
"Iya, saya yang pesan." ucap Rose. Wanita itu lalu masuk ke dalam mobil setelah berpamitan dengan dua Pak satpam yang sedang duduk di dalam pos jaga.
"Mbak mau ke Restoran Neo One ya?" tanya pria itu memastikan tujuan penumpangnya.
Rose berpikir sejenak, ia kemudian menjawab, "Iya benar Mas, kita langsung ke sana aja ya."
"Baik Mbak!" jawabnya dengan cepat.
Mobil pun melaju dengan lancar ke tempat tujuan karena jalanan yang sudah mulai sepi. Begitu tiba di tempat, Rose menyerahkan dua lembar uang 50 Ribu sambil berkata, "Makasih banyak ya Mas!" dia lalu turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam restoran.
Rose menoleh ke segala arah untuk menemukan tempat duduk favoritnya, namun matanya terpaku ketika melihat sosok yang ia kenal. Seorang pria duduk di meja pojok bersama seorang wanita yang juga tidak asing baginya.
Rose berjalan mendekati meja itu, "Paman! Tante!" panggilnya ketika ia sudah memastikan jika penglihatannya tidak salah.
Pria dan wanita itu menatap ke arah Rose secara bersamaan, "Hai Rose!" ucap mereka begitu melihat wajah yang mereka kenal.
"Sendirian?" tanya Tante Erna.
"Iya Tan, Rose datang sendirian." jawab Rose sambil mengangguk.
"Oh, kalau gitu gabung aja sama kita ya, Pa!" ajak Tante Erna dengan senyum ramah.
Rose sedikit tidak enak hati menjadi nyamuk di antara kedua pasangan itu. Dia lalu bertanya, "Rose boleh gabung di sini? Apa nggak ganggu kencan Paman dan Tante nantinya?"
"Ya nggak dong, Tante malah senang kalau Rose temenin makan malam. Kencan nya udah waktu masa muda, kalau sekarang sih cuma makan malam bersama. Bener kan Pa?"
Nyonya Erna menyenggol lengan suaminya agar membuka suara untuk membujuk Rose.
"Iya iya, nggak ganggu kok Nak Rose. Paman juga senang kalau Rose mau makan bareng sama Paman dan Tante!" ucap Pria paruh baya itu.
"Kalau gitu Rose duduk di sini yah!" ucap Rose, dia lalu duduk di kursi yang bersebelahan dengan kursi Nyonya Erna.
"Mbak, pinjam menunya boleh?" tanya Rose ketika melihat seorang pelayan berdiri di sampingnya.
"Iya Mbak, sebentar saya ambilkan." jawab pelayan itu.
"Rose, kamu sering makan di sini?" tanya Tante Erna.
__ADS_1
"Nggak Tan, Rose baru pertama kali makan di sini." jawabnya.
Rose berkata dalam pikirannya, "Aku sudah sering makan di tempat ini, tapi di kehidupan yang lalu."
Pelayan mengantarkan buku menu, Rose menerima buku itu sambil berkata, "Terima Kasih, Mbak!"
"Aku ingat makanan yang paling enak di sini tuh nasi goreng ikan asin! Tapi aku kan nggak boleh langsung pesan makanan tanpa melihat menu, ntar malah ketahuan kalau aku udah pernah makan di sini." batin Rose.
"Rose, kamu mau cobain punya Tante? Ini makanan yang paling enak lho di sini!" ucap Tante Erna sambil menyodorkan nasi di depan bibir Rose.
"Ma! Jangan gitu dong! Rose kan jadi nggak nyaman kalau mama kasih makan pakai sendok yang sama!" tegur Paman Teddy.
"Hap!"
Rose membuka mulut, dia lalu melahap nasi yang di sodorkan tepat di depan nya.
"Ini kan nasi goreng ikan asin! Ternyata selera Tante Erna sama dengan selera ku!" pikir Rose.
"Rose, kamu nggak perlu memaksakan diri untuk menyenangkan Tante!" ucap Paman Teddy.
