Rose Second Life

Rose Second Life
Episode 85. Penyesalan


__ADS_3

Sebuah brankas bergeser dengan sendirinya, di bawah brankas itu ternyata tersembunyi anak tangga yang menuju ke bawah. Karena penasaran, aku turun melalui anak tangga itu menuju ke bawah tanah.


Ruangan itu hanya di sinari oleh dua bola lampu kecil yang bergantungan di dinding atas, aku melihat sekeliling ruangan hingga mataku terpaku di sebuah pintu di dalam ruangan itu. Aku membuka pintu dan melihat apa yang ada di balik pintu. Ternyata hanya sebuah ruangan kamar mandi. Aku kembali ke atas, mencoba mencari jalan keluar. Tapi ternyata semua pintu keluar di jaga dengan ketat.


Saat ini, aku berpikir untuk membakar gedung tua yang sudah mengurungku selama bertahun-tahun. Hari di mana aku kembali ke tempat itu, aku bersumpah akan membakar habis semuanya. Jika ada yang tersisa, itu hanyalah sebuah ruangan bawah tanah yang tidak akan tersentuh api.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah berkeliling beberapa saat, mereka akhirnya masuk ke ruangan yang penuh brankas. Hanya ruangan itu satu-satunya yang tidak menghitam karena terlindungi pintu tahan api.


Michael mengingat kata-kata yang tertulis di dalam diary milik Rose, "Cari keramik yang memiliki warna berbeda!" perintah Michael kepada Gerry dan juga James.


"Di sini! Keramik ini berbeda dengan yang lain." ucap James setelah menemukan lantai keramik yang terlihat sedikit berbeda.


Michael berdiri di atas keramik itu, sebuah brankas bergeser ke samping, hingga terlihat tangga menuju ke bawah tanah. Gerry dan James tampak terkejut, tapi tidak dengan Michael karena dia sudah membaca isi buku diary Rose yang mengungkapkan rahasia di gedung ini.


Michael segera menuruni anak tangga, diikuti oleh Gerry dan James. Mereka melihat Rose tergeletak di sana dengan kondisi tubuh yang mengeluarkan banyak darah.


"Rose!" panggil Michael dan James secara bersamaan.


Michael berlari menghampiri tubuh Rose, dia mengangkat dan menggendong tubuhnya. Mereka berjalan cepat untuk keluar dari gedung itu. Michael langsung masuk ke dalam mobil dan menyuruh Gerry untuk melajukan mobil ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, dokter yang memeriksa Rose meminta tanda tangan dari wali pasien untuk menyetujui tindakan operasi yang harus segera dijalani oleh Rose. Sebab di tubuhnya, terdapat dua lubang tusukan yang mungkin berbahaya bagi nyawanya.


Michael segera menanda tangani surat persetujuan itu. James baru saja tiba, dia duduk di ruang tunggu yang berada di depan kamar operasi.


Michael membuka kembali pesan di ponselnya, dia menyadari jika semua keterlambatan ini adalah kesalahan dirinya. Dia yang sengaja menyibukkan diri agar tidak mengingat Rose. Dia yang kehilangan kendali atas emosinya, akibat dendam di masa lalu, yang tidak berkaitan dengan Rose.

__ADS_1


"Semua ini salahku! Jika saja aku menjawab telepon dari Rose, jika saja aku membaca pesannya, jika saja aku lebih cepat pergi untuk menemukannya. Semua kejadian buruk ini pasti tidak akan terjadi." benak Michael.


Gerry memperhatikan Tuan Mudanya, dia melihat tangan Michael bergetar. Muncul rasa kasihan di dalam hati Gerry, sebab dia jarang melihat sosok yang dingin itu menjadi begitu rapuh. Untuk ke dua kalinya, Gerry melihat seorang Michael ketakutan dalam hidupnya.


Sementara itu di Rumah Sakit Emerald, di dalam salah satu kamar mayat. Mama Daisy dan Papa Hanz di minta untuk menanda tangani sebuah surat persetujuan proses otopsi terhadap mayat putri merek.


Ponsel Mama Daisy berdering, dia meletakkan pulpen yang dia pegang lalu menjawab telepon.


