
Ruangan yang sekilas mirip dengan pesawat ruang angkasa itu membuat mata Rose berbinar, sekeliling ruangan itu hanya ada layar-layar kaca yang bercahaya.
"Apa ini James?" tanya Rose dengan rasa penasaran.
"Ini surgaku di bumi." jawab pria itu dengan wajah bangga.
Rose berjalan pelan, menatap di layar yang menampilkan data-data dari berbagai perusahaan. Langkah berhenti, matanya terpaku di satu layar. "Harris Utama?" gumamnya yang masih terdengar oleh James.
"Iya, sepertinya perusahaan itu bakal bangkrut dalam waktu dekat." sahut James.
Rose memperhatikan angka-angka di layar, "James, data ini kamu dapat dari mana?" tanya nya setelah dia menyadari bahwa angka-angka itu seharusnya rahasia milik perusahaan terkait.
James mengalihkan pandangan, tangannya terangkat ke atas. Menyentuh dan sedikit menggaruk kepala yang tak terasa gatal.
"James!" panggil Rose dengan suara meninggi sebab pria itu tidak menjawab.
James pun tersentak kaget, dia lalu menatap Rose yang berdiri di samping. "Aku meretas data perusahaan mereka!" jawab pria itu dengan wajah yang merasa bersalah.
"Ya ampun James! Kamu keren banget!" seru Rose dengan mata yang kembali berbinar.
James pun kebingungan melihat reaksi dari Rose. Dia mengira jika Rose akan segera mengumpatnya saat tau bahwa dirinya melakukan tindakan ilegal. Namun wanita itu malah bertindak sebaliknya, dia terlihat kegirangan dengan wajah yang ceria.
"James, ayo kita beli semua saham Harris Utama! Aku akan mengambil semua milik pria itu!" ucap Rose keceplosan.
James merasa bingung saat mencerna kata-kata Rose, "Mengambil semua milik pria itu? Kenapa? Apakah Rose memiliki dendam karena mimpi buruk yang dia alami? Atau karena Luna dan pria itu pernah mengancam dia pakai nama ku?"
"Hey!" suara tinggi Rose membuat James terkejut. James yang tengah hanyut dalam pikiran lalu melompat kaget.
"Mikirin apa sampai kaget gitu?" tanya Rose dengan tatapan menyelidik.
James hanya menggelengkan kepala, tak ingin menjawab pertanyaan yang Rose lemparkan. Dia lalu bertanya, "Kamu mau beli semua saham ini?"
Rose segera mengangguk, dengan wajah dingin dia menjawab, "Aku akan menjadi pemilik saham terbesar dan mengambil alih perusahaan itu!"
"Rose tampak mengerikan, tidak seperti wanita lembut dan baik hati yang aku kenal. Apa yang membuat dia begitu berubah?" batin James.
__ADS_1
Flashback
James tidak dapat dihubungi oleh Rose ketika dia mendapat ancaman dari Luna, sebab ponsel James di curi oleh Luna. Setelah menjebloskan Luna ke penjara, Rose mencari James di rumah sewanya. Ternyata, pria itu sudah tertidur lelap bersama bantal dan guling yang empuk.
Rose mengetuk pintu beberapa kali hingga akhirnya James terbangun. Begitu pintu di buka, Rose langsung berlari ke pelukan James sembari bertanya, "Kamu baik-baik aja? Ada yang luka?"
Mendengar pertanyaan dari Rose, membuat James sedikit terkejut. Sebab dia tidak tau apa yang telah terjadi hingga membuat Rose begitu khawatir. "Rose!" panggilnya pelan sambil mengelus rambut panjang milik Rose yang berwarna hitam.
Mendengar suara yang begitu dia nanti-nantikan itu, Rose pun segera menatap mata James yang juga sedang menatapnya. "Ada apa? Kenapa kamu panik gini?" James melepaskan pelukannya lalu menatap dengan wajah penasaran.
"Aku, tadi aku dapat ancaman dari Luna. Katanya kamu akan dibunuh kalau aku gak turuti kemauan dia." jawab Rose dengan singkat.
