Rose Second Life

Rose Second Life
Episode 65. Wowww!


__ADS_3

Di sebuah ruangan, kotor, bau dan penuh dengan serangga serta tikus yang berkeliaran. Luna, duduk di sudut ruangan bersama tiga orang narapidana. Keadaan wanita itu terluhat mengenaskan, pakaian yang robek di beberapa bagian, rambut acak-acakkan serta banyak luka lebam di tubuh dan wajahnya.


"Apa liat-liat? Mau di bogem lagi?" seru seorang wanita bertubuh besar dengan tato di lengan.


Luna terdiam, menunduk dengan rasa takut yang luar biasa. Belum pernah dia mendapat penghinaan sebesar ini dalam hidup. Luna di pukuli oleh ketiga wanita yang berada di dalam satu sel bersamanya.


Dimulai dari sikapnya hang sombong arogan dan memandang tinggi diri sendiri. Luna yang baru masuk ke dalam sel tahanan menghiraukan ketiga wanita tersebut dengan wajah arogan yang membuat mereka merasa kesal. Kekesalan itu memuncak ketika seorang wanita bernama Lucy bertanya, "Siapa namamu? Kenapa kau di tahan?"


Luna mengabaikan, dia mengalihkan pandangan dengan sikap yang cukup membuat darah seorang preman mendidih. Lucy lantas memberikan hadiah sebuah tendangan kepada Luna. Mendapat perlakuan kasar, Luna yang merasa dirinya terhormat pun membalas dengan kata-kata.


"Kau jangan macam-macam! Kau tau siapa aku?"


"Memangnya aku perlu tau kau siapa? Di tempat ini, tidak ada yang akan takut dengan statusmu itu!" ucap Lucy yang kembali melayangkan kaki di wajah Luna.


"Awwwwwww!" jerit Luna dengan menyentuh bagian wajah yang nyaris membiru.


"Kalau kau sehebat itu kau tidak akan masuk ke tempat ini!" ujar seorang wanita yang bernama Marni. Tak ingin melewatkan kesempatan, wanita itu pun turut menghadiahkan sebuah bogem mentah ke wajah Luna.


"Awwwwwwww sakit!" teriak Luna yang kini merintih kesakitan di lantai kotor tanpa keramik.


"Plakkkk!"


"Plakkkk!"


Tamparan bertubi-tubi datang dari seorang wanita bernama Tania yang berjarak paling dekat dengan Luna. Tamparan itu tidak mengakhiri penderitaannya, ketiga wanita itu saling menatap dengan senyum menyeringai. Lalu mereka mulai memukul, menendang dan menjambak rambut Luna.


Jeritan histeris dan tangisan yang dipenuhi dengan rasa takut, keluar dari bibir Luna, membuat seorang pengawas mendatangi sel mereka. Ketiga wanita itu berhenti memukuli Luna, mereka lalu berdiam diri di pojokkan seolah tak terjadi apa-apa.


Seorang pengawas wanita, berseragam polisi dengan rambut panjang yang terikat di belakang. Pengawas itu mengamati ruangan di dalam sel tahanan, "Ngapain kalian?" tanyanya ketika melihat kondisi Luna yang berantakan.


Semua terdiam, membisu tanpa kata-kata. Luna hendak menjawab, namun saat dia melihat tatapan Tania yang mengarah tajam ke arahnya, wanita itu pun menunduk dan menutup mulutnya rapat-rapat.


"Jangan berisik! Di sini tahanan bukan rumah kalian!" bentak sang pengawas yang lalu pergi dari sana.


Sepeninggalan pengawas tersebut, Tania mendekati Luna. "Hey! Kau kenapa di tahan?" tanya wanita itu dengan sebelah kaki menendang pelan tubuh Luna.


Luna terdiam, tak berani bersuara sebab takut salah berucap yang akan berimbas dipukuli lagi oleh wanita itu. Namun ternyata, diamnya Luna menjadi alasan baru bagi mereka untuk memukuli dan menghukumnya lagi.

__ADS_1


"Brakkkk! Brukkk! Plakkk!"


"Ampun! Tolong jangan pukuli aku lagi! Awwwww sakit! Ampunnnnn!"


