Rose Second Life

Rose Second Life
Episode 51


__ADS_3

Karena Rose tidak membalas, Michael kembali mengirimkan pesan.


Prince : Tidur lagi kamu Rose?


Rose : Enggak, aku cuma lagi banyak pikiran.


Prince : Pikirin apa? Bukan lagi mikirin aku kan?


Rose : Maunya kamu aja tuh! He... He...!


Rose : Aku tuh lagi mikir kenapa hidup aku nggak pernah tenang, nggak bisa damai. Padahal ini hidup aku yang kedua kalinya dan aku di kasih kesempatan buat perbaiki semuanya. Tapi tetap saja hidup ku ini sangat-sangat rumit.


Setelah mengirim pesan teks ke Prince, Rose baru menyadari jika dia telah melakukan kesalahan.


"Ya ampun!!! Astaga...!!! Kok aku malah ngomongin isi hatiku ke Prince? Dia nggak bakal nganggap aku orang gila kan?" pikir Rose.


Beberapa menit berlalu, tidak ada balasan lagi dari Prince.


Rose bersiap-siap untuk pergi ke kampus, dia menunggu kedatangan James untuk menjemput karena si merah milik Rose sedang berada di bengkel dan belum selesai diperbaiki.


"Ting Tong!"


Mendengar bel rumah berbunyi, buru-buru ia menyambar tas yang tergantung di dinding kamar dan berlari keluar.


"Ceklek!"


"Hai James, Selamat Pagi!" sapa Rose ketika melihat James berdiri di depan pintu.


"Pagi Rose, udah sarapan?" tanya James sambil mengangkat tinggi rantangan yang dia bawa.


"Belum, itu sarapan buat aku?" tanya Rose sedikit berharap.


"Iya, ini aku buatin khusus buat Rose hehe..." jawab James cengegesan.


Rose mengambil rantang dari tangan James, "Yuk masuk!" ajaknya sambil berbalik. Langkah kakinya menuju ke ruang makan, di ikuti oleh James yang baru saja menutup pintu depan.


"Gimana si Luna tuh? Mau kita kerjain lagi?" tanya James sambil menyomot makanan dari piring Rose.


Rose menatap James, dia kemudian tersenyum dan bertanya, "James, sejak kapan kamu jadi demen kerjain orang?"


"Sejak jaman dahulu kala! Hahaha!" jawabnya di akhiri dengan tawa.


Rose menatap layar ponselnya, dia masih menunggu telepon dari Michael, namun yang dia lihat hanya layar yang di penuhi oleh wallpaper tanpa notifikasi apapun di dalamnya.


Rasa kecewa kembali menyakiti hatinya, dia berharap jika pria itu akan segera menelepon dan bertanya apa yang telah terjadi kepadanya.


Dia sungguh berharap jika pria itu akan mendengar ceritanya dan menghibur di saat dia jatuh ke dalam keputus-asaan. Tapi tentu saja tidak semua hal bisa terwujud sesuai keinginannya, masih banyak halangan dan rintangan yang harus di hadapi sebelum hati mereka bersatu seutuhnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Tik... Tik... Tik...!"

__ADS_1


Di sebuah ruangan gelap, hanya terdengar suara rintikan air yang menetes. Cahaya remang-remang dari lilin hanya mampu memperlihatkan bayangan hitam dari benda-benda yang bergerak di depannya.


Seorang pria dengan wajah babak belur terbaring lemah dengan kaki dan tangan yang terikat oleh tali tambang setebal jari telunjuk orang dewasa.


"Bagaimana rasanya? Menyenangkan?" tanya seorang pria dengan nada suara yang terdengar rendah namun mengancam.


"Lepaskan! Bajingan tengik, berani sekali kalian melakukan ini kepadaku!" pekiknya dengan suara jeritan yang di sertai nafas terputus-putus akibat menahan rasa sakit.


"Bughhh!!!"


Wajah pria itu mencium keras sepatu hitam berkilauan yang di pakai oleh seorang laki-laki bertubuh tegap, tinggi dengan rambut yang tertata rapi.


"Potong lidahnya!" perintah pria itu kepada laki-laki di sampingnya.


"Ja... Jangan...! Tolong maafkan aku! Jangan!" pintanya dengan putus asa sambil memohon di atas lantai yang dingin.


"Aaaaaaagggghhhhhhhhh!"


