Rose Second Life

Rose Second Life
Episode 47


__ADS_3

Tubuh Rose di seret oleh dua pria yang ada di dalam ruangan menuju ke arah kamar mandi. Setibanya di dalam kamar mandi, tubuh Rose di dorong dengan kasar hingga ia terjatuh ke dalam bathtub yang berisi air dingin.


"Buka bajunya!" ucap pria yang bernama Deny.


"Biar aku aja yang buka!" sahut pria yang bernama Roy.


Kedua pria itu menatap tubuh Rose dengan gairah yang meledak-ledak. Bagaimana tidak, tubuh yang molek di hiasi dua gunung kembar yang montok ditambah wajah cantik Rose yang tak kalah dengan boneka barbie.


Semua kelebihan Rose membuat dia menjadi wanita yang paling diinginkan oleh para pria. Apalagi jika pria itu adalah pria hidung belang yang hanya menginginkan tubuh wanita saja.


Rose memenjamkan mata, dia merasa sangat malu dan terhina. Bisa-bisanya tubuh seorang wanita dimandikan oleh dua pria asing yang tidak pernah dia temui. Bahkan saat ini mereka dengan gencar menyentuh setiap lekuk tubuh Rose yang sensitif.


Puas menyentuh tubuh wanita itu, Deni dan Roy mengeluarkan Rose dari bathup. Mereka mengeringkan tubuhnya dan memakaikan lingerie yang transparan ke tubuh Rose. Wajah Rose di dandani seindah mungkin oleh kedua pria itu, kuku yang panjang juga di rapikan oleh mereka.


Puas melihat hasil karya mereka, keduanya mengambil foto lewat ponsel mereka. Rose di suruh berpose semenarik mungkin untuk mendapatkan hasil foto yang sexy dan bergairah. Jika ia menolak, salah satu dari pria itu akan menusuk jarinya dengan jarum peniti tebal yang sudah mereka siapkan.


Rose hanya bisa menurut, dia takut mereka akan menyiksanya lebih parah lagi jika ia menolak. Belum selesai foto-foto itu di ambil, pintu dibuka oleh seseorang dari luar.


"Bos!" panggil mereka bersama dengan bersikap hormat.


"Aku menyuruh kalian untuk membersihkannya, bukan untuk menjadikan dia sebagai model kalian!" ucap pria itu sambil melayangkan sebuah tinju ke wajah Roy.


"Maaf Bos, kami hanya khilaf sesaat karena tubuhnya sangat menggoda." ucap Deny dengan nada ketakutan.


"Bughhh!"


Sebuah tinju kembali dilayangkan, namun kali ini, wajah Deny yang menjadi sasaran tinju itu.


"Makin berani ya kalian sekarang!" ucapnya sambil melotot ke arah Roy dan Deny secara bergantian.


Kedua pria itu segera berlutut memohon ampun dari kemurkaan Bos mereka. Namun pria itu tampak begitu marah hingga kakinya di ayunkan ke wajah Roy dan Deny. Kedua pria itu merintih kesakitan sambil meringkuk di lantai.

__ADS_1


"Keluar!" bentak pria itu dengan wajah yang masih terlihat emosi.


Kini hanya tinggal Rose dan pria itu yang berada di dalam ruangan, pria itu mendekat dan mengangkat tubuh Rose yang masih berada di lantai ke atas ranjang.


"Buka mulutmu!" perintah pria itu ketika ia menatap bibir Rose yang tertutup dengan rapat karena dirinya ketakutan melihat kekerasan yang tadi terjadi di depan matanya.


Rose membuka mulutnya mengikuti keinginan dari pria yang kini berada sangat dekat dengan wajahnya. Tubuhnya gemetar ketakutan, detak jantungnya semakin cepat ketika wajah pria itu semakin dekat dengan wajahnya.


"Brakkk!"


Pintu dibuka dari luar, kali ini Wilson yang membuka pintu itu dengan kasar.


"Lepaskan wanita itu!" teriak Wilson sambil berlari masuk ke dalam kamar.


Pria itu berdiri, dia mencengkram kerah baju Wilson dan hampir saja memukul wajahnya jika bukan karena Luna segera tiba di sana.


"Paul, berhenti!" teriak Luna dengan suara panik begitu melihat pria itu mengarahkan kepalan tangannya ke wajah Wilson.


