
Nyonya Erna kini duduk di kursi yang terletak di samping tempat tidur Rose, mama Daisy duduk di seberangnya. Kedua wanita paruh baya itu menunggu Rose hingga hari mulai terang.
Michael baru saja kembali ke rumah mewahnya, dia pulang hanya untuk mandi dan mengganti pakaian. Setelah itu, Michael kembali ke rumah sakit untuk menemani Rose. Di koridor, Michael bertemu dengan Paman Teddy yang baru saja tiba. Laki-laki itu membawa sarapan untuk istrinya dan Mama Daisy.
"Kamu sudah sarapan?" tanya Paman Teddy kepada Michael saat mereka berpapasan.
Michael membuang muka, dia berjalan cepat menuju ke kamar, mengabaikan Paman Teddy yang masih berdiri diam di tempatnya. Merasa tak asing, Paman Teddy berpikir, di mana dia pernah melihat wajah Michael sebelumnya. Namun dia tidak bisa mengingat jawaban dari pertanyaannya itu.
Michael masuk ke dalam kamar, dia menatap wajah Rose yang belum juga tersadar. Ingin rasanya Michael membawa Rose pulang ke rumahnya, agar dia tidak perlu berebutan untuk berada di samping Rose.
__ADS_1
Paman Teddy membuka pintu, dia masuk ke dalam kamar. Dia meletakkan dua bungkusan makanan dan minuman di atas meja. "Yuk makan Ma, Nyonya Daisy." ajaknya, ia lalu menatap Michael yang masih berdiri, dengan mata yang tertuju ke arah Rose.
"Siapa sebenarnya anak muda ini? Aku melihat kebencian di matanya ketika kami bertatapan tadi." pikir Paman Teddy.
Kedua Mama Rose berdiri dari tempat duduknya, mereka berjalan ke kursi sofa yang berada di dinding sebelah kanan. Paman Teddy membuka mengeluarkan makanan yang baru saja dia beli saat dalam perjalanan menuju ke rumah sakit. Dia memberikan masing-masing satu porsi kepada Mama Daisy dan Nyonya Erna.
"Ma, mau teh atau kopi?" tanya Paman Teddy sambil menatap wajah istrinya yang terlihat lelah, setelah semalaman wanita itu belum memejamkan mata.
"Papa kenapa? Kenapa melihatnya dengan tatapan seperti itu?" benak Nyonya Erna.
__ADS_1
Paman Teddy terus mencoba untuk mengingat siapa Michael, kenangan yang ingin dia lupakan malah kembali menghantui pikirannya. Kini dia mengingat wajah anak laki-laki itu. Seorang anak laki-laki yang menangis histeris di depan makam kakaknya.
"Ternyata, dunia ini begitu sempit!" benak Paman Teddy.
Michael duduk di samping Rose, dia memegang tangan Rose yang terasa dingin. "Rose, aku memang membenci ayah dan ibu kandungmu. Tapi itu tidak akan menjadi penghalang di antara hubungan kita. Aku janji, aku akan memperlakukanmu dengan baik. Kumohon, bukalah matamu! Banyak yang ingin ku beritahukan kepada mu." ucap Michael dalam pikirannya.
Jari Rose bergerak, Michael merasakan gerakan itu. "Rose!" panggilnya pelan. Mata Rose mengerjap, membuka perlahan-lahan. Dia mengamati sekeliling ruangan yang terlihat asing baginya, matanya lalu menoleh ke samping.
Rose tersenyum lemah, "Mike... Apakah aku sedang bermimpi?" ucapnya dengan suara kecil namun terdengar oleh Michael.
__ADS_1
Semua yang berada di dalam kamar segera mendekat, mereka memanggil Rose dan menatap wajahnya yang masih sangat pucat. Mama Daisy berdiri di sisi tempat tidur, dia mengelus pelan wajah Rose. "Sayang, akhirnya kamu bangun. Ada yang sakit, Nak? Mama panggilkan dokter ya!"
^^^BERSAMBUNG...^^^