
Seorang pria muda masuk ke dalam ruangan itu, ia lalu berkata, "Nona, ada seorang laki-laki yang mencari anda. Saya sudah meminta Laki-laki itu untuk menunggu di lobby."
"Siapa namanya?" tanya Rose.
"Maaf, saya tidak bertanya siapa namanya." Ucap pria yang memakai tag nama Kristan.
"Antarkan tamu ke ruangan ini!" titah Rose yang langsung dilaksanakan oleh Kristan.
"Tok Tok Tok!"
"Mungkin tamu yang tadi dibicarakan oleh Kristan!" pikir Rose.
Wanita itu berdiri dari kursinya, dia menepuk-nepuk roknya yang sedikit kusut karena duduk terlalu lama. Rose berjalan ke arah pintu lalu membukanya.
"Deg!"
Jantungnya seperti hendak melompat keluar. Dia begitu terkejut melihat sosok pria yang berada di hadapannya.
Pria itu langsung menerobos masuk, dia mendorong tubuh Rose hingga terjatuh ke lantai. Pria itu lalu berkata dengan wajah yang terlihat marah, "Ternyata benar kau yang telah mencuri semua klien ku! Akan ku bunuh kau!"
Pria itu lalu naik ke tubuh Rose yang masih berada di lantai, ia lalu mencekik leher Rose dengan sekuat tenaga hingga wanita itu kesakitan dan meronta-ronta.
"Lagi-lagi dia mencoba membunuhku! Aku tidak rela mati untuk kedua kalinya di tangan pria ini!" pikir Rose.
Rose mengingat pelajaran yang dia terima dari pelatihnya, dengan menggunakan dua jari, Rose menusuk mata Wilson yang berada tepat di depannya.
Pria itu melepaskan cengkraman tangannya pada leher Rose, ia merintih kesakitan sambil menutup kedua matanya yang terasa perih dan mulai berair.
Rose mendorong tubuh Wilson, ia lalu berdiri, berlari menuju ke meja kerja. Rose menghubungi sekurity untuk mengeluarkan Wilson dari kantornya. Setelah pria itu di seret keluar, Rose memikirkan kembali apa yang di tuduhkan Wilson terhadapnya.
"Klien? Klien apa? Aku tidak mengerti." gumam Rose sambil memegang lehernya yang terasa sakit.
Seorang pria menatap Wilson yang di seret keluar oleh petugas sekurity. Pria itu memakai topi hitam dan kacamata hitam untuk menutupi wajahnya.
"Cekrek!!!"
__ADS_1
Pria itu mangambil foto Wilson yang sedang di seret oleh dua orang petugas keamanan. Foto itu dia kirimkan kepada seseorang yang bernama Gerry.
Beberapa menit kemudian, pintu kantor Rose kembali di ketuk dari luar.
Kristan masuk ke dalam ruangan itu lalu memberitahukan jika ada tamu yang mencarinya. Belum sempat Rose bertanya lebih jauh, tamu itu sudah menerobos masuk ke dalam ruang kerja Rose.
Dengan nafas yang ngos-ngosan, pria itu berlari ke arah Rose lalu memeluk wanita itu. "Kamu gak pa-pa? Ada yang terluka?" tanyanya dengan wajah yang terlihat khawatir.
"Aku gak pa-pa kok. Kamu kenapa bisa ada di sini?" tanya Rose dengan wajah bingung dan penasaran.
Pria itu melepaskan pelukannya, ia lalu menatap wajah Rose dengan mata yang terlihat lelah. Mata itu tiba-tiba saja membesar ketika menatap jejak merah yang ada di leher Rose.
"Keparat itu! Akan ku bunuh dia!" ucapnya dalam hati dengan penuh emosi.
"Mike! Kamu mata-matain aku?" tanya Rose dengan perasaan kesal.
Michael terdiam, dia tidak ingin menjawab "Tidak", karena dia tau Rose membenci kebohongan. Namun dia juga tidak ingin menjawab "Ya", karena jika dia melakukannya, Rose pasti akan sangat marah.
Rose mengingat jika di dalam ruangan itu masih ada orang lain yang melihat mereka. Wanita itu lalu berbalik dan berkata kepadanya, "Kristan, tolong tinggalkan ruangan ini!"
Setelah kepergian Kristan, Rose kembali bertanya kepada Michael, "Dari mana kamu tau Wilson datang ke sini?