"Seandainya putri ku masih hidup, aku pasti akan sering menyuapi dia seperti ini! Aku sangat berharap untuk bisa menemukan putri ku!" batin Nyonya Erna.
"Rose pesan menu yang sama aja dengan pesanan Tante." ucap Rose.
Paman Teddy memanggil pelayan, dia kemudian memesan makanan yang menjadi pilihan Rose.
"Maaf Mbak, makanan penutup nya mau sekalian?" tanya pelayan setelah mencatat pesanan Rose.
"Boleh saya tau menunya apa aja?" tanya Rose.
"Hari ini kita ada Chocolate Cake, Orange Pudding dan Strawberry Cake!" jawab pelayan.
"Strawberry cake satu!" ucap Rose dan Tante Erna berbarengan.
Kedua wanita itu pun saling bertatapan lalu tertawa bersama.
"Ternyata selera kita sama ya, Rose!" ucap Tante Erna.
__ADS_1
Setelah selesai makan bersama, Rose pamit pulang terlebih dulu. Dia teringat dengan ban si merah yang belum sempat di ganti.
Rose kembali memesan taxi online, tak lupa dia menelepon seorang mekanik yang pernah memperbaiki si merah ketika dia kecelakaan tempo hari.
"Drttt...! Drttt...!"
Ponsel Rose bergetar, dia mengeluarkan ponselnya lalu melihat siapa yang menelepon malam-malam.
Nama Michael muncul di layar, Rose segera menekan tombol tolak yang ada di pilihan. Rose menyimpan kembali ponselnya, dia tidak ingin mendengar suara dari pria yang sudah mengacaukan pikirannya.
"Aku tidak boleh lemah, aku tidak boleh memaafkan dia begitu saja. Jika aku selalu memaafkan perbuatan kasarnya, dia akan terus memandang ku dengan sebelah mata."
Sementara itu, Tante Erna yang masih berada di restoran tanpa sengaja melihat sehelai rambut yang ada di kursi tempat Rose duduk tadi. Karena rasa penasaran yang tinggi, wanita itu mengambil rambut Rose dan menyimpannya.
"Mungkin saja Rose adalah putri ku yang hilang! Aku akan melakukan test DNA dengan rambut ini." ucapnya dalam hati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seminggu telah berlalu sejak Rose mengajukan cuti kuliah, dia menghabiskan semua waktu luangnya dengan bekerja. Selama bekerja di kantor A-more, Rose banyak mendapat perhatian dari para karyawan. Bukan karena dia adalah anak dari pemilik perusahaan, namun karena bakatnya yang sangat luar biasa dalam mengerjakan pekerjaannya.
Banyak orang memuji kepintaran yang di miliki oleh Rose, tidak sedikit pula orang yang menganggapnya sebagai seorang jenius. Apakah dia seorang jenius? Tentu saja tidak! Rose dengan cepat mengerti pekerjaan yang diberikan kepadanya karena dia sudah pernah mempelajari semua pekerjaan itu di masa lalu.
Di kehidupan yang lalu, Rose bekerja di perusahaan A-more ketika dia telah lulus kuliah dan mendapatkan gelar sarjana. Saat-saat melelahkan baginya adalah tahun pertama dia bekerja di perusahaan milik ayahnya itu. Banyak pelajaran yang harus dia pelajari kembali sebab banyak hal yang tidak dia mengerti.
Di sebuah ruangan, seorang wanita berdiri di depan Rose yang sedang duduk di depan meja kerjanya. Wanita itu menatap Rose yang sedang memeriksa laporan dari departemen keuangan.
Perhitungan yang lincah dan akurat menjadi salah satu kelebihan Rose dalam memeriksa laporan keuangan perusahaan A-more.
"Tolong kembalikan laporan ini ke departemen keuangan!" pinta Rose sambil menyerahkan dokumen yang baru saja selesai di periksa.
"Baik Nona!" jawab wanita itu.
"Tok Tok Tok!"
Seseorang mengetuk pintu, Rose yang berada di dalam ruangan berkata dengan suara yang sedikit keras, "Masuk!
^^^BERSAMBUNG...^^^
__ADS_1