"Hallo!"


"Hallo Tante, saya James teman Rose. Kami menemukan Rose di dalam gedung yang terbakar itu. Sekarang dia sedang di operasi di Rumah Sakit Bulan Bintang."


Mama Daisy menurunkan tangannya yang memegang ponsel, dia tampak kebingungan. Sesaat kemudian, wanita itu tersenyum. "Rose masih hidup!" ucapnya dengan suara yang bergetar.


"Ma...!" Papa Hanz memeluk istrinya, dia mengira jika istrinya itu mulai gila karena tidak bisa menerima kematian anak mereka.


"Pa, ayo kita pergi!" ajak Mama Daisy dengan wajah yang masih sembab.


"Rumah Sakit Bulan Bintang!" jawab Mama Daisy dengan bersemangat.


"Mau ngapain ke sana Ma?" tanya Papa Hanz kembali.


"Rose Pa, Rose ada di sana!" jawab Mama Daisy yang mulai menangis lagi.


"Ma, Mama ngomong apa sih?" tanya Papa Hanz yang mengira Mama Daisy terlalu bersedih hingga berbicara sembarangan.


"James telepon tadi, dia bilang mereka menemukan Rose di dalam gedung yang terbakar. Rose sekarang sedang di operasi. Kita ke sana ya, Pa!"

__ADS_1


Tangisan Mama Daisy semakin deras, membuat pandangannya menjadi kabur karena terhalang air mata. Dia menatap pasangan yang berlari mendekat, setelah jarak mereka hanya tinggal beberapa langkah, terdengar suara dari seorang wanita.


"Di mana Rose?"


Nyonya Erna dan Paman Teddy baru saja tiba di sana, keduanya terlihat seperti habis lari maraton, detak jantung mereka sangat cepat dengan napas yang tersenggal-senggal.


"Rose ada di Rumah Sakit Bulan Bintang, ayo kita ke sana sekarang!" ajak Mama Daisy kepada Nyonya Erna karena suaminya tidak menanggapi ajakkannya.


Ketiga orang itu berjalan cepat ke arah parkiran, Papa Hanz mau tak mau terpaksa mengikuti Mama Daisy. Mereka menuju ke arumah Sakit Bulan Bintang dengan mobil masing-masing.


Sesampainya di rumah sakit, Mama Daisy langsung bertanya kepada seorang perawat yang lalu lalang. "Suster, ruang operasi di mana ya?"


Suster mengarahkan jalan menuju ke ruang operasi, dengan segera Mama Daisy berjalan buru-buru ke arah yang di tunjuk oleh suster. Di ikuti oleh Papa Hanz dan kedua orang tua kandung Rose.


Mama Daisy tiba lebih dulu, dia melihat Michael, James dan seorang laki-laki asing duduk di kursi depan ruang operasi. James berdiri ketika melihat wajah yang dia kenali.


"Tante, Rose belum meninggal, mayat yang tadi itu bukan Rose." ucap James sambil menggenggam tangan Mama Daisy.


Mama Daisy mengangguk, air matanya terus mengalir tanpa henti. "Rose gimana sekarang? Dia baik-baik saja kan?" tanya Mama Daisy dengan perasaan khawatir dan cemas.


"Rose masih di dalam, dia masih di operasi." James menatap pintu kamar operasi, dia kembali menatap Mama Daisy. "Kita tungguin aja sambil berdoa ya, Tan!"


"Puji Tuhan... Terima kasih Tuhan, mayat itu bukan Rose." ucap Mama Daisy sambil mengatupkan kedua tangannya.


"James, Terima kasih karena kamu sudah membawa Rose kemari. Kami bahkan tidak mencari tau dan langsung menganggap mayat itu sebagai Rose. Untung saja ada kamu yang masih mencari Rose di dalam bangunan itu. Terima kasih banyak!" Mama Daisy memegang kedua tangan James, dia benar-benar bersyukur Rose memiliki teman sebaik James.


James menatap ke arah Michael, laki-laki itu diam saja dan hanya menatap ke arah pintu kamar operasi.

__ADS_1


"Padahal semua ini berkat dia." benak James.


^^^BERSAMBUNG...^^^


__ADS_2