Rose Second Life

Rose Second Life
Episode 41


__ADS_3

"Silahkan masuk, Tuan Wilson sudah menunggu Nona." ucap Leo dengan segera untuk menghindar dari sikap SKSD Luna.


Luna membuka pintu tanpa mengetuk, hal itu membuat Wilson jengkel. Dia menatap ke arah pintu, begitu melihat wajah Luna, pria itu mengerutkan alisnya.


"Kenapa kamu telat terus sih?" tanya Wilson kesal.


Luna berjalan mendekat, dia mengalungkan lengannya di leher Wilson. Saat pria itu membuka mulut hendak mengomel lagi, dengan cepat Luna membungkam mulut Wilson dengan bibirnya yang berlapis lipstik merah.


"Hey baby... Kamu kenapa? badmood?" tanya Luna setelah mengakhiri ciuman panas mereka.


"Aku merasa seperti ada seseorang yang sengaja mengagalkan semua kerja sama yang sudah aku targetkan." ucap Wilson.


"Lagi-lagi masalah kerjaan. Aku lelah selalu mendengar keluhannya setiap kali aku datang kemari!" keluh Luna dalam pikirannya.


"Aduh, sayang... maaf banget ya. Aku lupa kalau hari ini aku punya janji sama Mama. Jadi aku pergi dulu yah!" ucap Luna, dengan segera ia melepas tangannya dari Wilson dan berjalan keluar dari ruangan itu.


"Ckkk... Cewek nggak berguna!" ucap Wilson setelah pintu tertutup.


"Kacau semuanya! Wanita itu... Sejak mengenal wanita itu hidupku jadi kacau semuanya, nggak ada satu pun rencana yang berjalan dengan lancar."


Pria itu tiba-tiba saja tersenyum, wajah liciknya seolah mengatakan jika ia baru saja mempunyai suatu rencana jahat yang terlintas dalam pikirannya.


"Leo!" panggilnya dengan suara keras.


Leo masuk ke ruangan, dengan sikap sopan dia menjawab, "Ya Pak?"


"Cari informasi yang berhubungan dengan Rose Harika Chandra. Aku ingin informasi yang tepat, bukan rumor yang tersebar!" perintah Wilson.


"Baik Pak." jawab Leo.


Leo keluar untuk melaksanakan tugas dari Wolson, tak lupa ia menutup pintu ruangan itu. Beberapa saat berlalu, Leo kembali dengan membawa sebuah amplop coklat di tangannya.


"Pak, ini laporan yang anda minta." ucap Leo.


Wilson membuka amplop coklat yang di bawa oleh Leo. Dia mengeluarkan kertas informasi yang tersusun rapi mulai dari foto wajah, nomor kartu identitas hingga informasi lengkap mengenai ukuran tubuh wanita itu.

__ADS_1


"Apa hanya ini informasi yang kamu dapatkan?" tanya Wilson dengan wajah kesal.


"Ya Pak, ini laporan yang saya dapat dari informan kita." jawab Leo.


"Sampah apa ini? Apa ini yang kau sebut dengan informasi? Dasar tidak berguna! Percuma aku membayar mahal gajimu jika kau bahkan tidak bisa mencari informasi tentang seorang wanita!".


Wilson terus berteriak dan menghina kerja asisten yang dia anggap tidak becus. Leo hanya mendengar tanpa membantah satu kata pun.


Puas memaki asistennya, Wilson kembali memberinya perintah.


"Carikan informasi terbaru! Dimana, dengan siapa, dan apa yang dia lakukan beberapa hari ini."


"Baik Pak." jawab Leo.


"Tunggu!" ucap Wilson saat Leo akan keluar dari ruangannya.


"Ya, Pak?" jawab Leo.


"Cari tau kegiatan wanita itu seminggu ke depan! Aku ingin tau lokasi tepat dimana dia akan pergi dan dengan siapa!" perintah Wilson.


"Baik Pak!" jawab Leo tanpa ekspresi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Rose dan Michael baru saja sampai di kota X. Mereka dijemput oleh seorang supir pribadi yang sebelumnya sudah di beri perintah oleh Michael.


