Rose Second Life

Rose Second Life
Episode 83. SOS


__ADS_3

"Rose!" panggil Mama Daisy.


"Ya, Ma?"


"Michael kenapa? Kok tiba-tiba pergi gitu aja?"


"Rose juga nggak tau Ma, tapi dia memang selalu marah kalau Rose menyinggung tentang Mama Erna dan Papa Teddy."


"Kak, kakak nggak mau kejar?" tanya Lily.


"Biarin aja lah, dia tuh nggak sopan banget. Ngapain juga kakak yang samperin." sahut Rose dengan wajah kesal.


"Sudah, sudah, mungkin Michael memiliki masalah yang nggak bisa dia ceritakan. Kita maafin saja yah Pa." ucap Mama Daisy.


Papa Hanz mengangguk, dia tersenyum melihat istrinya yang begitu pengertian.


"Rose, kamu nggak mau lanjutin kuliah dulu biar cepat kelar?" tanya Papa Hanz.


"Nggak, kuliah nya nanti aja Pa. Rose lagi ada proyek kerja sama yang penting."


"Terserah kamu saja. Yang penting kamu harus ingat, kalau ada masalah jangan dipendam sendiri. Karena Rose masih punya Papa, Mama dan juga orang tua kandung yang menyayangi Rose apa adanya."


Rose mengangguk. "Terima kasih Pa. Rose juga sayang sama Papa dan Mama."


"Lily nggak di sayang juga, Kak?" protesnya.


"Iya, Lily juga di sayang kok." sahut Rose sambil mengelus kepala Lily.


"Hehe...!" Lily tersenyum senang sambil menatap wajah kakaknya.


Rose menatap ke arah pintu, dalam hati dia bertanya-tanya. "Dendam apa yang kamu miliki terhadap keluargaku? Sampai kapan kamu akan terus bersikap seperti ini?"


Setelah tiga hari cuti, Rose kembali bekerja. Dia telah berhasil mendapatkan kontrak kerja sama dengan perusahaan yang akan mengalami penanjakkan dalam beberapa tahun ke depan. Rose mencatat semua ingatan di kehidupan sebelumnya. Dia mengajukan kerja sama dengan semua perusahaan yang akan naik pesat dalam waktu dekat.

__ADS_1


"Nona, ada seseorang yang mencari Nona di lobby." lapor Kristan.


Kristan membawa segelas jus apel dan sepiring buah, dia meletakkan gelas jus dan piring buah di atas meja kaca. "Silahkan di makan dulu Nona Rose!"


"Terima Kasih!" jawab Rose yang lalu menghentikan semua aktifitasnya. Dia berjalan ke arah sofa lalu duduk di sana, Rose menikmati buah dan jusnya sambil menatap ke layar ponsel. Dia menunggu balasan pesan yang tadi pagi dia kirimkan kepada Michael.


"Kok belum di balas ya?" tanya Rose dalam hati.


Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore, Rose masih sibuk dengan pekerjaannya. Sementara Kristan membantu merapikan laporan yang sudah di periksa oleh Rose.


Sesekali Rose menatap layar ponsel, berharap jika ada pesan balasan dari Michael. Namun ternyata, hingga tiba waktu pulang kerja, belum ada pesan yang masuk dari Michael. Rose sedikit kecewa, namun dia tetap berpikiran positif.


"Mungkin Mike sedang sibuk."


"Nona Rose, nggak pulang?" tanya Kristan yang sudah bersiap-siap untuk pulang.


"Aku mau beres-beres dulu, kamu pulang duluan aja." sahut Rose.


"Saya duluan ya!" Kristan keluar lalu menutup pintu ruangan.


Rose berbalik ke belakang, dia menatap sekeliling ruangan parkir. Namun tidak ada satupun orang yang terlihat di sana.


"Apa cuma perasaan aku aja ya?" benak Rose.


Rose melanjutkan langkahnya, masih berkisar sekitar 20 langkah lagi untuk mencapai mobil merah milik Rose. Karena masih curiga, Rose mempercepat langkah ke mobil.


Setelah sampai di mobil, Rose membuka pintu mobil. Namun, belum sempat dia naik, sebuah balok melayang dari belakang, memukul kepala Rose hingga mengeluarkan darah. Karena pukulan itu begitu keras, Rose merasa pusing, dia akhirnya pingsan tak sadarkan diri.


