
Rose melihat pria yang baru masuk ke dalam ruangannya, setelah menatap wajah pria itu, Rose mengingat jika di kehidupan lalu pernah bertemu dengan pria yang bernama Calvin ini.
"Oh Tuhan...! Kenapa bisa pria ini yang bernama Calvin Pratama? Apakah ada yang salah atau mereka hanya memiliki nama yang sama?"
"Selamat siang Nona Rose!" sapa Calvin ramah.
"Siang, silahkan duduk Tuan Calvin!" jawab Rose dengan rasa terkejutnya yang belum hilang.
"Kenapa anda menatap saya seperti itu? Apakah ada sesuatu di wajah saya?" tanya pria itu keheranan.
Rose secara terang-terangan menatap wajah pria di depannya tanpa rasa canggung ataupun malu, membuat pria itu bertanya-tanya, apakah ada yang salah dengan wajahnya.
"Maaf, saya hanya merasa pernah melihat anda." ucap Rose. "Di kehidupan lalu." sambungnya dalam hati.
"Hahaha... Nona Rose ternyata suka bercanda ya!" sahut Calvin yang tertawa mendengar kata-kata Rose.
Rose menundukkan kepala, "Mereka ternyata memang orang yang sama! Apakah aku sedang di minta Tuhan untuk membayar hutangku kepadanya? Hutang di kehidupan masa lalu." benak Rose.
Sesaat, wajah Rose tersenyum getir. Beberapa menit berlalu, mereka berdua hanya duduk diam. Seisi ruangan pun hening. Setelah Rose menyadari kesalahannya, dia menenangkan diri dan mencoba untuk bersikap senormal mungkin.
"Nona Rose!" panggil Calvin dengan suara rendah yang membuat Rose langsung menoleh.
"I...iya! Maaf, saya sudah bersikap tidak sopan di depan anda." sahut Rose dengan sedikit terkejut karena suara yang tiba-tiba.
Calvin terlihat tenang dan tidak mempermasalahkan sikap aneh Rose. Dia lalu menjawab Rose, "Tidak pa-pa. Apakah saya bisa melihat kalungnya?"
Rose memperlihatkan kotak perhiasan yang dia pegang sejak tadi, dia meletakkan kotak perhiasan di atas meja. "Silahkan dilihat dulu, ini kalung yang anda lihat di foto tadi pagi." ucapnya sambil mendorong pelan kotak ke arah Calvin.
__ADS_1
Pria itu mengambil lalu membuka kotak perhiasan, dia menatap lama kalung yang kini berada di tangannya. Setelah membolak-balik kalung tersebut, dia tersenyum. Namun di sudut matanya, terlihat air yang menggenang.
"Nona Rose, saya akan membeli kalung ini!" ucapnya dengan raut wajah yang terlihat seperti orang yang sedang menahan air mata.
"Saya akan memberikan kalung itu kepada anda, Tuan Calvin!" Rose menatap pria itu dengan wajah yang juga kelihatan sedih.
Calvin lalu menolak dengan cepat, "Tidak, saya akan membayar anda!"
Rose menggeleng pelan, air mata tiba-tiba jatuh begitu saja membasahi kedua pipinya. Dia lalu berkata dengan sedikit terisak, "Saya akan memberikan kalung itu kepada Tuan Calvin. Anda tidak perlu membayarnya!"
Calvin terdiam sejenak, dia memperhatikan wajah Rose yang mulai basah karena air mata. Dia lalu mengeluarkan sebuah sapu tangan dari saku kemeja.
"Nona Rose, boleh saya tau kenapa anda menangis?" tanya pria itu sambil memberikan sebuah sapu tangan.
"Jika saya katakan pun, Tuan Calvin tidak akan mempercayainya. Jadi tolong, jangan bertanya!" pinta Rose yang masih sulit menghentikan air matanya.
"Saya tidak akan menerimanya. Kalung ini, awalnya adalah milik Tuan Calvin. Saya hanya mengembalikan barang milik anda. Jadi Tuan Calvin, tidak perlu membayar untuk kalung ini!" jawab Rose. Sesekali, dia menyeka air mata yang jatuh.
