
Hari menjelang pagi, Michael masih memikirkan banyak hal di kepalanya, laki-laki itu belum tidur sejak tadi malam.
Michael selalu teringat kata-kata yang tertulis dalam buku diary Rose dan juga memikirkan nama Wilson yang mirip dengan nama karakter dalam buku diary Rose.
Laki-laki itu juga memikirkan kemungkinan yang semakin dia pikir semakin dia ragukan kebenarannya. Michael mencoba untuk meyakinkan dirinya jika semua yang ditulis oleh Rose adalah kejadian yang pernah di alami oleh wanita itu secara langsung. Namun keyakinan itu tiba-tiba saja dia ragukan ketika muncul pemikiran rasional dalam kepalanya.
Berulang kali Michael terjebak dalam pikirannya itu, hingga pagi pun datang dan laki-laki itu masih belum menemukan jawaban yang dia cari-cari melalui pikirannya.
Rose membuka mata, dia melihat Michael yang masih terjaga dengan wajah lelah. Tangan Rose perlahan menggapai lengan Michael, pria muda itu langsung menoleh ke wajah wanita yang sudah dia tunggu semalaman.
"Rose, kamu sudah bangun? Mau minum? Kamu lapar?" pertanyaan bertubi-tubi pun dilontarkan oleh Michael begitu melihat pujaan hatinya sudah bangun dari tidur yang panjang.
Rose hanya tersenyum saat melihat wajah laki-laki yang selalu ada di saat dia kesulitan. Laki-laki yang selalu menolongnya saat dia berada dalam bahaya. Laki-laki itu juga yang selalu ada disisinya ketika dia membutuhkan seseorang.
Michael yang masih menunggu jawaban menatap Rose dengan penuh cinta, ingin rasanya dia menyembunyikan wanita itu agar tidak dilirik oleh pria lain.
Suara ketukan pintu dari Gerry membuat mereka berdua salah tingkah, Rose dan Michael yang sedang bertatap muka dengan segera memalingkan wajah.
"Bos, pesawat sudah mendarat!" lapor Gerry.
"Urus surat keluar rumah sakit untuk Rose dan siapkan sarapan secepatnya!" perintah Michael.
"Baik Bos!" jawab Gerry.
Gerry meletakkan secangkir kopi di atas meja, "Ini kopi anda Bos!" ucapnya sebelum meninggalkan ruangan.
"Mau minum?" tanya Michael lagi dengan pelan.
Rose mengangguk. Michael membuka satu botol minuman air mineral yang sudah di sediakan oleh Gerry. Dia memberikan botol itu kepada Rose yang masih menatapnya.
"Makasih." ucap Rose sebelum menghabiskan air mineral di tangannya.
Senyuman Rose perlahan menghilang saat dia menatap buku diary miliknya yang diletakkan di atas meja.
Michael lupa menyimpan kembali buku itu, namun memang ini yang dia harapkan. Dia ingin bertanya langsung kepada Rose, "Apa sebenarnya isi cerita yang ada di diary itu?"
"Kamu... Kamu baca diary aku?" tanya Rose dengan wajah kaget.
__ADS_1
"Iya, aku udah baca semuanya." jawab Michael dengan wajah serius.
Rose sangat cemas dan gelisah mengetahui laki-laki itu mengetahui isi diary-nya. Rose diam membisu tenggelam dalam pikiran kalutnya.
"Ya ampun... Apa yang harus aku lakukan? Gimana kalau Michael menganggapku wanita gila? Bagaimana cara aku menjelaskan semua ini? Haruskah aku katakan saja jika aku kembali ke masa lalu setelah kematianku?
Tidak, tidak... Aku pasti akan di anggap gila. Aku nggak mau sikap Michael jadi ilfeel padaku. Apa yang harus aku katakan? Haruskah aku berbohong dan bilang jika itu semua mimpi panjang yang aku alami?
Oh Tuhan... Aku tidak tau alasan apa yang harus aku katakan kepadanya..."
"Rose!"
Panggilan Michael membuat Rose kembali ke alam sadarnya.
