Rose Second Life

Rose Second Life
Episode 68. Kotak Makan porsi jumbo


__ADS_3

"Drtttt! Drtttt!"


Ponsel Rose bergetar, nama Kristan muncul di layar. Rose memukul pelan keningnya sambil berkata, "Aduh, aku kan minta Kristan buat bawa Pak Yusuf ke kantor!"


Panggilan dari Kristan di jawab, sebuah suara dari ponsel memanggil namanya.


"Nona Rose!"


^^^"Ya, ini saya Rose. Kamu sudah sampai di kantor?"^^^


"Saya baru saja sampai. Saya akan segera membawa Pak Yusuf ke kantor Nona."


^^^"Tolong tunggu sebentar, saya lagi di luar. Minta Pak Yusuf untuk menunggu di ruang tamu, sediakan minuman dan makanan ringan dan sampaikan maaf saya kepada beliau."^^^


"Baik, Nona!"


Rose menutup sambungan telepon, dia lalu menyalakan mesin mobil dan segera meluncur menuju ke perusahaan.


Selama di jalan, Rose berusaha mengingat kembali kejadian besar masa lalu. Dia ingin mendapat keuntungan dari ingatannya yang lampau.


"Aku ingat perusahaan Zero One yang bergerak di bidang fashion akan segera terkenal. Sepertinya aku harus menanam modal di sana sebelum perusahaan itu melambung tinggi." batin Rose.


Waktu menunjukkan pukul 4 sore, Rose baru saja tiba di perusahaan. Mobil merahnya masuk ke dalam parkiran yang memang di khususkan untuknya. Rose turun dari mobil setelah mengambil tas dan ponsel, tak ketinggalan juga dengan kotak perhiasan.


Rose tiba di ruang tamu dengan napas yang sedikit memburu. Dia lalu berkata, "Maaf, membuat anda menunggu lama. Saya Rose yang sudah menelepon anda kemarin." sambil sedikit menunduk sebagai tanda permintaan maaf di hadapan Pak Yusuf, pengacara yang sudah Rose kenal di kehidupan lalu.


"Selamat Sore, Nona Rose! Saya Yusuf, pengacara yang akan membantu anda menangani proses akuisisi." ucap Pria yang terlihat berusia 40an tahun.


"Silahkan duduk kembali, Pak!" ucap Rose yang lalu juga duduk di atas sofa.


"Begini Pak Yusuf, saya ingin meminta pendapat dan saran Bapak terkait proses akuisisi di sebuah perusahaan yang sedang saya targetkan."


Rose berkonsultasi dengan Pak Yusuf selama hampir 1 jam. Pria paruh baya itu lalu pamit setelah semua pertanyaan Rose terjawab. Rose meminta bantuan untuk memudahkan proses akuisisi serta membuat perusahaan Harris Utama berada di bawah kendalinya.

__ADS_1


Rose kembali ke ruang kerja, dia lalu membuka kotak perhiasan yang berisi kalung. Kalung itu Rose foto dari berbagai posisi, foto itu lalu di posting ke semua akun media sosial miliknya. Rose kemudian membuka sebuah aplikasi yang menyediakan jasa untuk menjual barang secara online. Rose memposting foto kalung di beranda akun miliknya.


"Aku harap orang itu segera melihat kalung ini." batin Rose.


Rose kembali bekerja, dia menatap jam kecil yang terletak di atas meja. Jam sudah menunjukkan pukul 5 Sore. "Banyak banget pekerjaan yang belum selesai!" keluh Rose.


"Tok Tok Tok!"


Kristan masuk ke dalam ruangan setelah mendapat izin dari Rose. Laki-laki itu bertanya, "Nona, saya mau izin pulang. Ada masalah di keluarga yang mengharuskan saya pulang sekarang.


Kristan terlihat gugup, jari tangannya bergerak tak beraturan. Setiap kali pria itu merasa gelisah, jari tangannya selalu bergerak tanpa dia sadari.


"Pulang aja duluan, aku sebentar lagi juga uda mau pulang kok." jawab Rose mengiyakan.


"Terima kasih, Nona!"


Kristan lalu keluar, kini hanya tinggal Rose saja yang berada di dalam ruangan. Wanita itu lalu meneruskan kembali pekerjaan yang sedang bertumpuk di atas meja.


