
Michael membawa Rose ke sebuah restoran jepang, dia memesan semua menu makanan yang ada di sana.
"Wow!" Rose kaget melihat semua makanan yang baru saja di hidangkan.
"Makan lah apa yang kamu suka, tinggalkan sisa nya." ucap Michael sambil menuangkan teh hijau ke cangkir Rose.
"Makasih Tuan muda. Hehe..." ucap Rose sambil nyengir.
Michael merasa senang melihat senyuman di wajah Rose. Dia tidak terlihat cemas dan panik lagi.
Setelah selesai makan Michael membawa Rose ke toko ponsel, dia ingat handphone Rose tertinggal di mobil Wilson. Michael memilih model yang sama dengan miliknya, tak lupa dia meminta pergantian simcard dengan nomor yang sama untuk Rose.
"Ini berapa harganya? Kirimin nomor rekening kamu, nanti aku transfer." ucap Rose sambil mencoba handphone baru.
"Nggak usah di bayar. Handphone itu aku beliin buat kamu." jawab Michael dengan wajah kesal karena Rose ingin membayarnya.
"Ooo..." jawab Rose tanpa membantah.
Michael merasa heran dengan jawaban Rose yang tidak menyanggah ucapan nya. Namun sikap penurut Rose membuat rasa kesal Michael menghilang di gantikan dengan senyuman manis di wajah nya.
Michael membuka pintu mobil untuk Rose, sebelum Rose masuk ke mobil, dia teringat dengan pesan Dokter Frans agar menulis buku diary. Rose menatap wajah Michael yang masih memegang pintu mobil.
"Kenapa?" tanya Michael.
"Hmm... itu, aku mau beli buku dulu. Temenin..." ucap Rose dengan ragu.
Michael menutup kembali pintu mobil, dia menggandeng tangan Rose, mereka masuk ke sebuah toko buku yang ada di dalam mall.
Rose dengan semangat memilih buku diary, Michael dengan setia menunggu di samping nya.
"Yang ini atau ini?" tanya Rose dengan menunjukkan 2 buah buku di tangan nya.
"Terserah, sama aja." jawab Michael yang tidak tertarik memilih cover buku. Baginya buku hanya di gunakan untuk mencatat, cover buku tidak lah penting.
Wajah Rose berubah cemberut, dia merasa bosan belanja bersama pria arogan dan dingin seperti Michael.
Berbeda dengan James, dia selalu membantu memilih dan memberikan pendapat saat mereka belanja bersama.
__ADS_1
Melihat wajah cemberut Rose, Michael memilih secara asal salah satu buku di tangan nya.
"Ini aja lebih cocok sama kamu." ucap Michael sambil menunjuk buku yang berada di tangan kiri Rose.
Rose meletakkan kembali buku yang berada di tangan kanan dan segera menuju ke kasir, Michael membayar tagihan belanja Rose. Meskipun Rose tidak suka, dia terpaksa membiarkan Michael membayar karena saat keluar dari mansion dia tidak membawa uang sepeser pun.
Michael membawa barang belanja Rose, mereka bergandengan tangan menuju ke mobil. Rose menerima semua perlakuan Michael seperti sudah terbiasa, dia tidak menolak sikap Michael yang berusaha mendekati nya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Michael kembali ke rumahnya, dia tidak menginap lagi di mansion Rose karena Lily telah kembali. Namun Michael menyewa dua bodyguard yang akan mengikuti dan melindungi Rose secara diam-diam.
Michael di sibukkan dengan pekerjaan kantor yang sudah menggunung. Meski sibuk, dia tetap meluangkan waktu untuk menelepon bodyguard dan menanyakan kabar Rose.
Seminggu telah berlalu sejak pertemuan terakhir dengan Michael, Rose mulai terbiasa menulis buku diary.
Dia menulis kisah nya mulai dari hari pertama bertemu Wilson, tentunya kisah itu tentang masa lalu yang telah dia lalui selama 10 tahun.
Di masa lalu, Rose tidak pernah mengenal Michael, dia juga tidak mengenal Gerry. Tentu saja nama mereka tidak muncul di dalam buku diary nya.
Aku bertemu dengan pria yang bernama Wilson, pertemuan pertama kami membuat ku jatuh cinta pada pandangan pertama. Sejak saat itu, Wilson sering mendatangi rumah dan mengajak berkencan.
