Rose Second Life

Rose Second Life
Episode 43


__ADS_3

Viona pulang dalam kondisi syok, dia jadi lebih sering diam di dalam kamar. Tawa dan senyum yang biasanya terlihat di wajah Viona sudah tidak pernah lagi ia tunjukkan. Frans yang selalu dekat dengan Viona mencoba mencari tau apa yang terjadi dengan adiknya, namun gadis itu tetap diam meski ditanyai berkali-kali.


Sebulan setelah kejadian itu, Alex masih memainkan perannya sebagai pacar yang baik. Perhatian dari Alex membuat Viona merasa bersalah karena ia merasa dirinya sudah kotor.


Hingga suatu hari, kemunafikan Alex akhirnya terbongkar oleh mulutnya sendiri. Saat itu Alex membuat janji bersama temannya untuk bertemu di sebuah restoran Jepang, kebetulan Viona juga berada di restoran itu bersama Frans.


Viona masuk ke kamar mandi untuk membersihkan noda di bajunya yang terkena tumpahan sup. Betapa terkejut hati Viona saat melihat Alex bersama Ken masuk ke ruang VIP yang ada di restoran itu.


Karena penasaran, Viona mengintip Alex dari luar pintu. Gadis itu melihat Dion yang juga berada di ruangan yang sama dengan Alex, semakin gelisah dan kacau hatinya mengetahui jika ternyata Alex mengenal kedua pria yang telah menodai dirinya.


"Lex, dimana wanita yang kau berikan pada kami bulan lalu?" tanya Ken.


"Masih aku pacarin." jawab Alex.


"Kapan kau ngasih kami jatah lagi?" tanya Ken.


Mendengar percakapan itu membuat hati Viona bagai disambar petir. Dia baru tau jika selama ini Alex adalah pelaku utama pria yang telah mengambil kesuciannya. Dengan air mata yang berderai, Viona keluar dari restoran itu, ia meninggalkan Frans yang masih menunggu di dalam sana.


Beberapa hari kemudian Alex masih datang menemui Viona, seperti biasa, pria itu akan bersikap perhatian dan manis didepan wanita itu. Namun Viona yang sudah mengetahui kebusukan Alex tentu saja merasa marah. Tanpa sadar Viona menampar pipi Alex, pria itu terdiam sesaat sebelum akhirnya dia mengeluarkan sifat aslinya.


Viona di ancam untuk melayani nafsu birahi ketiga pria itu, jika Viona menolak, Alex akan menyebarkan video yang sudah dia rekam ke media sosial. Karena takut aibnya akan terbongkar, Viona dengan terpaksa menjadi budak ketiga pria itu.


Alex akan menelepon Viona setiap kali dia ataupun temannya memerlukan wanita untuk bersenang-senang. Awalnya hanya 3 pria itu saja, namun semakin hari, Alex terus mengajak pria lain untuk ikut menyetubuhi Viona.


Rasa malu dan tekanan batin Viona tidak bisa dia ungkapkan kepada keluarganya. Viona menjadi semakin pendiam, sifatnya yang ceria sudah tergantikan dengan wajah murung dan tertekan. Frans selalu mencoba bertanya kepada Viona, namun gadis itu selalu menjawab jika ia baik-baik saja.


Enam bulan berlalu, Viona yang sudah tidak tahan lagi menghadapi tekanan batinnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Viona melompat dari gedung hotel dimana ia terakhir kali melayani pria-pria bajingan yang mengancamnya.


Frans sangat terpukul dengan kematian Viona, dia tidak pernah menyangka jika adiknya akan mengakhiri hidupnya sendiri. Frans sangat menyesal karena sudah menyepelekan sifat adiknya yang berubah. Dia menyalahkan dirinya atas kematian Viona.


Setelah acara pemakaman Viona berakhir, Frans masuk ke kamar adiknya. Dia merapikan barang-barang Viona yang ada di atas meja. Disana Frans menemukan buku diary yang ditulis oleh Viona. Semua kejadian buruk yang menimpa dirinya tertulis di dalamnya.

__ADS_1


Frans sangat marah, sangat-sangat marah hingga akhirnya dia menemui Alex untuk membalaskan dendam Viona. Namun negara hukum ini memiliki peraturan, Frans sadar dia tidak boleh membunuh Alex hanya karena keinginannya untuk membalaskan dendam Viona.