Mobil hitam yang mereka tumpangi melaju dengan kecepatan 60km/jam, sepanjang perjalanan hanya ada keheningan yang canggung. Gerry yang ikut di mobil itu merasa umurnya akan semakin pendek bila terus berada di satu mobil bersama bosnya itu.


Enam puluh menit berlalu sejak mereka melakukan perjalanan dari bandara, mobil kini masuk ke sebuah rumah sakit terkenal yang ada di kota X.


Supir memberhentikan mobil tepat di depan pintu masuk rumah sakit, Gerry turun lebih dulu, dia membuka pintu mobil untuk Michael. Sementara Rose masih duduk termenung tanpa menyadari jika mereka sudah tiba di tujuan.


Michael membuka pintu mobil di sisi Rose, dia memanggil nama Rose berulang kali namun gadis muda itu tidak mendengar panggilan dari Michael karena ia masih larut dalam pikirannya.


"Rose!"

__ADS_1


"Rose!"


"Rose!"


Michael menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya dengan cepat, dia merasa jengkel dan kesal namun dia mencoba untuk bersabar. Pria itu kemudian menyentuh tangan Rose yang sedang memegang ponsel.


Rose melompat kaget, dia menoleh ke arah wajah Michael yang saat ini sangat dekat dengan wajahnya.


"Apa yang kamu pikirkan sampai tidak mendengar panggilanku?" tanya Michael.


"Maaf, aku sedang memikirkan sesuatu." jawab Rose.


"Ayo turun!" perintah Michael.


Pria itu menggenggam lengan Rose, mereka berjalan bergandengan hingga tiba di ruang praktek Dokter Frans. Gerry yang memimpin di depan sudah lebih dulu menghubungi Dokter Frans.


Michael dan Rose duduk menunggu di kursi tamu yang sudah disediakan. Sementara Gerry pergi ke kantin untuk memesan minuman dan makanan ringan. Tentu saja itu dia lakukan untuk mengganjal perutnya yang sudah keroncongan.


Beberapa menit menunggu, Dokter Frans mempersilahkan Michael dan Rose untuk masuk.


"Selamat Siang Dok, maaf mengganggu waktu liburan Dokter." ucap Rose begitu melihat Dokter Frans yang sedang duduk di sofa.


"Selamat Siang." jawab Dokter Frans ramah dengan senyuman manis yang memperlihatkan kedua lesung pipinya.


Dokter Frans menekan sebuah tombol merah yang ada di meja, ia kemudian berkata, "Tolong bawakan minuman untuk dua orang!"


Dokter muda itu membuka sebuah buku catatan yang ada di tangannya. Setelah membaca catatan itu, Dokter Frans bertanya kepada Rose, "Bagaimana perasaan anda saat ini? Apakah ada perkembangan?"


Rose menggelengkan kepalanya, dia menatap Michael sesaat sebelum kembali menatap Dokter Frans. Rose kemudian berkata kepada Dokter Frans, "Baru-baru ini saya sering bermimpi buruk. Sangat buruk sampai membuat serangan panik saya kembali, meskipun saya masih tertidur."


"Bolehkah saya tau apa yang anda mimpikan?" tanya Dokter Frans.


Rose kembali menatap Michael, kali ini Dokter Frans yang memang peka, meminta Michael untuk menunggu di luar.


Michael keluar dengan wajah cemberut, dia sangat ingin mendengar apa yang akan di ceritakan oleh Rose kepada Dokter Frans. Namun pria itu tau, jika ia ngotot tetap berada di dalam, Rose tidak akan berbicara jujur kepada Dokter Frans. Akibatnya, wanita itu tidak akan pernah sembuh dari trauma yang sedang dia hadapi. Michael terpaksa mengalah demi wanita yang dia cintai. Pria itu duduk diam dengan rasa penasarannya yang amat besar.

__ADS_1


Gerry yang baru saja selesai mengisi perutnya kembali ke sana dengan membawa dua cangkir kopi panas. Gerry menghampiri Michael yang duduk sendirian dengan wajah dingin ciri khas seorang Michael.


^^^BERSAMBUNG...^^^


__ADS_2