Rose Second Life

Rose Second Life
Episode 32


__ADS_3

Tiba di bandara, seorang pria berbaju rapi segera mendatangi mobil keluarga Yun yang baru saja berhenti.


"Biar saya saja yang bawa kopernya." ucap pria itu dengan sopan saat melihat Rose hendak mengangkat koper miliknya.


"Iya Rose, kopernya nanti dibawa sama Felix." Sebut Nyonya Erna yang memanggil pria itu dengan nama Felix.


"Rose ikut Tante aja keliling bandara sebelum waktu penerbangan." ucap Paman Teddy.


"Makasih ya, maaf ngerepotin." ucap Rose sambil meletakkan kembali kopernya.


"Memang sudah menjadi tugas saya jadi Nona sama sekali tidak merepotkan." jawab Felix yang terkesan kaku namun sopan.


Nyonya Erna mengalungkan lengannya ke lengan Rose, dia menarik Rose berkeliling di dalam bandara yang super amat luas.


"Tan, boleh tungguin Rose sebentar?" pinta Rose saat matanya menatap salah satu counter jam tangan.


Nyonya Erna berhenti melangkah, ia mengikuti tatapan Rose yang sedang tertarik dengan counter kecil di sana.


"Rose mau beli jam tangan?"


"Heemm... Pengen beliin buat hadiah sih Tan, temenin Rose yuk buat pilih jam tangan." pinta Rose.


Nyonya Erna tersenyum tipis, ia mengangguk mengikuti permintaan Rose, dalam lubuk hatinya ia berkata, "Senang rasanya bisa berjalan dan menemani putri cantik seperti Rose, andai saja saat ini putri ku masih hidup, aku sangat berharap ia menjalani hidup yang bahagia meskipun ia tidak berada di sampingku."


Rose sedang serius memilih jam tangan yang akan ia hadiahkan kepada James. Rose ingat terakhir kali James dipukuli oleh beberapa preman, jam tangan yang di pakainya rusak dan hancur.


James menahan pukulan yang bertubi tubi dengan lengannya, alhasil jam tangan yang sedang ia pakai ikut terkena hantaman kayu.


"Kira kira model apa yang cocok yah buat James?" pikir Rose sambil mengamati jam tangan yang terpajang di etalase kaca.


Beberapa menit menatap jam tangan dengan berbagai model masih belum membuat Rose menemukan model yang ia inginkan.


Nyonya Erna menatap sebuah jam tangan yang terpajang di urutan paling ujung etalase.


"Boleh saya lihat model yang ini?" tanya Nyonya Erna kepada pegawai toko.

__ADS_1


"Silahkan Bu!" jawab pegawai toko itu sembari mengeluarkan jam tangan yang di tunjuk oleh Nyonya Erna.


"Rose, jam tangan yang ini bagus sih kalau menurut Tante. Coba Rose lihat dulu mana tau cocok."


Rose segera mendekat, ia mengambil jam tangan itu dari tangan Nyonya Erna dan mengamati dengan serius.


"Bagus yah modelnya, tapi entah cocok atau nggak buat James." ucap Rose.


Melihat Rose ragu ragu menentukan pilihannya, pegawai toko menjelaskan fungsi dan kelebihan dari jam tangan yang di pilih oleh Nyonya Erna.


Setelah mendengar penjelasan dari pegawai toko, Rose yang awalnya ragu ragu kini menjadi yakin dengan jam tangan pilihan Nyonya Erna.


Entah karena memang pegawai toko itu sudah profesional dalam melayani pelanggan, atau memang Rose menyukai model jam tangan tersebut.


"Tolong di bungkus yang rapi ya Mas!" pinta Rose saat salah satu pegawai toko memasukkan jam tangan ke dalam kotak yang sejak awal memang satu paket.


"Baik Mbak, ini mau di bungkus pita warna apa ya Mbak?"


"Warna biru tua aja. Makasih..."


"Biar Tante aja yang bayar, pakai kartu saya ya dek." ucap Nyonya Erna ke kasir sembari menyerahkan sebuah kartu kredit dari Bank MB.


"Rose aja yang bayar Tan, ini kan buat hadiah bukan untuk Rose pakai." tolak Rose dengan halus.


