
Dengan langkah yang terasa semakin berat dan hati yang cemas tak karuan, Nyonya Erna berjalan masuk ke dalam rumah sakit. Wajahnya terus menunduk, menatap ke lantai seolah mencari sesuatu di atas permukaan lantai. Namun sesungguhnya wanita itu hanya terlalu gugup.
Begitu tiba di depan pintu ruang dokter, detak jantung Nyonya Erna semakin cepat. Pelan-pelan, dia mengetuk pintu ruangan. Terdengar suara yang berkata, "Masuk!" Nyonya Erna membuka pintu tersebut lalu masuk ke dalam.
"Selamat Pagi, Bu Erna!" sapa Dokter ketika melihat wajah yang tak asing baginya.
"Pagi, Dokter Mira." jawab Nyonya Erna drngan wajah yang tegang.
"Silahkan duduk!" Dokter membuka laci meja, dia mengeluarkan sebuah amplop putih dari laci yang lalu diserahkan kepada Nyonya Erna.
"Ini hasil test yang sudah saya lakukan dengan kedua sampel rambut yang Nyonya berikan." ucap Dokter Mira sambil meneyerahkan amplop putih.
Nyonya Erna mengambil amplop itu dengan tangan yang gemetaran, dalam hati wanita itu berkata, "Semoga hasilnya tidak mengecewakan... Ku mohon, Ya Tuhan!"
Nyonya Erna membuka amplop dan mengeluarkan secarik kertas dari dalam. Dia melihat tulisan yang ada di atas kertas, angka 99,99% tertulis di sana. Senyum di wajah Nyonya Erna segera merekah, di ikuti oleh air mata yang turun begitu saja tanpa dia sadari. Air mata bahagia tentunya.
"Selamat ya Bu Erna, akhirnya Ibu menemukan putri kandung Bu Erna yang menghilang." ucap Dokter Mira.
Dokter Mira sudah sering mendapat tugas mengetest kecocokan DNA dari Nyonya Erna. Entah sudah berapa ratus kali wanita itu membawa sampel ke ruang kerjanya. Namun semua hasil test hanya tertulis 100% bukan hubungan ibu-anak. Dokter Mira turut bahagia karena Bu Erna berhasil menemukan putrinya setelah puluhan tahun.
"Terima Kasih..., Terima Kasih Dokter!" ucap Nyonya Erna yang masih menangis bahagia dengan senyum yang begitu indah. Beban di hatinya selama bertahun-tahun lenyap begitu saja. Dia merasa beruntung atas perjuangannya selama ini. Karena pada akhirnya, Tuhan menjawab semua doa-doanya.
"Terima kasih Tuhan... Terima kasih, karena telah menjawab dan mengabulkan doa hamba mu ini. Terima kasih...!" benak Nyonya Erna.
Nyonya Erna permisi pulang, dia sudah tidak sabar ingin membagikan kabar bahagia ini kepada suami dan ibu mertuanya. "Mereka juga pasti bahagia mendapat kabar gembira ini!" pikir Nyonya Erna.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rose baru saja terbangun, dia melihat jam kecil di samping tempat tidur. Waktu saat ini sudah menunjukkan pukul 7 pagi, Rose segera bangun dari tempat tidur.
Wanita itu merasa hatinya deg deg-an sejak pagi, rasanya sangat tidak nyaman. Firasatnya seakan memberitahu, hari ini adalah hari yang buruk untuknya. Rose masuk ke dalam mandi, dia melepas piyama dan juga semua pakaian yang melekat di tubuh.
__ADS_1
Rose menatap ke cermin besar yang berada di kamar mandi, "Perasaan ku sangat tidak nyaman, entah hal buruk apa yang akan terjadi hari ini." pikirnya.
Rose menyalakan keran air, shower dari atas menurunkan air hangat dan menerpa tubuh polos Rose. Selama beberapa menit, dia hanya berdiri diam dengan guyuran air dari kepala hingga ke kaki. Dalam pikiran Rose terlintas banyak hal, membuat dia termenung dan berdiri bagai patung.
"Ting Tong!"
"Ting Tong!"
Suara bel rumah membuat Rose terjaga, dia menutup keran air lalu menyambar handuk yang terletak di atas rak. Rose memakai kembali piyamanya lalu keluar dari kamar mandi. Dia lalu berjalan ke pintu depan untuk membukakan pintu.