"Hahaha...! Rose, ini jaman apa? Masa kamu percaya sama ucapan wanita gila itu?" tawa James pun meledak tat kala mendengar jawaban Rose yang seperti drama-drama televisi.
"Aku serius lho! Lagian kenapa hp kamu gak aktif?" omelan Rose pun keluar begitu saja karena telah menahan rasa gelisah yang begitu lama.
"Hp? Oh, itu hp aku ilang entah ke mana. Aku cari-cari gak ada di tas. Padahal aku yakin banget udah ku masukin ke dalam tas sebelum pulang." jawab James yang langsung membuat Rose mencurigai Luna sebagai dalangnya.
"Ya uda, aku pulang dulu ya!" ucap Rose yang lalu berbalik badan.
"Bye!" James melambaikan tangan meskipun Rose membelakangi dirinya.
Rose masuk ke dalam mobil, Michael langsung memeluknya sambil berkata, "Lain kali gak boleh pelukan sama pria lain!"
Rose menatap Michael dengan wajahnya yang dingin, dia lalu menjawab, "Aku mau peluk siapa, apa urusannya sama kamu?"
Gerry hanya cengegesan melihat wajah Bos nya yang semakin merah karena marah. Pria itu pun kembali melajukan mobil menuju ke kantor polisi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"James, kamu dapat rumah ini dari siapa? Kok keren banget dalamnya?" tanya Rose penasaran.
"Ini aku beli dari tabungan hasil jasa meretas. Awalnya iseng aja, tapi terus aku pengen buat ruangan yang seperti di film-film barat itu tuh! Hehe..."
"Krucuk!"
__ADS_1
Suara cacing di perut Rose tiba-tiba berbunyi, membuat James tertawa dengan keras.
"Hahaha...! Laper?" ucapnya masih sambil tertawa.
"Huuh!" Rose mengangguk cepat dengan wajah yang memerah karena malu dengan suara dari perutnya yang tak bisa berkompromi.
James tersenyum, dia lalu menarik pelan lengan Rose sambil berkata, "Yuk makan!"
Langkah kaki James mengarah ke arah sebuah pintu, begitu pintu dibuka, Rose kembali terkejut dengan mulut yang menganga.
Sebuah ruangan dapur dengan desain minimalis. Meski ukurannya tidak luas, dapur itu termasuk sempurna untuk ukuran rumah tangga. Peralatan memasak tersusun rapi di atas rak stainless, sebuah meja makan untuk 4 orang terletak di tengah ruangan.
James masuk lebih dulu, dia menarik sebuah kursi. "Duduk dulu bentar, aku buatin makanan!"
Rose pun mengangguk menuruti perintah dari James, dia duduk di atas kursi yang juga berukuran mini. Kaki kursi terbuat dari besi, dan alas duduk terbuat dari kayu yang dilapisi dengan busa tipis.
Tercium aroma wangi dari masakan James, membuat perut Rose semakin kelaparan. Beberapa saat kemudian, James membawa dua buah piring yang berisi nasi goreng. Telur dadar dan mata sapi terletak di atas nasi goreng, James lalu bertanya, "Mau yang mana?"
"Dua-duanya boleh?" jawab Rose sambil tersenyum.
James pun mengangguk, "Nih, aku kasih dua-duanya."
"Terus kamu?"
"Aku makan nasinya aja udah cukup!"
Rose membagi kedua telur itu menjadi setengah bagian, keduanya dia berikan kembali ke piring James yang hanya tersisa nasi goreng saja.
"Nih! Masing-masing setengah, masa aku aja yang makan telurnya!"
"Gak pa-pa kali, aku kan bisa masak sendiri kalau mau makan. Nah kalau kamu? Masak aja kagak bisa!"
Kesal mendengar sindiran James, Rose mengambil kembali telur yang baru saja dia pindahkan ke piring James.
"Haha... Kok di ambil lagi?" goda James sambil tertawa.
__ADS_1
"Kamu gak perlu makan telur, soalnya kamu udah punya 2 telur tuh!" Rose menatap ke bawah, letak di mana kedua telur menggantung di sana.
^^^BERSAMBUNG...^^^