
Setelah urusan mereka selesai, Michael dan Rose keluar dari kantor polisi. Rose merasa sedikit pusing karena efek obat bius yang mulai bekerja. Meskipun dia sudah menahan nafas, sebagian obat bius itu masih menguap ke dalam saluran pernafasannya.
Saat berjalan menuju ke mobil, tubuh Rose hampir saja terjatuh jika bukan karena Michael segera memeluknya. "Rose!" panggilnya dengan wajah cemas.
"Aku sedikit pusing!" ucap Rose dengan suara lemah dan lalu pingsan.
"Rose!" panggil pria itu lagi dengan suara yang meninggi serta wajah yang khawatir. Melihat tidak ada respon, Michael segera membawa Rose ke dalam mobil. Mobil dilajukan dengan cepat menuju ke rumah sakit yang terdekat.
"Rose!"
"Rose!"
Beberapa kali Michael memanggil namanya, namun wanita itu tidak merespon. Setibanya di rumah sakit, Michael menggendong tubuh Rose. Pria itu berlari masuk ke ruang UGD sambil berteriak meminta pertolongan.
Seorang Dokter mendekat, dia menyuruh Michael untuk membaringkan Rose di atas salah satu ranjang yang ada di dalam UGD. Beberapa menit memeriksa, Dokter lalu berkata, "Nona ini baik baik saja, dia hanya tertidur karena obat bius."
__ADS_1
Sungguh lega hati Michael mendengar penjelasan dari Dokter. Dia sudah ketakutan setengah mati ketika melihat Rose tiba-tiba tak sadarkan diri. "Untung saja wanita ini hanya tertidur!" pikir Michael.
Rose dipindahkan ke ruang rawat inap di salah satu kamar Rumah Sakit. Ruangan yang berukuran 10 x 12 meter itu lebih terlihat seperti sebuah kamar hotel. Di dalam kamar terdapat sebuah sofa berwarna coklat tua yang terletak di dinding sebelah kiri, ranjang berukuran kingsize terletak di tengah-tengah ruangan.
Lemari baju dan meja makan juga tersedia di dalam kamar. Di bagian sudut kamar terdapat sebuah kamar mandi, ruang seukuran 2 x 3 meter itu memiliki sebuah bath tub di dalamnya.
Michael membuka kancing kemeja, satu persatu hingga semuanya lepas. Dia lalu melorotkan celana jeans panjang yang berwarna biru tua. Pria itu masuk ke kamar mandi, dia berdiri di bawah guyuran air hangat yang terjatuh dari shower di atas.
Kali ini, aku hampir saja membuat Rose celaka. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kepadanya jika dia jatuh ke dalam perangkap yang dibuat oleh Luna dan Wilson. Andai aku bisa selalu bersamanya, hal seperti ini tidak akan pernah terjadi!
"Hufffff...!"
Michael menghela nafas panjang karena terlintas kemungkinan buruk di pikirannya.
Apa sebenarnya yang harus aku lakukan untuk melindungi Rose? Aku... Ingin memilikinya!
__ADS_1
Michael mengeringkan tubuhnya dengan sebuah handuk yang tergantung di rak kamar mandi. Dia lalu keluar dengan menutupi bagian bawah tubuhnya menggunakan handuk.
Waktu sudah menunjukkan pukul 4 subuh. Otot-ototnya Michael yang menegang karena ketakutan kini sudah mulai rileks kembali. Sebab semua kekhawatirannya sudah menghilang. Karena itu pula dia merasa begitu lelah, pria itu pun melupakan pakaiannya. Dia langsung berbaring di samping Rose dan tertidur dengan lelap.
Waktu kini menunjukkan pukul 6 pagi, Rose membuka mata karena terganggu oleh sebuah benda berat yang menimpa tubuhnya. Rose memalingkan wajah, dia lalu menatap dengan jelas wajah seorang pria yang tengah tertidur pulas di sampingnya.
"Mike!" ucapnya tanpa bersuara. Rose mencoba mengingat kembali kejadian yang terjadi semalam, namun ingatannya hanya sampai pada saat dia keluar dari kantor polisi.
"Apa yang sebenarnya telah terjadi?" tanya Rose dalam hati.
Rose ingin berdiri sebab dia kebelet mau ke kamar mandi, dia membuka selimut yang menutupi tubuhnya dan Michael. Mereka menggunakan satu selimut yang sama.
"Aaa....!" Rose menutup mulutnya yang sudah hampir menjerit.
^^^BERSAMBUNG...^^^
__ADS_1