Rose Second Life

Rose Second Life
Perjodohan


__ADS_3

Nyonya Erna sudah menyampaikan kabar bahagia kepada suami dan ibu mertua. Mereka sangat bahagia mendengar kabar dari Nyonya Erna. Nenek Yun lalu menyuruh menantunya itu untuk menghubungi Rose. Namun ternyata Rose tidak menjawab panggilan telepon karena saat itu dia sedang mandi.


"Bagaimana ya cara kita menyampaikan kabar ini kepada Rose? Dia pasti kaget jika tau bahwa orang tuanya yang sekarang bukanlah orang tua yang melahirkannya." ucap Nenek Yun.


Paman Teddy dan Nyonya Erna saling bertatapan, mereka menyadari jika kenyataan ini pasti akan membuat hati Rose terpukul.


"Apa sebaiknya kita membicarakan hal ini dengan orang tua Rose dulu?" tanya Paman Teddy.


"Ya, itu lebih baik dari pada langsung memberitahu Rose." Nenek Yin setuju dengan rencana dari putranya. Begitu pula dengan Nyonya Erna. Dia mengangguk setuju dengan usul suaminya.


"Kalau begitu, Papa akan segera menghubungi keluarga Rose untuk membicarakan hal ini." ucap Paman Teddy.


Nyonya Erna tampak berpikir sesaat, "Kenapa Rose bisa berada bersama mereka ya Pa? Apa mungkin mereka yang sudah menculik Rose?" tanya wanita itu sedikit curiga.


"Gak mungkin dong Ma, kita kan gak kenal orang tua Rose. Mana mungkin mereka merencanakan hal ini." sanggah Paman Teddy yang di sertai anggukan dari Nenek Yun.


"Mungkin keluarga Rose yang sudah menolongnya. Sebaiknya kita tanyakan saja nanti setelah bertatap muka dengan orang tua Rose. Jangan mengambil kesimpulan sendiri, apalagi Rose sudah dibesarkan dengan baik oleh kedua orang tua asuhnya itu." ucap Nenek Yun menasehati menantunya.


"Baik, Ma!" jawab Nyonya Erna, dia sedikit merasa bersalah telah menuduh orang tua yang membesarkan anak kandungnya dengan baik.


Sementara itu Rose sedang menemani Papa Hanz dan Mama Daisy di rumah. Mereka bercerita banyak hal karena sudah lama tidak bertemu.


"Rose, kamu udah punya pacar ya?" tanya Mama Daisy.


"Gak kok Ma, Rose masih mau fokus belajar dan bekerja di kantor." jawab Rose.


"Bohong Ma, Kak Rose udah punya pacar." sahut Lily dari samping.


Rose melirik adiknya itu, Lily tersenyum mengejek kakaknya yang sedang berwajah kesal. Dia lalu memelet kakaknya yang masih menatap dengan kedua mata indahnya.


"Rose, kamu udah punya pacar? Bener yang di bilang Lily?" tanya Mama Daisy.


"Gak kok Ma, cuma temen aja. Kami gak pacaran." jawab Rose.


"Kau begitu, kamu mau gak Mama kenalin dengan anak teman Mama yang lagi cari jodoh?" tanya Mama Daisy.

__ADS_1


Rose terdiam sejenak, dia lalu menatap wajah Mama Daisy. "Rose mau, Ma!" jawabnya dengan wajah serius.


"Beneran kamu mau?" tanya Mama Daisy memastikan.


Rose mengangguk, dia sangat penasaran dengan pria yang akan di jodohkan dengannya.


"Kalau gitu, Mama buat janji ya buat malam ini. Rose bisakan nanti malam?" tanya Mama Daisy dengan bersemangat.


"Rose bisa kok, Ma!" jawab Rose sambil mengangguk pelan.


"Lily gak di ajak?" tanya adiknya yang berwajah cemberut.


"Lily mau ikut? Boleh aja sih. Mana tau anak temen Mama sukanya sama Lily. Besok kita pergi bareng aja ya." ajak Mama Daisy yang membuat Lily ikut bersemangat.


"Yes, bisa dong laporan ke Kak Michael." benak Lily.


Diam-diam Lily menyimpan nomor ponsel Michael saat Rose meninggalkan ponselnya di meja. Dia lalu menghubungi pria itu untuk memastikan bagaimana perasaan pria itu ke Kakaknya.


"Hallo...!" jawab Michael dari ponsel.


"Malam ini? Aku gak punya acara sih malam ini." jawab Michael.