"Ya...?" jawab wanita itu dengan wajah panik.
"Kamu..."
Michael mengurungkan niatnya untuk bertanya, dia tidak ingin memaksa Rose untuk menceritakan hal yang tidak ingin dia katakan.
"Mike..." gumam Rose pelan, dia merasa bersalah sekaligus merasa tidak enak karena terus menutupi rahasia dari Michael.
Michael tentu mendengar panggilan Rose, namun dia berpura-pura tidak mendengar apapun. Pemuda itu membereskan barang-barang Rose yang masih berantakan di koper, tak lupa dia mengambil diary yang berada di atas meja, dia masukkan kembali diary itu ke dalam koper.
Rose hanya duduk diam di kasur tanpa melakukan apa-apa. Dia menatap punggung Michael yang bergerak kesana sini untuk membereskan barang bawaannya.
Sesekali Michael melirik ke arah Rose, dia senang karena wanita itu terus menatapnya. Bagi Michael, tatapan mata Rose yang hanya ditujukan untuknya merupakan kebahagian sederhana yang sulit dia dapatkan meski dia memiliki harta dan kekayaan yang melimpah.
"Drtttt.... Drttt...!"
Michael membuka pesan dari Gerry.
"Semuanya sudah siap Bos!"
Michael menjawab pesan itu dengan singkat. "Ok."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
"Akhhhh! Brengsek!"
"Pranggg!"
"Brukkkk!"
Wilson mengamuk di kantornya, kerja sama dengan beberapa klien besar yang sudah dia dapatkan tiba-tiba saja dibatalkan secara sepihak. Pria itu mencoba menghubungi kliennya, namun semua panggilannya di tolak dengan alasan yang tidak masuk akal.
Wajah pria itu terlihat sangat kesal dan penuh amarah. Hasil kerja kerasnya selama berbulan-bulan tiba-tiba menghilang begitu saja.
"Kenapa? Kenapa bisa begini? Aku sudah meyakinkan mereka saat pertemuan itu. Kenapa mereka semua membatalkan kerja sama ini secara mendadak? Bukan hanya 1, tapi semuanya!!! Akhhh brengsek!" ucap Wilson dengan penuh emosi.
"Tok Tok Tok!"
Pintu diketuk oleh asisten Wilson. Dia membawa laporan penjualan bulanan dari setiap cabang minimarket yang dikelola oleh perusahaan.
Wilson membaca hasil laporan, wajahnya yang kesal terlihat semakin kesal lagi setelah melihat laporan yang dibawa oleh asistennya.
"Sampah!!" bentak Wilson sambil membanting asbak yang ada di atas meja.
Asisten Wilson yang bernama Leo menatap kesal ke arah pria yang dia layani. Setiap kali pria itu kesal dia akan melampiaskan kemarahannya kepada Leo.
Meskipun Leo tidak senang diperlakukan seenaknya seperti itu, dia tidak punya pilihan selain tetap bekerja pada Wilson. Leo menahan semua perilaku kasar itu karena memerlukan banyak uang untuk biaya ibunya yang di rawat di rumah sakit.
"Lihat apa kau? Keluar! Dasar bodoh!" maki Wilson kepada Leo yang terdiam di depan nya.
Leo berjalan dengan cepat keluar dari ruangan Wilson, ingin rasanya dia memaki atasannya yang tidak punya akhlak itu. Seandainya Leo memiliki tawaran pekerjaan lain, tentu ia akan segera mengundurkan diri dari posisi asisten Wilson.
Leo bertemu Luna yang baru saja datang ke kantor, pria itu tidak menyukai Luna yang selalu mengganggu di saat jam kerja. Apalagi Luna selalu bersikap sok dekat dengannya meski Leo selalu menjaga jarak dengan bersikap dingin kepada Luna.
"Hai... Wilson nya ada?" tanya Luna begitu melihat Leo.
"Tuan Wilson ada di ruang kerjanya." jawab Leo dengan ekspresi datar.
"Kenapa mukanya asem gitu? Habis kena labrak?" tanya Luna kepo.
^^^BERSAMBUNG...^^^
__ADS_1