"Ya udah, kalau gitu Tante pilih jam tangan yang lain untuk Rose ya." ucap Nyonya Erna setelah berpikir sejenak.


"Jangan Tan, Rose nggak enak terimanya, ini aja Rose udah nggak enak karena ganggu honeymoon Paman Teddy dan Tante Erna. Masa dibeliin hadiah lagi, kan Rose nya jadi malu." tolak Rose lagi.


"Dih, bulan madu apaan? Paman Teddy dan Tante nih ada kerjaan di sana, bukan bulan madu." jawab Nyonya Erna dengan wajah tersipu.


"Yah pokoknya Rose nggak mau di beliin jam tangan. Jadi habis ini kita keliling lagi yah Tan." ucap Rose setelah menerima bungkusan beserta kartu kredit yang dikembalikan oleh kasir toko.


Puas mencuci mata di dalam bandara yang penuh dengan barang barang idaman para wanita, Rose dan Nyonya Erna menyusul Paman Teddy yang sudah menunggu di ruang tunggu.


"Pa, sorry lama nunggunya..." ucap Nyonya Erna setelah bertatap muka dengan suami tercinta.

__ADS_1


"Nggak pa pa Ma, yang penting Mama dan Rose puas belanjanya." jawab Paman Teddy dengan wajah yang dihiasi senyuman.


Indah rasanya melihat keharmonisan mereka berdua, "Jika Mama dan Papa ada di sini, pastinya mereka juga akan bersikap seperti Paman Teddy dan Tante Erna kan?" pikir Rose sambil tersenyum senyum sendiri.


"Rose kelihatan senang banget yah..." ucap Paman Teddy setelah melirik Rose yang tersenyum sendiri seperti orang bodoh.


"Hehe... Senang banget soalnya Rose kan belanjanya bareng Tante." jawab Rose terkekeh ringan.


"Ha... Ha..." tawa Nyonya Erna, "Lihat tuh Pa, manis banget yah mulut Rose. Mama sampai meleleh nih di puji terus dari tadi." keluhnya kepada sang suami.


"Iya... tapi kan Mama juga senang di puji sama Rose." ledek Paman Teddy yang ikut tertawa.


"Bahagia rasanya jika setiap hari bisa menjalani hidup seperti ini." pikir Rose sambil menatap kedua pasangan harmonis yang tertawa bersama di hadapannya.


Terlintas wajah Michael di benak Rose, ia ingin melihat masa depan yang indah ini bersama Michael. Rose mengeluarkan ponselnya, ia membuka kunci ponsel dengan jari jempol kemudian membuka pesan yang ia kirimkan ke Michael sebelum berangkat tadi.


Rose menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas, rasa kecewa terlihat jelas di raut wajahnya.


"Rose, ada apa?" tanya Nyonya Erna yang segera menyadari perubahan wajah Rose.


"Nggak pa pa. Rose cuma kangen Papa dan Mama aja." jawab Rose berbohong.


Nyonya Erna merentangkan kedua tangannya, ia mendekati Rose kemudian memeluknya.


"Sini... Tante peluk yah! Udah dong sedihnya, kita kan mau liburan jadi Rose jangan banyak beban pikiran. Nanti telepon aja Mama dan Papa Rose kalau mereka lagi nggak sibuk."


"Aduh... Kalau gini kan aku jadi merasa bersalah udah ngebohongin Tante Erna." batin Rose.


Belum lama menunggu, panggilan sudah di umumkan untuk para penumpang agar segera naik ke pesawat. Nyonya Erna dan Paman Teddy duduk bersebelahan sedangkan Rose duduk sendiri di kursi pesawat.


Rose teringat dengan berita pesawat yang meledak. Di kehidupannya yang lalu, pesawat meledak sekitar jam 2 sore, itu artinya masih 2 jam dari sekarang.


Rose menatap keluar jendela, lapangan udara yang dipenuhi oleh banyak pesawat dari segala penjuru dunia tertata rapi di sana.


Rose sangat berharap agar kejadian itu tidak terulang lagi, namun apa daya ia yang hanya seorang mahasiswi biasa, Rose hanya berharap korban jiwa tidak sebanyak yang diberitakan di kehidupan yang lalu.

__ADS_1


^^^BERSAMBUNG...^^^


__ADS_2