Beberapa kali Wilson mengajak ku untuk bertemu orang tua nya, namun aku menolak. Bukan karena tidak ingin, tapi aku masih malu dan tidak percaya diri untuk bertemu calon mertua.
Cinta kami terus tumbuh hingga kami yakin akan melanjutkan ke jenjang pernikahan, itu lah yang aku yakini tanpa tahu hati Wilson yang sebenarnya.
Tahun 2013
Wilson kembali mengajak bertemu dengan orang tua nya, karena telah yakin akan memilih Wilson sebagai pasangan hidup, akhirnya aku menyetujui ajakan Wilson.
Orang tua Wilson menyambut kedatangan ku di rumah mereka dengan sangat ramah. Meski mereka menanyakan banyak pertanyaan secara bertubi-tubi, kebahagiaan yang ku rasakan tidak berkurang karena keramahan mereka.
Wilson adalah sosok kekasih yang baik, dia sangat sabar dan penyayang. Setiap hari, Wilson menunggu di gerbang kampus dan mengantarkan aku pulang ke rumah.
Hidup kami saat itu benar-benar bahagia. Hingga suatu hari, aku melihat Wilson berdua di dalam mobil bersama wanita yang bernama Luna Winata.
Hati ku tidak tenang ketika melihat wanita itu terus lengket di sisi Wilson. Ingin rasanya aku memenjarakan Wilson di kamar dan melarangnya untuk bertemu dengan wanita lain.
__ADS_1
Tahun 2014
Setelah melalui banyak pertengkaran, Wilson melamar ku untuk menjadi istrinya, namun saat itu usia ku yang masih belia membuat papa dan mama tidak menyetujui pernikahan kami.
Orang tua Wilson mengusulkan agar kami bertunangan lebih dulu sebelum menikah, Papa dan Mama dengan berat hati menyetujui pertunangan kami.
Sebulan setelah bertunangan, Wilson mulai bekerja di perusahaan Papa. Dia di berikan wewenang untuk mengelola aset perusahaan A-More yang telah susah payah di besarkan oleh Papa hingga masuk dalam daftar 10 perusahaan terbesar di Kota X.
Tahun 2015
Ini adalah tahun di mana penderitaan keluarga ku di mulai. Perusahan A-More mulai runtuh, perlahan saham di tangan Papa dan milik ku di ambil alih oleh Wilson.
Kemudian di susul dengan kecelakaan yang di alami Mama saat kembali ke kota X, mobil yang di bawa Mama menabrak pembatas jalan dan meledak karena kebocoran bensin. Meski tidak ada bukti, kecelakaan itu jelas di lakukan oleh seseorang yang ingin membunuh Mama.
Mama meninggal saat di bawa ke rumah sakit, Dokter mengatakan bahwa luka bakar di tubuh Mama adalah penyebab utama kematiannya.
Beberapa minggu setelah kabar duka itu, Papa tiba-tiba saja mengalami serangan jantung. Kami membawa Papa ke rumah sakit dan merawatnya di sana.
Mulai saat itu, hidup ku dan Lily mulai berubah. Kami terpaksa bekerja untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari.
Saat itu aku masih berusia 22 tahun dan Lily 19 tahun. Kami bekerja di beberapa tempat untuk membayar tagihan rumah sakit Papa yang makin hari makin membengkak.
Wilson? Pria tidak bertanggung jawab itu menertawakan penderitaan keluarga kami tanpa rasa iba sedikit pun. Saat itu aku baru mengerti, perasaan yang dia tunjukkan padaku selama ini hanya sandiwara belaka.
Sakit hati, benci, dendam, semua menjadi satu. Walaupun aku menyesali nya, waktu tidak akan terulang kembali. Mama telah meninggal, Papa sakit dan sedang di rawat, Lily harus ikut menderita bersama ku di usia nya yang masih terbilang belia.
"Aku hanya ingin bahagia, kenapa begitu sulit?"
^^^BERSAMBUNG...^^^
Mohon dukungan teman-teman, dengan bantu
Vote dan Like 👍
Serta komentar sebanyak-banyaknya🤣
Terima Kasih 💖 Aku pada mu 💖
__ADS_1