Dua laki-laki membawa Rose ke dalam sebuah mobil van putih, mereka memasukkan tubuh Rose di kursi belakang. Mobil pun melaju meninggalkan area parkiran.


Setelah beberapa menit di jalan, Rose terbangun karena goncangan dari dalam mobil. Dia membuka mata dan melihat sekeliling, Rose menyadari jika ternyata dia sedang di culik oleh dua orang laki-laki yang tidak asing.


"Luna, lagi-lagi dia!" pikir Rose.

__ADS_1


Rose diam-diam mengeluarkan ponsel dari dalam tas, dia menghubungi Michael yang berada di nomor 1 panggilan cepat. Terdengar nada dering, namun tidak dijawab oleh Michael.


Rose mengetik pesan untuk Michael, "Tolong aku!"


Setelah memastikan pesannya terkirim, Rose menyembunyikan ponselnya di balik kemeja. Rose di bawa ke sebuah gedung tua, tempat Rose dulu di kurung oleh Wilson.


Sesampainya di gedung itu, Rose di angkat oleh kedua orang yang menculiknya. Dia di bawa ke sebuah ruangan sempit, di tengah-tengah ruangan hanya ada sebuah ranjang, tanpa bantal ataupun guling.


Mereka meletakkan tubuh Rose di atas ranjang, kaki dan tangan Rose di borgol dengan rantai besi. Kedua orang itu kemudian keluar meninggalkan Rose sendirian.


Setelah kepergian kedua orang itu, Rose membuka matanya. Dia mengeluarkan ponsel dari dalam kemeja. Rose semakin kecewa ketika melihat pesan darinya belum juga dibalas oleh Michael.


Rose lalu mengirimkan pesan SOS kepada James dan juga kedua orang tuanya. Rose mengirimkan lokasi dia berada saat ini kepada Mama Daisy dan Papa Hanz. Menyadari jika dia sedang dalam situasi yang buruk, Rose ingin menyampaikan kata-kata yang belum sempat dia sampaikan kepada Michael. Rose lalu mengetik pesan yang ditujukan untuk Michael.


"Di saat seperti ini, hanya kamu yang terlintas di dalam pikiranku. Mungkin ini adalah kesempatan terakhirku, itu sebabnya aku mengirimkan pesan ini untukmu.


Aku mencintaimu, Mike! Sangat-sangat mencintaimu!"


Setelah mengirimkan pesan, Rose mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat. Dia memutuskan untuk berpura-pura pingsan agar mereka lengah terhadapnya.


Beberapa menit kemudian, Luna datang bersama seorang laki-laki. Luna berjalan di depan, mereka menuju ke ruangan tempat Rose di tahan. Laki-laki itu membuka pintu, dia membiarkan Luna masuk terlebih dulu.


"Akhirnya aku bisa membalaskan dendamku!" benak Luna.


Luna menatap Rose yang masih berbaring lemah di atas ranjang, dia berjalan mendekat lalu tertawa keras secara tiba-tiba.


"Hahaha... Rose, kali ini kau tidak akan bisa kabur lagi!"


James menerima pesan dari Rose, dia segera menuju ke lokasi setelah menelepon polisi. Sementara Mama Daisy dan Papa Hanz langsung memanggil kenalan mereka yang bekerja sebagai tentara angkatan bersenjata. Mereka langsung menuju ke lokasi yang dikirimkan oleh Rose.


Gedung yang jauh letaknya membuat mereka harus menempuh perjalanan selama 2 jam. Langit pun mulai gelap, James membawa sepeda motor menyusuri jalanan yang berbatu. Sementara Mama Daisy dan Papa Hanz mengendarai mobil ke sana.


Setelah mendekati lokasi, James melihat asap gelap yang naik ke langit. Firasat buruk langsung menghampiri pikiran James, dia mempercepat laju sepeda motornya. Setibanya di lokasi, James melihat gedung yang sudah dilahap api, api yang sangat besar dan menjulang tinggi.

__ADS_1


"Rose!" ucap James yang kemudian mematung. Dia menatap kobaran api yang semakin membesar melahap benda-benda disekitarnya.


^^^BERSAMBUNG...^^^


__ADS_2