Rose Second Life

Rose Second Life
Episode 84. Masih di gedung


__ADS_3

Berselang beberapa waktu kemudian, James melihat dua mobil hitam yang mendekat ke arahnya. Mobil itu berhenti di samping sepeda motor James. Pintu mobil dibuka, Mama Daisy turun lebih dulu lalu di susul oleh Papa Hanz.


Mama Daisy begitu terkejut melihat api yang melahap semua bangunan di depan matanya.


"Rose, Rose ada di dalam Pa!" ucap Mama Daisy yang masih menatap kobaran api.


Papa Hanz juga tampak sangat terkejut, dia memeluk istrinya yang hampir menerjang ke dalam kobaran api.


"Ma, jangan bertindak gegabah. Kita masih belum tau keadaan yang sebenarnya."


James menghubungi mobil pemadam kebakaran, setelah beberapa menit, puluhan mobil pemadam kebakaran tiba di sana. Butuh waktu yang lama untuk memadamkan api karena kobaran api terlalu besar.


Setelah api padam, beberapa petugas masuk ke dalam untuk memeriksa apakah ada korban jiwa di dalam gedung yang terbakar itu. Mereka menemukan empat mayat berjenis kelamin laki-laki dan satu mayat perempuan.


Tangan mayat perempuan itu sedang memegang sebuah ponsel, ponsel yang sangat mirip dengan milik Rose. Tangisan Mama Daisy langsung keluar begitu dia memastikan jika ponsel itu memang milik Rose.


James terduduk dan menangis dengan sangat sedih di atas tanah. Papa Hanz juga begitu terpukul melihat kondisi mengerikan putrinya yang sudah gosong di lalap api.


Polisi membawa semua mayat ke rumah sakit untuk di otopsi. Mama Daisy dan Papa Hanz ikut ke rumah sakit, sementara James masih duduk di atas tanah, sesekali air mata mengalir membasahi pipinya. James menyesal karena dia datang terlambat.


"Seandainya aku tiba lebih cepat, Rose pasti masih hidup. Aku sahabat yang tidak berguna, maaf... Aku benar-benar minta maaf."


Kantor Michael


"Jadi kita akan menggunakan sampel ininsebagai uji coba. Cari 50 orang peserta yang ingin mengikuti uji coba produk baru kita. Kalau bisa, pilih dari usia yang berbeda-beda agar kita bisa mendapat hasil yang lebih akurat."

__ADS_1


"Baik, Pak!"


"Sampai di mana rencana kerja sama dengan perusahaan otomotif?"


Gerry menghela napas melihat Tuan Mudanya yang menggila. Dia bekerja dari pagi hingga malam tanpa memberi waktu istirahat untuk karyawannya.


Karena bosan, Gerry membuka ponsel dan membaca berita terkini. dia melihat berita yang sedang heboh di sebuah situs berita tercepat. Gerry menatap foto gedung yang terbakar, dia melihat wajah yang tidak asing di dalam foto tersebut.


James, laki-laki itu masuk di foto karena dia masih duduk di depan gedung yang sudah menjadi lahapan si merah. Gerry membuka berita dan membaca isinya. Nama Rose di sebut di dalam berita, membuat jantung Gerry terasa lepas dan jatuh ke bawah.


"Tuan Muda!"


Michael menatap Gerry dengan wajah kesal karena dia mengganggu meeting mereka. Gerry tak peduli lagi, dia langsung menunjukkan foto di layar ponsel dan berkata kepada Michael.


"Nona Rose meninggal, beliau berada di dalam gedung yang kebakaran. Mayatnya sudah hangus terbakar hingga sulit untuk dikenali."


Gerry menarik napas dalam-dalam, dia lalu menghembuskan napas itu dengan cepat. "Tuan Muda, saya tidak pernah bercanda dengan masalah seperti ini."