Hari mulai gelap, Rose masih asik menatap laporan yang ada di atas meja.


"Tok Tok Tok!"


"Siapa yang malam-malam datang ke sini?" pikir Rose.


Dengan hati yang berdebar kencang dan perasaan was-was, Rose melangkah ke arah pintu.


"Siapa?" tanya Rose dengan sedikit ketakutan.


Beberapa detik menunggu, tidak ada jawaban dari luar. Rose pun hendak kembali ke tempat duduk. Namun saat dia berbalik, suara ketukan pintu kembali terdengar.


"Tok Tok Tok!"


Lagi, Rose terkejut mendengar suara ketukan di kala sepi dan heningnya suasana di kantor. Langkah terhenti, dia berbalik menatap pintu yang berwarna coklat tua di belakang.

__ADS_1


"Siapa sih malam-malam buat serem gini?" pikirnya dalam hati.


Rose kembali bertanya, "Siapa di luar?" kali ini dengan suara yang lebih tinggi, namun juga tidak mendapat jawaban.


Karena penasaran, Rose akhirnya memberanikan diri untuk membuka pintu. Perlahan, dia memutar gagang pintu yang terkunci lalu dengan cepat membuka pintu selebar mungkin untuk menangkap pelaku yang membuatnya merinding.


Ketakutan Rose ternyata sia-sia, tidak ada siapapun di balik pintu. Hanya ada sebungkus kotak makanan yang terletak di lantai dengan secarik kertas. Di kertas itu tertulis, "Jangan melewatkan makan malam. Habiskan makanan ini!"


"Mike?" gumam Rose ketika membaca tulisan di kertas. Rose berpikir hanya Michael yang akan menulis kata-kata yang bernada memerintah begitu.


Benar saja, Michael sedang mengintip dari balik dinding. Dia meletakkan makanan di depan pintu lalu bersembunyi di balik dinding yang mengarah ke lorong.


Michael menyuruh Gerry untuk mengecok kedua satpam di depan gerbang, setelah tatapan kedua satpam itu teralihkan, Michael segera masuk dengan membawa kotak makan di tangan.


Dia merindukan dan juga mengkhawatirkan Rose yang sibuk bekerja belakangan ini. Wanita yang sering makan dengan begitu lahap kini melewatkan jam makan hanya demi bekerja seharian.


"Entah apa yang sedang dia kejar hingga berusaha sekeras ini!" tanya Michael dalam benaknya.


Rose kembali ke dalam, dia membawa makanan itu lalu diletakkan di sudut meja. Tatapan matanya kembali menuju ke layar laptop dan sesekali melirik kertas laporan yang ada di meja.


"Rapat pemegang saham akan segera dilakukan beberapa hari lagi. Sebelum hari itu tiba, aku harus mendapat saham perusahaan Harris Utama sebanyak mungkin." pikir Rose.


Rapat pemegang saham adalah pertemuan yang diadakan oleh suatu perusahaan dengan tujuan untuk mengumpulkan para pemegang saham guna membahas dan memberikan persetujuan terhadap kebijakan dan keputusan penting perusahaan.


Dalam rapat ini, para pemegang saham memiliki hak untuk memberikan suara dan mengekspresikan pendapat mereka terhadap berbagai isu penting yang dibahas.


Rose berharap dalam rapat kali ini dia bisa mendepak Wilson dari jabatan CEO di perusahaan Harris Utama.


"Saham yang aku dapatkan saat ini baru 12%. Di kehidupan lalu, Wilson memiliki saham 30%. Jika aku ingin menariknya turun dari jabatan, aku memerlukan 19% saham. Untuk pemegang saham lain aku yakin mereka akan setuju dengan keputusan untuk menurunkan jabatan Wilson, sebab laki-laki itu sudah banyak melakukan kesalahan dalam beberapa tahun ini.


Rose menutup layar laptop, dia membereskan semua laporan yang berceceran di atas meja. Matanya lalu tertuju pada kotak makan yang di bawakan oleh Michael.


Rose tersenyum, "Terima kasih, Mike!" ucapnya sambil membuka tutup kotak.

__ADS_1


^^^BERSAMBUNG...^^^


__ADS_2