"Kakak mau temenin aku ke restoran Haze?" tanya Lily.


"Jam berapa?" tanya Michael.


"Jam 7 malam Kak. Aku tunggu Kakak ya di sana. Jangan lupa Kak Michael. Sudah dulu ya. Bye bye...!" Lily langsung memutuskan sambungan telepon sebelum ditanya macam-macam oleh Michael.


Waktu yang ditentukan pun tiba, Rose dan Lily memakai dress selutut. Rambut panjang mereka yang berwarna hitam terlihat indah dengan gaun putih yang sederhana. Mama Daisy terlihat puas dengan kedua putrinya yang cantik itu.


Papa Hanz sudah menunggu di mobil, ketiga wanita itu berjalan anggun menuju ke depan. Sesekali Rose menatap layar ponselnya, berharap ada kabar dari Michael. Namun yang dia dapat hanya perasaan kecewa, sebab Michael tidak mengirimkan pesan ataupun menelepon Rose.


Mobil pun melaju, menuju ke Restoran Haze, tempat Mama Daisy membuat janji. Dalam waktu 30 menit, mobil sudah memasuki area parkiran. Mama Daisy minta di turunkan di depan pintu agar tidak perlu berjalan jauh ke dalam restoran.


"Lily juga mau turun di depan pintu, soalnya capek jalan pakai sepatu tinggi!" rengek Lily dengan suara manja.

__ADS_1


Papa Hanz memutar sekali lagi mobilnya, dia berhenti di depan pintu agar ketiga wanita kesayangannya bisa masuk duluan tanpa harus berjalan jauh.


"Rose temenin Papa aja." ucapnya ketika mobil baru berhenti.


"Gak pa-pa sayang, kamu turun aja bareng Mama dan Lily. Papa gak pa pa kok jalan sendiri nanti." tolak Papa Hanz karena tidak ingin putrinya berjalan terlalu jauh dengan sepatu high heels.


"Gak, Rose temenin Papa aja ke parkiran." jawab Rose dengan yakin. Dia tidak ingin Papanya sendiri di parkiran.


"Ya udah, kalau gitu Rose sama Papa aja. Lily sama Mama turun duluan." ucap Mama Daisy menengahi.


Setelah kedua wanitanya turun, Papa Hanz melajukan mobilnya menuju ke parkiran. Rose tanpa sengaja melihat sebuah mobil yang tidak asing di sebelah mobilnya. "Bukannya ini mobil Michael?" pikirnya.


"Rose!" panggil Papa Hanz karena putrinya tak kunjung turun.


"I...iya, Pa!" jawab Rose yang segera turun dari mobil. Matanya terus menatap ke arah mobil milik Michael, hingga langkahnya memasuki pintu restoran.


Rose masuk bersama Papa Hanz, dia menggandeng lengan Papanya yang masih terasa kuat meski usianya sudah berkepala lima. Mereka mencari keberadaan Mama Daisy dan Lily.


"Kak Rose!" panggilan dari Lily membuat Rose mengalihkan tatapannya ke arah suara. Lily melambaikan tangan agar Kakaknya lebih mudah mencari letak meja mereka.


Rose berjalan ke tempat Lily berada, dia masih menggandeng lengan Papa Hanz dan berjalan berdampingan. Rose melihat sosok pria muda yang dia kenali di sana. Hatinya sedikit terkejut, dia tidak menyangka jika pria yang akan di jodohkan oleh Mamanya adalah pria yang sudah di kenal.


"Jun!" panggilnya ketika mereka bertatap muka.


"Rose!" sahut pria itu yang juga sama terkejutnya.


"Kalian sudah saling kenal?" tanya Mama Daisy.


"Iya Ma, Jun pernah nolongin Rose... Waktu ban mobil Rose pecah." jawab Rose berbohong. Dia lalu melirik Junaidy, memberi isyarat agar pria itu membantu menutupi kejadian yang sebenarnya.


Junaidy malah tersenyum lucu mendengar kebohongan dari Rose. Meski tidak membantu membohongi orang tua Rose, pria itu juga tidak mengadukan kejadian yang sebenarnya terjadi. Itu cukup membuat Rose merasa lega.


Sementara itu, sepasang mata sedang menatap Rose dari sudut ruangan. Hati pria itu kini penuh dengan amarah, dia cemburu melihat Rose sedang mengadakan perjodohan dengan pria lain. Wajah pria itu bahkan tak asing di matanya.


"Rose, apakah ini jawabanmu?" benak Michael.

__ADS_1


__ADS_2