
"Tentu saja boleh. Apakah nak Rose ada keperluan di sana?" tanya Paman Teddy.
"Tidak, saya hanya ingin menikmati suasana liburan saja." jawab Rose sewajarnya.
"Baiklah kalau begitu, Paman Teddy akan siapkan tiket untuk Rose juga. Kita akan berangkat bersama besok." ucap Paman Teddy.
"Terima kasih Paman, maaf ya kalau Rose merepotkan." ucap Rose dengan senyuman ceria di wajahnya.
Setelah tujuannya tercapai, Rose pamit pulang karena Michael sedang menunggu di depan.
Michael yang menunggu di dalam mobil melihat Rose keluar dari pintu gerbang, ia membuka pintu mobil.
"Masuk!" perintah Michael kepada Rose.
Rose merasa bersalah karena mengabaikan Michael, ia masuk ke dalam mobil menuruti perintah pria itu.
"Mobil ku..." ucap Rose ragu ragu.
"Aku akan menyuruh seseorang untuk mengurusnya." jawab Michael ketus.
Rose terdiam, tidak ada suara bantahan seperti yang biasa ia lakukan.
Mobil melaju menuju mansion Rose, mereka berdua hanya duduk diam selama perjalanan.
__ADS_1
Sesampainya di tujuan, Michael membukakan pintu mobil untuk Rose yang duduk diam tanpa suara sedikitpun.
"Turun!" ucap Michael dengan wajah dingin.
Rose turun dari mobil, ia berjalan mengikuti Michael dari belakang. Tiba di depan pintu masuk, Rose melihat betapa kacau lantai di sana.
Tanpa di suruh, Rose mulai mengutip bungkusan plastik makanan yang sudah tak beraturan di lantai. Michael terus jalan masuk ke dalam rumah tanpa menghentikan langkahnya.
Selesai membersihkan lantai depan pintu, Rose masuk diam diam agar Michael tidak melihat ke arahnya. Namun tak di sangka, pria itu duduk di depan pintu dengan tatapan sedingin salju di kutub utara.
"Sini!" perintah Michael.
Rose berjalan perlahan mendekat ke tempat duduk Michael.
"Cepat!" perintah Michael lagi yang tidak sabar menunggu.
"Sekarang jelaskan! Kenapa kamu pagi pagi pergi ke rumah keluarga Yun?" ucap Michael dengan tatapan setajam pisau silet.
"Aku cuma mau bilang ke Paman Teddy kalau aku mau ikut pergi ke kota H." jawab Rose.
Michael mengerutkan kedua alis matanya, dengan mata yang dipenuhi amarah ia kembali bertanya, "Mau ngapain kamu pergi ke kota H bersama keluarga Yun?"
"Gimana aku jelasinnya? Kan nggak mungkin aku bilang kalau itu cuma alasan biar Paman Teddy cari penerbangan lain.
__ADS_1
Aku yakin banget penerbangan itu udah full soalnya aku uda beli semua tiketnya." benak Rose.
"Kamu nggak mau jawab?" tanya Michael ketus.
Rose masih terdiam memikirkan alasan apa yang harus ia katakan untuk meredakan amarah Michael.
"Rose!" bentak Michael.
"Ya?" jawab Rose seketika karena terkejut dengan suara keras Michael.
"Aku lagi tanya kamu! Kamu beneran nggak mau kasih tau aku alasan kamu mau ikut ke kota H?" tanya Michael yang mulai kehilangan kesabarannya.
"Bukannya aku nggak mau kasi tau, tapi aku nggak tau caranya gimana kasih tau kamu." ucap Rose.
Michael berdiri dari duduknya, ia mengambil jas yang tadi ia lempar ke atas sofa kemudian ia berjalan keluar dari rumah itu tanpa menoleh ke belakang.
"Lebih baik aku kembali ke kantor dari pada aku menunjukkan amarahku di depan Rose." benak Michael.
Rose menatap kepergian Michael dengan rasa menyesal, menyesal karena telah menyakiti hatinya dan menyesal karena telah menyia-nyiakan kebaikan Michael.
Sementara itu, Paman Teddy sedang mencari tiket penerbangan untuk Rose.
Seperti yang Rose duga, Paman Teddy mencari penerbangan pesawat lain karena pesawat yang akan ia tumpangi sudah kehabisan kursi penumpang.
__ADS_1
"Ma, kita ganti pesawat AirCloud ya." ucap Paman Teddy kepada istrinya Nyonya Erna.
^^^BERSAMBUNG...^^^