Mendengar kata-kata Rose, Calvin menyadari jika Rose mengetahui sesuatu tentang dirinya. Sesuatu yang bahkan istri dan anaknya tidak tau.
Kalung itu adalah pemberian ibunya yang sudah meninggal 10 tahun yang lalu. Karena dulunya dia sangat miskin dan memerlukan sejumlah uang, Calvin dengan terpaksa menjual kalung itu.
"Tidak ada satu pun orang yang mengetahui jika kalung itu adalah milik ku. Bagaimana bisa Nona Rose mengetahui asal dari kalung ini?" pikir Calvin.
Rose berdiri dari tempat duduk, dia lalu berkata, "Maaf, saya permisi sebentar!"
Rose berjalan menuju ke kamar mandi. Sesampainya di sana, dia mencuci wajahnya dengan air dingin yang mengalir.
__ADS_1
"Hahhh...!" Rose menghela napas panjang.
"Nasib buruk apa ini? Kenapa harus dia pemilik dari kalung itu? Bagaimana bisa aku mengambil uang dari orang yang pernah ku bunuh di kehidupan lalu?" benak Rose.
Sementara itu, Calvin melihat sekeliling ruangan. Dia merasa penasaran setelah melihat air mata Rose dan sikapnya yang sangat aneh di mata Calvin. "Ada apa dengan wanita ini? Kenapa dia terlihat sangat sedih?" ucapnya sambil menatap foto Rose yang berada di atas meja.
Calvin lalu menatap kotak perhiasan yang berada di samping foto Rose. "Apakah dia juga mengetahui jika aku sedang mencari kalung ini?" tanya Calvin dalam pikirannya.
Rose kembali ke dalam ruangan, dengan mata yang berkaca-kaca dia berkata kepada Calvin, "Saya akan memberikan kalung ini untuk anda. Terimalah dan jangan menolak. Karena saya tidak akan menetima pembayaran dari Tuan Calvin."
Calvin berjalan mendekat, Rose tanpa sadar melangkah mundur. "Nona Rose! Apakah anda sudah mengenal saya sebelumnya? Anda mengetahui jika saya sedang mencari kalung ini?" pertanyaan yang sejak tadi dipikirkan oleh Calvin akhirnya keluar dari bibirnya.
Rose terdiam sejenak, namun akhirnya dia mengangguk pelan. "Saya tahu anda sedang mencari kalung ini. Awalnya, saya ingin menjual kalung ini dengan harga yang tinggi. Tapi setelah melihat wajah anda, saya tidak lagi berkeinginan untuk mendapatkan uang dari Tuan Calvin." ucapnya perlahan sambil menatap wajah pria di depan.
"Kenapa?" tanya pria itu tenang.
"Karena saya memiliki utang yang harus saya bayar. Meskipun saya memberikan kalung ini, utang itu sama sekali belum lunas. Masih sangat banyak, utang saya kepada Tuan Calvin." jawab Rose yang lalu menyambung ucapannya dalam pikiran, "Bagaimana mungkin utang nyawa bisa dibayar dengan uang?"
Calvin pun terdiam memikirkan kata-kata Rose, "Utang apa? Aku bahkan tidak ingat jika dia memiliki utang kepadaku! Apakah dia salah mengenali orang?"
"Nona Rose, sepertinya anda salah paham. Sebelumnya, saya belum pernah bertemu dengan Nona Rose. Jadi, tidak mungkin anda memiliki utang kepada saya." Calvin menatap lekat wajah Rose yang sudah mulai tenang.
"Wanita yang sangat cantik! Wajah yang cerah dan berseri. Kulitnya terlihat bersinar alami, sangat cocok dengan rambut hitamnya yang terlihat seperti langit di malam hari. Jika dirangkai dalam satu kata, penilaian untuk wanita ini adalah sempurna!" benak Calvin.
Rose menutup kotak perhiasan yang sejak tadi terbuka, dia menyerahkan kotak itu ke tangan Calvin sambil berkata, "Pergilah, saya masih ada pekerjaan lain!"
^^^BERSAMBUNG...^^^
__ADS_1