"Luna!" panggilnya dengan wajah kesal.


"Kau pikir kau ini siapa berani memerintahku?" ucap Paul dengan wajah yang kelihatan sangat marah.


"Maaf, tapi aku tidak akan membiarkanmu melukai Wilson!" ucap Luna dengan nada yang sedikit gemetar.


"Kalau begitu keluar kalian berdua dari sini! Aku tidak pernah mengundang kalian ke tempat ini!" ucap Paul dengan suara yang sedikit meninggi.


Wilson mendekat ke arah Rose, dia menarik lengan Rose untuk turun dari ranjang. "Ikut aku pulang!" ucap Wilson.


Paul menarik lengan Rose yang satunya lagi, dengan tatapan dingin dia berkata kepada Luna, "Ini peringatan terakhir dariku! Kau bawa bajingan ini pergi dari sini atau aku yang akan mengantar kalian berdua keluar dengan caraku?"


Luna ketakutan mendengar ancaman dari Paul, pria itu memang seorang preman yang tidak pernah menarik kata-katanya. Dengan langkah lebar dia pergi ke arah Wilson dan menarik lengan pria itu.

__ADS_1


"Ayo kita pergi dari sini!" ajak Luna.


"Aku tidak akan pergi tanpa membawa Rose bersamaku!" jawab Wilson kekeh dengan keinginannya.


"Kau sudah gila ya? Apa kau tau siapa dia?" bisik Luna di telinga Wilson yang masih bisa terdengar oleh Rose dan Paul.


"Belum selesai kalian berdiskusi?" tanya Paul dengan nada datar yang terasa mengecam.


"Ayo kita pergi sekarang!" ajak Luna lagi sambil menarik tangan Wilson dengan lebih kuat.


Wilson menghempas tangan Luna, dia menampar wanita itu hingga tubuh Luna terjatuh ke atas ranjang.


"Wilson!" jeritan Luna yang memanggil nama pria itu terdengar hingga keluar kamar.


Roy dan Deny masuk ke kamar untuk melihat apa yang telah terjadi. Begitu mereka masuk ke sana, mereka melihat Wilson yang sedang menodongkan pistol ke arah Paul.


"Bos!" ucap kedua pria itu bersamaan dengan wajah tercengang kaget ketika melihat pistol yang ada di tangan Wilson.


"Biarkan aku keluar, aku tidak akan membunuh kalian!" ucap Wilson sambil menodongkan pistolnya.


"Brengsek!" maki Paul yang geram karena tidak bisa melakukan apa-apa di depan pistol yang di todongkan ke arahnya.


Wilson menarik lengan Rose, dia membawa wanita itu keluar dari sana tanpa peduli dengan keberadaan Luna yang masih diam membeku di atas ranjang. Luna begitu terkejut dengan tamparan dari Wilson, sebelumnya pria itu belum pernah memukul dirinya meskipun ia melakukan kesalahan besar.


Setelah kepergian Wilson dan Rose, Paul menatap Luna. Dia berkata kepada wanita itu, "Karena hadiah darimu dibawa pergi oleh suamimu, maka kau yang akan menggantikan dia sebagai hadiah."


"Ti... Tidak! Jangan!" ucap Luna dengan mata terbelalak. Dia begitu terkejut dan panik saat mendengar dirinya yang akan menjadi pengganti Rose.


Luna tau jika Paul memiliki sebuah kebiasaan aneh, dia suka menyiksa pasangannya saat melakukan hubungan suami istri. Lelaki itu merasa lebih bergairah ketika menyakiti mereka, apalagi mendengar suara rintihan dari wanita-wanita yang kesakitan itu membuat dirinya memiliki rasa kepuasan tersendiri.


"Kalian berdua, Keluar!" perintah Paul kepada Roy dan Deny.

__ADS_1


Kedua orang itu keluar dengan patuh tanpa mengatakan sepatah kata pun di depan Paul yang tengah dilanda emosi. Sebelum menutup pintu kamar, Roy menatap Luna yang wajahnya kini memutih pucat karena ketakutan. Bukannya kasihan, pria itu malah tersenyum diam-diam menertawakan kemalangan Luna.


^^^BERSAMBUNG...^^^


__ADS_2