
Beberapa menit berlalu, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Rose dan Michael. Mereka hanyut dalam pikiran masing-masing, di mana Michael merasa aman karena sudah membuat surat nikah dengan Rose. Sedangkan Rose merasa gelisah karena Michael tidak sedikit pun terlihat bahagia setelah pernikahan mereka di sah kan di mata hukum.
"Permisi, Nona Rose dan Tuan Michael?" tanya seorang petugas wanita.
"Benar" jawab Rose dengan nada datar.
"Ini buku nikah Tuan dan Nona, ah maaf, bukan Nona lagi tapi Nyonya. Tuan dan Nyonya Hoffmann silahkan tanda tangan di sini." ucap petugas wanita sembari menyerahkan 2 buku nikah dan selembar kertas.
Selesai melakukan semua prosedur, Michael dan Rose berjalan menuju ke mobil. Rose melirik ke arah Michael yang masih menutup rapat bibirnya, dia merasa penasaran dengan isi yang ada di dalam pikiran suaminya.
"Mike, kamu kenapa?" tanyanya tanpa sadar karena terlalu kepikiran.
Michael menoleh ke samping, menatap wajah Rose yang tidak terbaca ekspresinya. "Aku nggak pa pa. Kenapa kamu nanya begitu?" tanya Michael balik.
"Karena kamu terlihat tidak bahagia." jawab Rose dengan raut wajah yang bersedih.
Jawaban dari Rose menyadarkan Michael jika dirinya telah membuat Rose salah paham. Dia tentu saja bahagia bisa menikahi wanita yang dia cintai. Tapi banyak masalah yang harus mereka hadapi ke depannya, membuat Michael secara tak sadar sudah mengabaikan perasaan Rose.
Michael melepas sabuk pengaman yang baru saja terpasang, dia mengambil telapak tangan Rose lalu menggenggamnya. Michael mengecup punggung telapak tangan Rose, dia tersenyum lalu mengecup kening, kedua pipi dan bibir mungil milik Rose yang kini berada di depan matanya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan? Tentu saja aku bahagia, karena sekarang kita adalah pasangan suami istri. Jangan berpikir yang tidak-tidak, ayo kita pulang."
Kata-kata dari Michael sama sekali tidak bisa menenangkan hati Rose yang sedang di rundung kegelisahan. Wanita itu masih memiliki pertanyaan di dalam hatinya, alasan mengapa Michael berwajah dingin dan muram setelah penikahan mereka di daftarkan.
Michael melajukan mobilnya, dia mengantarkan Rose pulang ke mansion mewah yang sudah menjadi tempat berlindung Rose sejak kecil. Setibanya di rumah, Michael turun dari mobil lalu membukakan pintu untuk Rose. Dia mengulurkan tangannya dengan niat membantu Rose turun dari mobil.
Rose menatap telapak tangan yang di ulurkan oleh Michael di depannya, sejenak dia merasa ragu untuk meraih tangan laki-laki itu. Tetapi, setelah melihat wajah Michael yang tersenyum ramah, hati Rose menjadi lemah. Secara refleks Rose menerima uluran tangan dari Michael. Mereka lalu berjalan bersama menuju ke depan pintu rumah.
__ADS_1
"Ting Tong!"
Michael menekan bel pintu, beberapa menit kemudian Lily membuka pintu lalu muncul dari balik pintu kayu yang berwarna coklat tua.
"Kak Rose, kok lama sampainya? Papa dan Mama saja sudah sampai duluan." tegur Lily dengan wajah khawatir dan juga cemas.
"Uhm...!"
Rose tidak tau apa yang harus dia katakan kepada adiknya itu. Dia melirik Michael, meminta laki-laki di sebelahnya untuk menjawab pertanyaan Lily.
"Tadi kami makan siang dulu baru pulang!" jawab Michael dengan lancar.
"Oh, gitu... Ya sudah yuk masuk!" ucap Lily sambil mengangguk.
"Rose, kemari!" pinta Mama Daisy ketika melihat Rose berdiri di depan pintu.
