelakaan pesawat.
"Seandainya aku bisa menghentikan kecelakaan itu..."
"Seandainya aku bisa mencegah semua orang untuk naik ke pesawat..."
"Seandainya aku memiliki kekuasaan untuk mencegah pesawat itu beroperasi..."
Rose menangis histeris di dalam kamarnya, ia menyesali dan merasa sangat bersalah terhadap para korban jiwa yang meninggal karena ledakan pesawat.
"Aku sudah mengetahui masa depan yang akan terjadi, tapi apa gunanya jika aku bahkan tidak mampu menyelamatkan nyawa orang orang itu?" gumam Rose dengan suara isak tangisnya.
Sementara itu Paman Teddy dan Nyonya Erna sedang mendengar berita kecelakaan pesawat di televisi dalam kamar.
"Astaga Pa... Untung saja kita tidak berada di pesawat itu." ucap Nyonya Erna yang terkejut mendengar berita kecelakaan pesawat.
Paman Teddy ikut terkejut dengan berita yang baru saja mereka dengar, namun ia langsung mengingat ucapan Rose yang berusaha menghalangi kedatangannya ke kota H.
"Ma, ini semua berkat Rose. Jika Rose tidak meminta untuk ikut kesini, Mama dan Papa sekarang pasti terkena musibah karena berada di pesawat yang meledak itu."
"Apa maksudnya Pa?" tanya Nyonya Erna.
"Berarti Rose gang sudah menyelamatkan nyawa kita Pa?" tanya Nyonya Erna memastikan.
Paman Teddy mengangguk, "Rose penyelamat kita Ma, jadi kita harus membalas kebaikan gadis muda itu."
"Pa... Mama ke kamar Rose sebentar ya." ucap Nyonya Erna.
"Ya udah, kalau gitu Papa mandi dulu. Mama temenin Rose aja nanti Papa kesana kalau sudah siap mandi." ucap Paman Teddy.
"Ting Tong...!"
Rose terperanjat mendengar suara bel pintu kamar, dengan cepat ia menghapus air mata yang sudah keluar entah berapa banyak.
Rose membuka pintu kamar, ia menundukkan wajah agar matanya yang bengkak tidak kelihatan.
"Rose, Tante mau mengucapkan terima kasih..."
Ucapan Nyonya Erna terputus, ia kaget melihat wajah Rose yang sembab. Meski Rose sudah berusaha menutupinya, wajahnya yang baru saja menangis masih terlihat jelas di mata Nyonya Erna.
"Rose, kamu nangis nak? Ada apa?" tanya Nyonya Erna setelah meraih punggung Rose kemudian memeluk sambil menepuk ringan punggungnya.
__ADS_1
"Tante..." panggil Rose dengan suara lemah.
"Iya, Tante disini." jawab Nyonya Erna yang masih menepuk ringan punggung Rose.
"Tante..." sebut Rose lagi dengan air mata yang kembali berlinang.
"Ya... Tante disini." jawab Nyonya Erna lagi.
"Hiksss..." Rose kembali menangis histeris. Dia membalas pelukan dari Nyonya Erna dan menangis lama tanpa menjelaskan apapun.
Nyonya Erna hanya diam mendengarkan tangisan gadis muda yang saat ini ada di dalam pelukannya, sesekali ia mengelus kepala Rose dengan oenuh kasih sayang.
"Hatiku terasa sakit, perih mendengar tangisan Rose. Apa yang sebenarnya terjadi padamu Rose?" tanya Nyonya Erna dalam pikirannya.
Lelah menangis, Rose akhirnya tertidur lelap begitu ia merebahkan diri di atas ranjang.
Nyonya Erna mengambil ponselnya, ia mengirim pesan kepada Paman Teddy agar tidak datang ke kamar Rose.
Paman Teddy yang membaca isi pesan hanya bisa bertanya tanya dalam hatinya, "Ada apa ya?" Meskipun penasaran, Paman Teddy hanya menurut apa kata istrinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Perusahaan Internasional H.M
Michael membaca kembali pesan dari Rose yang sudah dia abaikan sejak tadi pagi. Ingin rasanya Michael menelepon untuk segera mendengar suara wanita yang dia rindukan seharian ini.
Beberapa kali Michael menekan tombol cepat untuk menelepon Rose namun dengan segera dia membatalkan telepon sebelum terdengar suara deringan.
"Sial! Aku sangat marah tadi, tapi saat ini aku sudah merindukan suara dan wajahnya." keluh Michael yang berada sendirian di dalam ruang kerjanya.
"Apa dia baik baik saja?"
"Apa dia bersenang senang di sana?"
"Apa dia makan tepat waktu di sana?"
Pikiran Michael dipenuhi berbagai macam pertanyaan yang membuat dia semakin merindukan Rose.
"Tok Tok Tok!"
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Michael, Gerry masuk membawa makan siang untuk bos nya itu meskipun hari sudah sore.
^^^BERSAMBUNG...^^^
__ADS_1