Suara jeritan terakhir yang membuat bulu kuduk merinding.


"Habisi mereka semua tanpa jejak!" perintah pria itu lagi kepada laki-laki di sebelahnya.


"Baik Bos!" jawab lelaki itu dengan senyuman polos namun terlihat berbahaya.


Keesokan harinya


Rose berada di kantin kampus bersama James, mereka makan bersama sambil membahas tugas baru yang diberikan oleh dosen penguji.


"Nggak, emang kenapa?" tanya Rose penasaran.


"Aneh loh, gedung Hola itu kan pusat para preman. Kok bisa kebakaran padahal nggak ada satu pun orang di dalamnya?!" jawab James dengan wajah bingung.


"Gedung Hola? Bukannya itu gedung tempat aku di sekap dulu?" batin Rose.


"Terus nih, ada yang lebih aneh lagi!" ucap James bersemangat.


"Apa?" tanya Rose semakin penasaran.


"Katanya mereka nemu tiga mayat di sungai yang dekat dengan gedung Hola. Mayatnya hancur banget, lidahnya juga udah nggak ada. Jadi nggak bisa di identifikasi karena mukanya udah nggak jelas lagi. Tapi menurut sumbernya, salah satu korban punya bekas luka di kelopak mata." jelas James dengan wajah serius.


"Deg!"


"Bekas luka di kelopak mata? Bukannya itu sama dengan bekas luka yang ada di wajah pria yang membawaku ke Paul? Apa mungkin memang dia yang menjadi korbannya?" pikir Rose.


"Rose!" panggil James.


"Rose!!!" panggilnya lagi karena tidak ada jawaban.


James memukul pelan pundak Rose, "Rose! Kamu lagi mikirin apa?" tanyanya dengan wajah penasaran.


Rose terperanjat kaget dari lamunannya, dia menatap James kemudian menjawab, "Kamu ada foto korbannya yang punya bekas luka itu?"

__ADS_1


"Nggak ada, siapa juga yang mau nyimpen foto mayat? Ihhh! Seremmm...!" jawab James merinding membayangkan foto mayat yang dilihatnya tadi pagi.


"Tring...!"


Bunyi suara pesan masuk dari Tab Tab membuat Rose mengalihkan pandangannya ke ponsel.


Prince : Maaf, semalam aku banyak kerjaan. Kamu uda makan? Lagi apa?


Rose tersenyum lega membaca pesan itu, awalnya dia mengira jika Prince akan segera menghapus pertemanan mereka sebab dirinya berkata aneh di chat mereka kemarin. Tapi ternyata laki-laki itu masih membalas pesannya meskipun terlambat.


Rose : Aku lagi makan di kantin kampus. Kamu lagi apa? Masih sibuk?


Prince : Nggak lagi, aku cuma lagi mikirin seseorang.


Rose : Mikirin siapa?


Prince : Kamu!


Rose : 😮‍💨 <\= menghela nafas panjang karena lelah membaca gombalan dari Prince.


Prince : Aku nggak gombal, coba aja belah hatiku buat lihat isi di dalamnya. Pasti isinya tuh hanya ada kamu ❤


"Rose!" panggil James.


"Ya?"


"Kamu ngapain senyam senyum sendiri?" tanya pria itu keheranan.


"Nggak, ini aku cuma lagi chat sama temen di tab tab, orangnya sedikit lucu." jawab Rose.


"Oh... Chat nya nanti aja. Kita masuk kelas dulu." ajak James.


"Oke!" sahutnya dengan cepat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Gedung International H.M


Kantor CEO


"Mulai sekarang, kita akan fokus menghancurkan grup Harris Utama!" ucap Michael dengan memperlihatkan wajah dinginnya.


"Siap bos!" jawab Gerry.


Flashback


Sebuah mobil hitam meluncur cepat ke dalam parkiran yang terletak di depan sebuah gedung kepolisian. Michael turun dengan tergesa-gesa, dia berlari masuk ke dalam sana. Matanya melirik ke kanan, kiri, depan dan belakang namun tak menemukan sosok wanita yang dia cari.


"Pak!" panggilnya saat seorang pria yang mengenakan seragam polisi lewat di depan.


"Apakah ada wanita bernama Rose yang datang ke sini?" tanyanya dengan nafas ngos-ngosan.

__ADS_1


^^^BERSAMBUNG...^^^


__ADS_2