
Rose baru saja keluar dari ruangan Dokter Frans, dia teringat dengan Nenek Yun yang pernah menolongnya.
"Nenek Yun pernah bilang jika anak dan menantunya meninggal karena kecelakaan pesawat, waktunya tepat sekali dengan kejadian 2 hari mendatang. Apakah anak dan menantu Nenek Yun menjadi korban di pesawat itu? Aku harus menghalangi mereka untuk naik ke pesawat." benak Rose.
Rose berjalan menuju parkiran dan melajukan mobilnya ke rumah Nenek Yun, dia berhenti di depan pintu pagar.
Seorang wanita tua berjalan bersama seorang laki-laki. Rose mengenali wanita itu, dia adalah Nenek Yun yang pernah menolongnya di masa lalu.
"Mungkin laki-laki itu adalah anak dari Nenek Yun." batin Rose.
Rose keluar dari mobil hendak menyapa Nenek Yun, namun langkahnya terhenti ketika memikirkan apa yang harus dia katakan kepada Nenek Yun. Saat ini mereka belum saling mengenal, akan terasa janggal apabila Rose memanggil Nenek Yun secara tiba-tiba.
"Bagaimana cara aku mencegah anak dan menantu Nenek Yun agar tidak menaiki pesawat?" batin Rose.
"Nona, apakah anda membutuhkan bantuan?" tanya Nenek Yun ketika melihat wajah Rose yang kebingungan.
"Nenek Yun memang benar-benar orang yang baik, dia bahkan menawarkan bantuan kepada orang asing seperti ku!" batin Rose.
"Nona...!" panggil pria yang berada di samping Nenek Yun.
"Maaf, saya hanya tiba tiba mengingat nenek saya yang mirip dengan anda." ucap Rose beralasan.
"Wajah anda terlihat pucat, apakah anda mau beristirahat sebentar di rumah Nenek?" tanya Nenek Yun.
"Apakah boleh? Saya takut mengganggu waktu Nenek dan Paman." ucap Rose.
"Tentu saja boleh." jawab pria paruh baya itu.
Rose mengikuti Nenek Yun dan Pria itu masuk ke dalam rumah, seorang pelayan mengantarkan teh hangat dan meletakkan di meja.
"Silahkan di minum Nona!" ucap Nenek Yun.
"Terima kasih Nek." jawab Rose.
"Apakah Nona sedang tidak enak badan? Perlukah saya panggilkan dokter?" tanya pria paruh baya itu.
"Tidak perlu, saya hanya sedikit lelah. Terima kasih karena sudah mengkhawatirkan saya." jawab Rose.
"Nama saya Teddy, Nona boleh memanggil saya Paman Teddy." ucap pria itu memperkenalkan diri.
"Paman Teddy, nama saya Rose. Paman bisa memanggil saya Rose." ucap Rose.
"Rose boleh memanggil saya Nenek Yun." ucap Nenek Yun.
"Nenek Yun, Paman Teddy, terima kasih sudah mengizinkan saya istirahat di rumah ini dan terima kasih atas teh hangat nya." ucap Rose.
"Jangan terlalu sungkan, sudah kewajiban kita untuk saling menolong sesama." jawab Nenek Yun.
"Maaf, kalau boleh tahu, berapa usia Rose saat ini?" tanya Paman Yun.
"Saya berusia 18 tahun." jawab Rose.
__ADS_1
Nenek Yun dan Paman Teddy saling menatap, Rose tidak mengerti mengapa mereka terlihat sedih secara tiba-tiba.
"Dulu Paman mempunyai seorang anak perempuan yang menghilang di saat umurnya masih 1 tahun. Jika dia masih hidup, dia sudah berumur 18 tahun saat ini, sama seperti Rose." jelas Paman Teddy.
"Saya turut berduka atas kehilangan putri Paman." ucap Rose.
"Kamu sangat mirip dengan istri ku, aku bahkan akan salah mengira jika kamu adalah putri ku yang menghilang dulu." ucap Paman Teddy.
"Benar, Nenek juga sempat merasakan perasaan yang sama. Wajah kalian benar-benar mirip." ucap Nenek Yun.
"Saya tidak keberatan di anggap anak oleh Paman. Saya juga merasa nyaman dengan Paman dan Nenek." jawab Rose.
"Kalau begitu, sering-seringlah main ke rumah." ucap Nenek Yun.
"Saya akan sering main di sini dan mengganggu waktu Nenek dan Paman." jawab Rose sambil tersenyum.
