Rose Second Life

Rose Second Life
Episode 95. Damai


__ADS_3

Michael lalu menjelaskan semuanya kepada Rose, di mulai dari kakaknya, Michelle yang menyukai Paman Teddy hingga kejadian bunuh diri yang menewaskan dua nyawa di hari yang sama.


"Mike, meskipun aku belum lama mengenal Papa Teddy, tapi aku yakin dia bukan orang yang seperti itu. Mungkin ada kesalah pahaman yang belum kalian jelaskan." ucap Rose sambil menatap mata Michael yang terlihat sedih.


Michael memang merasa ada yang aneh, sebab di dalam diary Michelle, Paman Teddy di gambarkan sebagai sosok pria yang baik hati dan dermawan. Jika penilaian dari Michelle memang benar, tidak mungkin pria itu akan menelantarkan anak di dalam rahim Michelle. "Kecuali, itu bukan anak dari Teddy!" pikir Michael.


Papa Hanz dan Mama Daisy saling menatap. Mereka bimbang harus bagaimana menghadapi situasi ini. Jika mereka mengatakan yang sebenarnya, hati Michael dan keluarganya pasti akan lebih hancur lagi. Mengingat putri mereka menjadi korban pemerkosaan hingga menyebabkan dirinya bunuh diri. Akan tetapi, apabila hal ini tidak dijelaskan, maka seumur hidup Michael akan terus membenci orang tua kandung Rose.


"Apa yang harus kita lakukan, Pa?" bisik Mama Daisy yang baru saja berpindah ke samping tempat duduk Papa Hanz.


"Mungkin sebaiknya kita memberitahukan hal ini kepada Michael. Selanjutnya, dia sendiri yang akan memutuskan, apakah akan memberitahu kepada orang tuanya atau tidak. Tetapi Papa rasa, mereka berhak mengetahui kejadian yang sebenarnya meskipun akan membuat luka itu kembali menganga." ucap Papa Hanz yang terdengar oleh Michael.


"Apa yang harus aku ketahui?" tanya Michael penasaran.


"Nak Michael, sebenarnya kejadian itu bukanlah kesalahan dari Teddy." ucap Mama Daisy.


Papa Hanz lalu menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada Michael. Setelah selesai mendengarkan penjelasan dari Papa Hanz, hati Michael srmakin tertekan dan bersedih atas kematian Michelle. Dia juga merasa bersalah karena telah membenci orang yang salah selama puluhan tahun ini.


Kebencian di dalam hati Michael telah membutakan dirinya, padahal dia jelas tahu jika kedua orang tua kandung Rose memang memiliki reputasi yang baik dan juga sangat sering menolong orang lain.

__ADS_1


"Aku, harus meminta maaf kepada Papa dan Mama kamu Rose." ucap Michael yang lalu berdiri dari duduknya.


"Aku ikut ya!" ucap Rose sambil tersenyum.


"Kita pergi sama-sama aja. Gimana?" ajak Mama Daisy yang langsung di setujui oleh Papa Hanz dan Lily.


Rose ikut di mobil Michael, sementara Papa Hanz, Mama Daisy dan Lily pergi dengan mobil milik Papa Hanz. Sesampainya di rumah keluarga Yun, Michael membuka pintu untuk Rose dan membantunya turun dari mobil. Lily menekan bel pintu rumah, beberapa saat kemudian seorang wanita paruh baya membukakan pintu.


"Eh Non Rose, sudah lama nggak main kemari. Non sudah sehat? Ini siapa, kok rame?" tanya Mbok Siti bertubi-tubi sambil menyunggingkan senyuman ramah.


"Sore Mbok, Papa dan Mama ada di rumah?" tanya Rose tanpa menjawab pertanyaan Mbok Siti yang sangat panjang.


Paman Teddy, Nyonya Erna dan Nenek Yun sedang duduk di taman, mereka menikmati waktu bersama di temani dengan secangkir teh dan kue-kue manis kesukaan nenek Yun.


"Pa, Ma, Nek!" panggil Rose begitu mendekati tempat duduk mereka.


Papa Hanz dan Mama Daisy tersenyum ramah sambil mengucapkan salam. Sementara Michael langsung bersujud di depan ketiga orang yang sedang duduk di depannya.


"Ada apa ini?" tanya Nenek Yun kebingungan. Nenek Yun berdiri dari duduknya, dia segera menghampiri Michael dan membantunya untuk berdiri. "Bangun Nak, jangan berlutut seperti ini karena kamu seorang laki-laki yang harus memiliki harga diri. Jangan berlutut! Ayo berdiri!" titah Nenek Yun sembari menarik lengan Michael.

__ADS_1


"Aku akan berlutut di sini demi mandapatkan maaf dari kalian semua." ucap Michael dengan wajah serius. "Om Teddy, Tante Erna, maafkan aku karena telah bersikap tidak sopan selama ini. Aku benar-benar menyesalinya."


Paman Teddy dan Nyonya Erna menatap Papa Hanz, laki-laki itu mengangguk. Mereka seolah berbicara dengan menggunakan mata, dan Papa Hanz pun mengangguk untuk memberitahukan kepada mereka jika Michael sudah mengetahui rahasia yang mereka sembunyikan selama ini.


"Berdiri dulu, kita bicarakan baik-baik." bujuk Nenek Yun lagi.


Melihat sikap Nenek Yun yang begitu baik dan tulus, hati Michael semakin merasa bersalah. "Betapa bodohnya aku, selama ini tidak melihat kebaikan dan ketulusan di mata mereka." benak Michael.


"Kami tidak pernah menyalahkan kamu, jadi jangan meminta maaf. Ayo duduk di sini, kita minum teh bareng-bareng aja yah!" ajak Nyonya Erna.


"Mbok, tolong siapkan teh untuk tamu kita, eh salah, bukan tamu tapi keluarga kita." ucap Nyonya Erna sambil terkekeh.


Michael lalu berdiri, dia duduk di samping Rose dan Lily. Mama Daisy dan Nyonya Erna sibuk membicarakan bunga yang baru mekar, sementara Lily dan Rose sibuk makan kue manis bersama Nenek Yun. Paman Teddy dan Papa Hanz serta Michael membahas tentang bisnis dan usaha yang bisa berkembang belakang ini.


Semua sibuk membahas hal lain sehingga tidak ada satupun orang yang mengingat tujuan mereka datang ke rumah keluarga Yun. Rose merasa bersyukur karena mereka semua sudah rukun. Salah paham pun sudah berakhir dengan damai. Hanya tersisa satu masalah, yaitu Papa dan Mama Hoffmann yang masih belum diberitahu kenyataan sebenarnya.


Dalam perjalanan pulang, Michael terus memikirkan bagaimana cara memberitahukan hal ini kepada kedua orang tuanya. Dia tidak ingin membuka kembali luka mereka yang baru mulai sembuh. Tapi jika terus di rahasiakan, mereka pasti akan menentang hubungannya dengan Rose.


"Pilihan mana yang harus ku ambil?" benak Michael.

__ADS_1


^^^BERSAMBUNG...^^^


__ADS_2