Mama Daisy ternyata sudah mendengar cerita mengenai dendam yang di miliki oleh keluarga Michael terhadap orang tua kandung Rose. Dia merasa sedikit gelisah karena tidak ingin putrinya menjadi korban dari balas dendam yang akan di lakukan oleh Michael.
"Ada apa Ma?" tanya Rose setelah duduk di samping Mama Daisy.
"Mulai sekarang, tolong jauhi Rose!" ucap Mama Daisy dengan nada serius, dia menatap wajah Michael dengan mata elangnya.
Michael tersentak, senyuman di wajahnya langsung menghilang begitu mendengar kalimat yang di ucapkan oleh Mama Daisy. Dia menatap mata wanita itu kemudian bertanya kepadanya. "Kenapa aku harus menjauhi Rose?"
"Kamu pasti sudah tau alasannya tanpa harus ku beritahu." ucap Mama Daisy sambil berdiri dari duduknya.
Rose hendak mengatakan sesuatu, tapi tangan Papa Hanz segera mencengkram lengannya. Mengisyaratkan Rose untuk tetap diam.
__ADS_1
"Sejujurnya, aku tidak ingin melarang hubungan kalian, tapi aku tidak rela jika nantinya Rose akan menjadi alat balas dendam mu terhadap ayah kandungnya." Mama Daisy memperjelas alasan kenapa hubungan mereka harus di akhiri.
"Aku tidak akan melakukan hal sebejat itu." bantah Michael dengan wajah dingin.
"Ma, duduk dulu! Mari kita bicarakan secara baik baik." ucap Papa Hanz, mencoba mendinginkan hati Mama Daisy yang sedang kebakaran.
Mama Daisy menuruti kata-kata Papa Hanz, dia duduk kembali di samping Rose. Papa Hanz mempersilakan Michael untuk duduk di depannya.
"Kami sudah mendengar semua cerita masa lalu Kakak kamu dari Teddy. Sebagai orang tua, kami pasti merasa khawatir dan dipenuhi perasaan curiga terhadap kamu. Om yakin kamu mengerti maksud dari kata-kata yang ingin Om sampaikan." ucap Papa Hanz dengan nada tenang.
Michael tentu saja mengerti, itu sebabnya dia membawa Rose untuk mendaftarkan pernikahan mereka secara diam-diam dan di lakukan dengan secepat mungkin. Michael sudah menduga jika masalah seperti ini akan terjadi, namun dia tidak menyangka akan secepat ini.
"Om, Tante! Aku mencintai Rose dengan tulus, aku tidak akan pernah bersikap buruk kepada Rose hanya karena dendamku terhadap keluarga Yun. Aku bersumpah, aku tidak pernah memiliki keinginan untuk membalas dendam atas kematian Kakakku." ucap Michael menegaskan isi hatinya.
Mama Daisy tiba-tiba saja tertawa, di ikuti oleh Papa Hanz yang tersenyum bahagia. "Mama dengar sendiri kan, apa kata Michael tadi. Papa yakin, Michael bukanlah laki-laki yang akan menggunakan wanita untuk membalaskan dendam pribadinya." ucap Papa Hanz sambil menepuk-nepuk pundak Michael.
"Apa maksud semua ini?" tanya Michael dengan wajah kebingungan.
"Hahaha...!" Lily yang berada di belakang Michael langsung tertawa.
"Tadi itu, Mama dan Papa sedang taruhan. Kalau Kak Mike di larang untuk bertemu lagi dengan Kak Rose, apa jawaban dari Kak Mike." Lily menjelaskan semuanya sambil terkekeh.
"Lalu? Siapa yang menang?" tanya Rose penasaran.
"Lily yang menang!" sahut Papa Hanz.
Papa Hanz mengira Michael akan pergi lalu diam-diam berhubungan dengan Rose. Sementara Mama Daisy berkata jika Michael akan segera meninggalkan Rose. Hanya Lily satu-satunya orang yang yakin jika Michael akan segera menjelaskan semuanya sampai dia di terima kembali oleh Papa dan Mama.
__ADS_1
Karena penasaran, Rose pun membuka suara. "Jadi, sebenarnya ada dendam apa di antara Michael dan Papa Teddy?"
^^^BERSAMBUNG...^^^