Luna meringkuk kesakitan sambil memohon, suaranya terisak sambil menangis dan meminta untuk di ampuni.


"Jadi kenapa kau di sini?" tanya Tania lagi dengan wajah kejam dan mendominasi.


"Mengancam orang!" jawab Luna singkat dengan wajah yang masih tertunduk.


"Cihhh! Nyali ciut begini mau mengancam!" ucap Tania dengan wajah yang menyeringai.


Ketiga wanita itu pun duduk kembali ke tempat mereka, Luna mengintip untuk melihat keadaan. Lucy yang tanpa sengaja bertatap mata dengan Luna pun berkata, "Apa liat-liat? Mau di bogem lagi?"


Luna ketakutan, dia segera menundukkan kembali wajahnya. "Sial, semuanya gara-gara wanita murahan itu! Aku akan membunuhnya! Akhhhhhh!" geramnya dalam hati.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Rose menatap layar laptop, layar itu menampilkan grafik dari saham di perusahaan Harris Utama milik keluarga Wilson. Dia menyeringai tat kala melihat harga saham itu turun dengan drastis.


"Drttttt! Drtttt!"


Sebuah pesan masuk dari James, Rose membuka dan membaca pesan tersebut.


Rose, ada waktu?


^^^Ya, pas jam makan siang. Mau ketemu?^^^


Aku udah di bawah lobby.


^^^Oh, tunggu bentar yah! Aku beres-beres dokumen dulu.^^^


Oke, pelan-pelan aja.


Rose menutup layar laptop, mencabut aliran listrik lalu membereskan dokumen yang acak-acakkan di atas meja. Dia mengambil tas ransel mini lalu berlari menuju ke depan pintu lift.


"Tinggg!"

__ADS_1


Pintu lift terbuka, Rose segera masuk lalu menekan angka L yang tertera di dinding lift. Begitu sampai di lobby, Rose mencari keberadaan sahabatnya itu.


"Hei!" ujar James yang langsung memukul pelan pundak Rose ketika melihatnya berada tepat di hadapan.


"Hai James, kamu mau ajak aku ke mana?" tanya Rose langsung karena penasaran.


"Ke suatu tempat!" jawab pria itu sambil cengegesan.


"Iya, tapi ke mana?" sahut Rose dengan rasa kesal.


"Hihi... Ada deh pokoknya! Yuk cusss!" James menarik lengan Rose, mereka menuju parkiran sepeda motor.


"Naik motor?" tanya Rose dengan wajah bingung.


"Yup, aku mau bawa kamu ke tempat yang gak bisa dilalui dengan mobil. Emang kamu mau jalan kaki?" jawab James yang lalu menyerahkan sebuah helm kepada Rose.


Rose menerima helm dari James, dia lalu naik ke atas sepeda motor yang baru saja dinyalakan. "Mau ke mana sih? Misterius banget!" tanya Rose karena rasa penasarannya semakin membuncah.


James hanya tersenyum mendengar ocehan dari wanita yang berada di belakang punggungnya. "Pegangan yang erat ya!" pinta James sebelum melajukan sepeda motor.


Rose melingkarkan lengannya di pinggang James, kendaraan beroda dua itu segera meluncur ke jalanan. Membutuhkan waktu 20 menit dari kantor Rose untuk menuju ke tempat itu. Lorong-lorong sempit membuat James harus mengurangi kecepatan laju sepeda motornya.


Sepeda motor berhenti di depan sebuah rumah kosong, bangunan tua dengan dinding yang hampir roboh. James meminta Rose untuk turun, dia lalu ikut turun dari kendaraan bututnya.


"Tempat apa ini, James?" tanya Rose penasaran.


"Ini rumahku!" jawab pria itu dengan menyunggingkan senyuman.


"Aku nggak salah dengar kan? Rumah? Bangunan yang hampir roboh ini?" tanya Rose yang merasa tak percaya.


"Yuk masuk!" ajak James yang lalu menggandeng tangan wanita itu.


"Wowwwww!"


Tanpa sadar, kata kagum dan takjub keluar dari mulut mungil milik Rose.


^^^BERSAMBUNG...^^^

__ADS_1


__ADS_2