"Keluar!" pinta Rose dengan suara tegas.
"Rose, aku...!"
"Keluar!" ucap Rose memotong kata-kata yang akan di ucapkan oleh Michael.
Michael menundukkan wajahnya, dia berjalan perlahan ke arah pintu. "Maafkan aku!" ucapnya sebelum menghilang dari balik pintu.
"Hahhh....!!" Rose menghela nafas panjang, dia merasa lega karena sudah berhasil mengatasi rasa takutnya, juga berhasil menyingkirkan Michael dari dalam hatinya.
Rose berjalan menuju ke kamar mandi, dia melewati lorong kecil yang mengarah ke sana. Sesampainya di ujung lorong, dia tertegun melihat Michael yang sedang berdiri menatap langit-langit.
Pria itu terlihat seperti habis menangis, dia seakan mencoba menahan air matanya dengan mendongakkan kepala. Matanya masih terlihat sedikit merah dengan air yang berlinang di sudutnya.
__ADS_1
Rose segera bersembunyi, dia tidak ingin ketahuan memergoki pria arogan yang sedang menangis. Namun tak di sangka Michael malah berjalan menuju ke lorong tersebut dan akhirnya mereka kembali bertemu.
Rose sedikit merasa bersalah ketika menatap wajah Michael yang terlihat sedih, namun dia tidak ingin pria itu menyadarinya. Rose berbalik dan berjalan menjauh dari Michael yang masih menatapnya dari belakang.
Pada malam harinya, Michael merasa cemas setelah melihat bekas merah melingkar di leher Rose. Pria itu akhirnya mengirim pesan melalui Tab Tab, tentunya dengan identitas Prince.
Prince : Malam Rose, lagi apa kamu?
Saat itu, Rose masih di perjalanan pulang, karena lampu merah menyala, dia menghentikan laju mobilnya. Mendengar ponsel berbunyi, Rose membuka layar ponsel lalu membaca pesan dari Prince.
Rose : Aku lagi di jalan mau pulang. Apa kabar kamu? Udah seminggu juga yah gak berkabar.
Prince : Aku lagi sakit karena sudah seminggu mikirin kamu yang gak balas pesan dari aku.
Rose : Maksudnya kamu lagi sakit hati? Emang kamu punya hati? Hahaha...!
Lampu hijau menyala, Rose meletakkan ponselnya lalu kembali fokus menyetir. Hanya lima menit saja dia sudah tiba di mansion mewahnya.
Rose menunggu balasan dari Prince, namun pria itu tak lagi membalas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Lampu warna warni berkelap kelip di iringi dengan suara musik yang memekakkan telinga. Degup jantung terasa Dug! Dug! Dug! Ketika mendengar bunyi suara yang terlalu berisik di sana. Ratusan pria dan wanita menari bebas di bawah cahaya remang-remang, dengan iringan musik yang terdengar sangat membalap.
Wilson berada di tempat itu, dia bersama seorang wanita yang bernama Luna. Pasangan itu berada di dalam kamar VIP Klub Domino yang merupakan klub malam terbesar di Kota X.
"Brengsek! Wanita itu benar-benar pembawa sial!" maki Wilson di depan Luna.
Pria itu sedang mabuk karena telah menghabiskan beberapa botol minuman beralkohol, Luna menemani pria itu sebab dia mendapat telepon dari Leo, asisten Wilson.
Luna menyandarkan kepalanya ke dada Wilson, dia lalu berkata, "Sayang, kamu tenang aja. Aku bakal pastiin wanita itu tidak akan pernah bahagia di sisa hidupnya!"
"Rose! Kamu tidak hanya merebut hati Wilson tapi juga semua kliennya! Aku akan membalas dendam ini satu persatu! Termasuk rasa malu yang aku terima karena video terkutuk itu! Aku pasti akan membuatmu menderita selamanya." batin Luna.
Luna menatap wajah Wilson yang semerah kepiting rebus, dia tersenyum ketika muncul ide licik di dalam kepalanya. Sementara Wilson yang mabuk parah malah merasa bergairah begitu tubuhnya di sentuh oleh tangan Luna.
__ADS_1
Bibir Wilson langsung melahap bibir Luna yang berada di depannya. Saling bergerak liar dan masuk hingga ke dalam sana. Tanpa mereka sadari, di dalam kamar telah terpasang seperangkat alat perekam.
^^^BERSAMBUNG...^^^