Michael berdiri, dia berlari kencang menuju ke parkiran. Gerry menyusul dari belakang, kedua laki-laki itu masuk ke dalam mobil. Gerry melihat nama rumah sakit tempat mayat-mayat di otopsi.


"Tuan Muda, kita ke Rumah Sakit Emerald?" tanya Gerry sambil menatap wajah Michael.


"Tidak, kita ke gedung yang terbakar itu!" ucap Michael.


Michael mengeluarkan ponselnya, dia membuka melihat puluhan panggilan dari Rose yang tidak terjawab. Michael kemudian membuka pesan dari Rose, dia membaca pesan itu dengan mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


"Kenapa malah ke bangunan yang terbakar itu?" tanya Gerry dalam hati. Namun dia tetap melajukan mobil menuju ke sana.


James masih berada di sana ketika Michael tiba, laki-laki itu segera masuk ke dalam bangunan itu. Melihat Michael yang berlari masuk, James mengikuti langkahnya dari belakang. Gerry juga ikut masuk untuk memantau Tuan Mudanya yang suka bertindak gegabah.


Michael melihat sekeliling ruangan yang sudah menghitam, dia terlihat seperti mencari sesuatu. Karena penasaran, Gerry pun bertanya kepada Tuan Mudanya.


"Tuan Muda, apa yang sedang anda cari?"


"Tangga! Tangga menuju ke bawah tanah." jawab Michael yang masih sibuk mencari dengan melihat sekeliling ruangan.


Michael mencoba mengingat kalimat yang tertulis di buku diary milik Rose.


Isi Diary


Aku tidak tau sudah berapa lama aku terkurung di sini, tidak ada matahari ataupun bulan dan bintang. Hanya ada dinding dan langit-langit yang polos berwarna putih. Tangan dan kaki ku semakin kurus dari hari ke hari, aku merasa lelah dan tidak bertenaga.


Meskipun aku tidur sepanjang hari, aku tidak memiliki kekuatan untuk melawan seorang Wilson ataupun Luna. Ketika mereka datang kemari hanya untuk menyiksaku, aku pasrah dan menerima segala perlakuan kasar mereka. Bukan karena aku tidak ingin melawan, tapi karena aku tidak memiliki kekuatan untuk melawan.


Sampai suatu hari, seorang laki-laki datang menemui ku, dia memeriksa kondisi tubuhku yang selalu merasa lelah. Dokter muda itu lalu bertanya dengan suara pelan, "Nona, kenapa anda mengkonsumsi obat tidur setiap hari?" mendengar pertanyaan itu, aku sedikit bingung. Sebab aku tidak pernah mengkonsumsi obat apapun selama di kurung.


Ternyata, semua ini adalah ulah dari Luna. Dia sengaja menyuruh pekayan yang membawa makanan untuk menaruh obat tidur di dalam makanan ataupun minuman. Pantas saja aku selalu merasa mulutku terasa pahit, aku masih berpikir jika semua rasa pahit itu disebabkan oleh pahitnya hidup yang ku jalani.


Setelah mendengar pernyataan dari Dokter, aku berusaha untuk tidak menyentuh makanan dan minuman yang diberikan oleh pelayan. Aku hanya makan jika dibawakan oleh Wilson. Sejak saat itu, kesehatanku mulai pulih, aku merasa lebih bertenaga.


Hari itu, aku melihat sebuah kesempatan untuk kabur. Wilson merasa kasihan kepadaku, dia melepaskan borgol di tanganku, lalu membiarkan aku untuk berkeliling di dalam bangunan.

__ADS_1


Aku masuk ke sebuah ruangan, ruangan itu dipenuhi oleh beberapa brankas besi. Tanpa sengaja, aku melihat sebuah lantai keramik yang berbeda. Aku mendekati lantai keramik itu, kaki kananku menginjak keramik yang berwarna putih kebiruan di lantai.


^^^BERSAMBUNG...^^^


__ADS_2