Setelah menghajar pria itu hingga babak belur, Frans ditahan polisi selama sebulan karena tindak kekerasan terhadap Alex. Frans akhirnya menyerah, dia tidak lagi memiliki keinginan untuk balas dendam. Meskipun ia tidak terima, dia tidak memiliki bukti untuk menuntut Alex.


Sejak saat itu, Frans mempelajari ilmu tentang psikologi, dia berharap dengan ilmu yang dia pelajari dia bisa menolong orang-orang yang mirip dengan Viona. Dia ingin membantu mereka yang tidak memiliki tempat untuk menceritakan kesedihan dan penderitaan mereka.


Frans melihat Viona pada diri Rose. Dia melihat tatapan mata Rose yang sangat mirip dengan Viona sebelum ia bunuh diri. Namun bedanya, Rose memiliki satu kesempatan lain. Kesempatan untuk memulai kembali semuanya dari awal.


Saat Frans menyadari jika Rose memang terlahir kembali, pria itu sangat berharap agar Viona juga mendapatkan kesempatan yang sama. Kesempatan untuk hidup lagi dan kesempatan untuk memilih jalan hidup yang berbeda.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Mike!" panggil Rose saat melihat Michael yang sedang duduk termenung.


"Udah selesai?" tanya Michael.


"Udah, pulang yuk!" ajak Rose.


"Laper, tapi aku lagi nggak selera makan." jawab Rose.


Michael tersenyum licik, dia mendekat ke wajah Rose kemudian berbisik, "Makan aku aja gimana?"


Rose mengerutkan dahinya, dengan wajah cemberut dia menjawab Michael. "Mimpi!"


Wajah Rose yang mulai merona membuat Michael kegirangan. Sementara Rose hanya bisa mengutuki dirinya yang sedang membayangkan adegan-adegan nakal didalam pikirannya hingga membuat jantungnya berdetak kencang.


"Ger, kita berhenti di restoran terdekat ya!" perintah Michael.


"Siap Bos!" jawab Gerry dengan semangat.


"Aku nggak mau makan, aku mau pulang aja." ucap Rose.

__ADS_1


"Aku mau makan, jadi kamu tungguin aku makan dulu!" ucap Michael dengan nada bossy nya.


Rose hanya bisa mengalah karena dia terlalu lelah untuk berdebat dengan Michael yang selalu pandai bersilat lidah.


Mobil berhenti di sebuah restoran seafood, seperti biasa Gerry akan membuka pintu mobil untuk Michael. Rose ikut turun dari pintu yang sama dengan Michael karena sisi pintu yang satunya terhalang mobil lain yang terparkir berdekatan.


Michael memilih meja yang ada di dekat jendela, dia sengaja memilih meja itu karena dia tau jika Rose menyukai paparan cahaya matahari.


Seorang pelayan membawakan menu makanan, "Silahkan!" ucapnya.


Michael langsung menyambar buku menu dari tangan pelayan, dia memesan banyak makanan dengan porsi kecil.


Beberapa saat kemudian pelayan kembali dengan mengantarkan makanan yang sudah dipesan oleh Michael. Pria itu langsung menikmati makanan yang sudah disajikan bersama Gerry.


Rose menatap makanan yang ada di meja, tanpa sadar ia menelan air liurnya. Apalagi ketika melihat Michael dan Gerry yang sedang makan dengan lahapnya, cacing di perut Rose seakan meminta jatah makanan mereka.


"Kenapa? Mau?" tanya Michael saat ia melihat Rose menatapnya.


Rose perlahan mengangguk.


Michael menyendok sepotong daging steak, "Aaaaa...!" ucapnya sambil menatap Rose.


Rose pun menurut, ia membuka mulutnya dengan lebar, Michael memasukkan potongan makanan itu ke mulut Rose.


"Enak?" tanya Michael sambil tersenyum.


"Enak pake banget!" jawab Rose dengan bersemangat.


"Senang melihatnya sudah kembali ceria!" benak Michael.


^^^BERSAMBUNG...^^^

__ADS_1


__ADS_2