"Dua hari lagi Paman akan pergi keluar kota. Paman harap Rose bisa lebih sering main ke sini untuk menemani Ibu." ucap Paman Teddy.
"Deg!"
"Ternyata benar, Paman adalah korban kecelakaan pesawat itu!" batin Rose.
"Paman, bisakah kepergian Paman di tunda?" tanya Rose.
Paman Teddy dan Nenek Yun saling menatap, "Kenapa perjalanan Paman harus di tunda?" tanya Nenek Yun.
"Saya merasakan perasaan buruk tentang perjalanan Paman dua hari lagi. Bisakah Paman mengundurnya menjadi hari lain?" ucap Rose.
Rose menundukkan kepalanya, dia memikirkan cara untuk mencegah Paman Teddy agar tidak naik ke pesawat itu.
"Jangan khawatir, Paman akan baik-baik saja. Bukan sekali dua kali Paman melakukan perjalanan keluar kota." ucap Paman Teddy menghibur Rose.
Rose hanya bisa tersenyum getir, entah bagaimana cara membujuk pria paruh baya ini agar mendengarkan perkataan nya.
Handphone Rose berbunyi, dia menjawab telepon setelah minta izin kepada Paman Teddy dan nenek Yun.
"Kenapa kamu bisa berada di rumah keluarga Yun?" tanya Michael di telepon.
"Aku hanya beristirahat di sini sebentar dan berbincang dengan Nenek Yun dan Paman Teddy." jawab Rose.
"Keluarlah sekarang!" perintah Michael.
"Tapi..." Rose akan menolak, namun telepon telah diputuskan oleh Michael.
"Tut... Tut... Tut...!"
"Kenapa pria ini selalu mengatur ku?" ucap Rose dengan wajah kesal.
"Ada apa Rose? Apakah seseorang mencari mu?" tanya Nenek Rose.
"Ya, saya harus segera kembali ke rumah. Saya pamit dulu nek, saya harap Paman bisa mempertimbangkan untuk mengundur jadwal penerbangan." ucap Rose.
__ADS_1
"Baiklah, hati-hati di jalan. Ingat lah untuk sering-sering main ke rumah ini." ucap Paman Teddy.
Rose mengangguk, mereka mengantarkan Rose hingga ke depan pintu.
Michael yang sudah menunggu Rose di depan rumah keluarga Yun menatapnya dengan wajah marah.
"Wanita ini benar-benar sulit di atur!" ucap Michael.
Rose berjalan menuju ke mobil nya, Michael membuka pintu dan menarik tangan Rose.
"Lepaskan aku!" Rose meronta karena menganggap dirinya saat ini menjadi korban penculikan.
"Ini aku!" ucap Michael sambil mendekatkan wajah mereka.
"Hufff..." Rose menghela napas.
"Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Rose.
"Karena kamu berada di sini!" jawab Michael.
"Kamu mengikuti ku?" tanya Rose.
"Aku mengikuti arah GPS ponsel mu! Apa kamu pikir aku kurang kerjaan sehingga harus mengikuti mu kemana-mana?" jawab Michael dengan nada datar.
"Lalu kenapa kamu membuat ku kaget?" tanya Rose dengan wajah kesal.
"Ini hukuman untuk mu karena tidak mendengarkan perkataan ku!" jawab Michael.
"Turunkan aku, mobilku ada di depan sana." ucap Rose.
"Aku akan menyuruh seseorang untuk membawa pulang mobil mu. Duduk diam dan jangan banyak bergerak atau aku akan memakan mu di sini!" ucap Michael dengan nada mengancam.
"Sepertinya aku tidak takut lagi terhadap ancaman pria ini!" batin Rose.
Michael membawa Rose ke sebuah restoran mewah, dia memesan semua makanan yang di sukai oleh wanita itu.
"Kanapa kamu pesan banyak sekali? Kita tidak akan bisa menghabiskan semua makanan ini." ucap Rose.
"Makan lah yang kamu suka, tinggalkan yang lain nya." ucap Michael.
"Dasar boros!" gumam Rose.
"Aku sudah mendengar kata-kata mu itu!" ucap Michael.
"Kamu memang terlalu boros, tidak bisakah kamu mengubah sikap boros mu itu?" ucap Rose.
"Jangan cerewet, aku masih sanggup lebih boros dari ini!" jawab Michael.
"Ya ya ya... kamu memang orang paling kaya di dunia ini." ucap Rose dengan wajah kesal.
"Hahaha... Wajahnya sangat imut jika sedang kesal." batin Michael.
__ADS_1
^^^BERSAMBUNG...^^^