"Ma, Pa!" panggilnya ketika melihat wajah kedua orang tuanya.
"Kakak gak lihat aku ada di sini juga?" protes Lily karena namanya yak di sebut.
Rose tersenyum mendengar ocehan adiknya, dia lalu memeluk tubuh kecil wanita itu sambil menepuk pelan punggungnya.
"Hai Lily, kakak senang kamu sudah kembali!" ucap Rose sambil menepuk-nepuk punggung Lily.
Papa Hanz juga turut melebarkan tangan, meminta pelukan dari putri nya yang sudah lama tak berjumpa. Rose memeluk mereka berdua, dia lalu mengucapkan selamat datang kepada Papa dan Mamanya.
"Ayo masuk!" ajak Rose sambil menarik koper yang di bawa Papa Hanz dan Mama Daisy. Lily pun hendak protes lagi sebab kopernya tidak di bawakan oleh Rose. Namun tak jadi karena melihat wajah Rose yang tiba-tiba berubah muram.
"Kakak kenapa ya?" tanyanya dalam hati.
Rose menelepon Kristan, dia meminta asistennya itu untuk membatalkan semua janji dengan klien. Kristan langsung menyiakan tanpa bertanya alasannya. Rose kemudian menatap layar ponsel, sepuluh panggilan tak terjawab dari Nyonya Erna tertera di layar.
"Ada apa ya Tante Erna telepon pagi-pagi?" tanya Rose kepada diri sendiri. Dia lalu menelepon balik ke nomor ponsel Nyonya Erna. Belum sempat telepon itu berdering, Lily mengetuk pintu kamar. Membuat Rose menutup panggilan di ponsel, dia lalu menatap adiknya yang sudah berdiri di depan pintu.
"Ada apa Lily?" tanya Rose.
"Kak Rose, lagi berantem sama pacar?" tanya Lily kepo.
__ADS_1
"Gak kok, kakak kan belum punya pacar." jawab Rose.
"Ah masa???" ledek Lily sambil tersenyum.
"Iya, kak Rose ga punya pacar kok."
"Terus, cowok yang hari tuh bukan pacar?" tanya Lily dengan wajah bingung.
"Bukan, cuma temen."
"Baiklah, kalau gitu Lily boleh dong jadiin dia pacar Lily." goda gadis kecil itu lagi sambil tertawa lebar.
Rose mengerutkan dahi, dia lalu menjawab, "Silahkan aja kalau Lily mau."
"Bener yah, Kak Rose nanti gak boleh marah yah kalau Lily udah jadiin cowok itu pacar Lily." ucapnya dengan nada serius.
Rose menatap wajah Lily yang terlihat serius, dia pun bertanya-tanya dalam hati, "Apa mungkin Lily menyukai Michael?"
"Tuh kan! Kak Rose sampe mikir segitunya. Lily bercanda lho Kak, bercanda! Lily masih mau sekolah, belum mau mikirin pacaran. Tapi kalau buat Kak Rose, jangan terlalu lama berpikir. Nanti malah cowok itu di ambil orang!" ucap Lily yang seolah mengetahui perasaan Rose.
Rose terdiam, dia memikirkan kata-kata Lily yang membuat hatinya sedikit gelisah. "Mike, apakah kamu sudah menyukai wanita lain? Itu sebabnya kamu mulai mengabaikan aku?" pertanyaan dalam hati Rose.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Wilson berada di sebuah gudang gelap, tempat dia mengurung Rose di masa lalu. Dia bersama dengan Luna dan 4 orang laki-laki bereajah sangar. Luna duduk di kursi yang berada di samping tempat duduk Wilson. Sementara 4 laki-laki itu berdiri tegak di depan Wilson.
"Tugas kalian, bawa wanita yang ada di foto ini kemari!" titah Wilson di hadapan para lelaki itu.
Luna tersenyum mendengar kalimat yang diucapkan oleh Wilson. Dia tak sabar melihat wanita yang dibencinya itu terperangkap di dalam gudang ini. "Semoga kau membusuk di sini!" batin Luna.
^^^BERSAMBUNG...^^^
__ADS_1