
Nyonya Erna menunggu Mama Daisy di dalam mobil, dia sudah berada di depan rumah Rose sejak pukul 6 pagi untuk menemui Mama Daisy. Hingga pukul 7 pagi, Mama Daisy baru saja akan keluar untuk jogging pagi. Nyonya Erna turun dari mobil setelah melihat Mama Daisy, dia berjalan mendekat lalu memperkenalkan diri.
"Selamat Pagi! Saya Erna, ibu kandung Rose. Bisakah kita bicara berdua?" ucapnya tanpa basa basi.
Mama Daisy sedikit terkejut, tapi karena dia tidak ingin anak-anaknya mendengar percakapan ini. Mama Daisy mengikuti permintaan Nyonya Erna untuk berbicara berdua.
"Ayo bicara di tempat lain!" ajak Mama Daisy.
Mereka lalu masuk ke dalam mobil Nyonya Erna, mobil pun melaju ke sebuah cafe terdekat. Nyonya Erna dan Mama Daisy kini duduk saling berhadapan di meja yang berada di sudut ruangan cafe.
"Maaf, tadi anda bilang, anda adalah ibu kandung Rose. Benar begitu?" tanya Mama Daisy dengan perasaan hati yang buruk.
"Benar." jawab Nyonya Erna, dia lalu mengeluarkan hasil test DNA dari dalam tas. "Ini bukti dari ucapan saya." hasil test itu di perlihatkan kepada Mama Daisy.
Setelah membaca hasil test itu, Mama Daisy lalu bertanya kepada Nyonya Erna lagi. "Kenapa anda mengatakan hal ini sekarang? Apakah anda ingin mengambil Rose dari kami?"
Nyonya Erna sedikit terkejut mendengar pertanyaan dari Mama Daisy, dia tentu saja ingin mengakui Rose sebagai anaknya. Tapi jika di tanya seperti itu, Nyonya Erna merasa dirinya menjadi seorang penjahat yang ingin merebut Rose dari orang tuanya. Orang tua yang sudah membesarkan Rose selama puluhan tahun, meski mereka tidak mempunyai hubungan darah.
Memikirkannya saja sudah membuat perasaan Nyonya Erna menjadi kacau. Dia menatap Mama Daisy, dengan mengumpulkan semua keberanian, Nyonya Erna bertanya kepada Mama Daisy.
"Kenapa Rose bisa berada di keluarga anda? Apakah anda yang sudah menculik Rose saat dia kecil?"
Mama Daisy mengerutkan dahi begitu mendengar pertanyaan dari Nyonya Erna. Tentu tuduhan itu membuat dirinya merasa marah dan murka. Mama Daisy berdiri lalu berkata kepada Nyonya Erna.
"Saya tidak mengerti apa yang sedang anda katakan! Di saat Rose sedang terluntang lantung di jalanan, anda sebagai ibunya di mana? Apa yang sedang anda lakukan di saat Rose kelaparan dengan pakaian yang basah dan kedinginan selama berhari-hari di tengah jalan?"
Mendengar bantahan dari Mama Daisy, hati Nyonya Erna begitu terpukul. Dia tentu saja tidak mengetahui keadaan Rose saat dia menghilang, karena dia dan suaminya sedang sibuk dengan pekerjaan mereka.
__ADS_1
Melihat Nyonya Erna yang berwajah sedih dan hampir menangis, emosi Mama Daisy mereda. Dia kembali duduk lalu menceritakan kejadian yang menimpa Rose di masa kecilnya.
Flashback
Langit mulai gelap, bintang dan bulan bahkan tak terlihat. Kilatan cahaya menyambar di ikuti dengan suara gemuruh. Hujan yang sangat lebat pun turun, membuat basah semua pakaian yang dikenakan oleh seorang anak kecil yang duduk di tepi jalan.
Anak perempuan itu kelihatan kedinginan, dia mengais-ngais trmpat sampah untuk mencari sesuatu yang bisa dimasukkan ke dalam mulut.
Mobil Mama Daisy kebetulan lewat di jalanan yang sudah mulai sepi karena hujan deras. Dia melihat anak yang sedang meringkuk di tepi jalan karena mobilnya memang melaju perlahan.
"Pak Jo, tolong berhenti sebentar!" pintanya kepada supir yang sedang mengendarai mobil.
Mama Daisy mengambil sebuah payung dari belakang kursi. Dia lalu turun menghampiri anak kecil itu. Anak itu terlihat begitu memprihatinkan. Kulitnya penuh dengan luka, lebam, kebiruan dan luka akibat gesekan dengan lantai aspal yang kasar.
"Nak, di mana orang tua mu? Kenapa kamu di sini sendirian?" tanya Mama Daisy yang tentu saja di abaikan oleh anak kecil yang belum bisa berbicara itu.
"Ma, anak ini mungkin saja masih memiliki orang tua." ucap Papa Hanz yang tiba-tiba memikirkan kemungkinan itu.
"Pa, lihat luka-luka ini! Kalau benar dia masih punya orang tua, mereka pasti bukan orang tua yang baik. Masa anak kecil di biarin sendirian di jalan dan luka-luka ini sepertinya sudah luka lama. Bukan luka yang di dapat sehari dua hari!" ucap Mama Daisy dengan penuh emosi.
"Tapi... Apa gak sebaiknya kita laporkan ke polisi terlebih dulu?" saran Papa Hanz.
"Gak, pokoknya Mama mau mengadopsi anak ini. Titik!" jawab Mama Daisy yang kekeh dengan keputusannya.
"Tapi Ma, kalau orang tuanya cariin gimana? Bisa-bisa kita di tuduh melakukan penculikan." ucap Papa Hanz lagi.
"Pa, Mama gak rela kembaliin anak ini ke orang tua yang udah menelantarkan dirinya. Papa lihat dong kondisi anak ini gimana! Pantas gak mereka itu disebut sebagai orang tua" sahut Mama Daisy dengan suara yang meninggi.
__ADS_1
Papa Hanz berpikir sejenak, dia juga setuju dengan pemikiran Mama Daisy. Kondisi nak itu terlihat begitu mengenaskan, tapi dia bahkan tidak menangis. "Mungkin dia sudah sering mendapat kekerasan seperti ini!" pikir Papa Hanz.
"Besok, kita bawa anak ini untuk mengurus surat adopsi." ucap Papa Hanz yang langsung di setujui oleh Mama Daisy.
Surat-surat dari anak kecil yang mereka temukan itu lalu dipalsukan oleh seorang calo yang memang sudah ahli dalam menangani maslaah adopsi anak.
Mama Daisy lalu memberi nama Rose untuk anak tersebut, mereka sangat menyayangi Rose. Perlakuan mereka terhadap Rose tidak berubah, meskipun Mama Daisy telah melahirkan anak kandungnya sendiri, yang diberi nama Lily.
Flashback End
"Kami hanya menganggap, orang tua yang membuat anak kecil terlantar seperti itu, tidak layak!" ucap Mama Daisy.
Wajah Nyonya Erna sudah dipenuhi dengan air mata. Hatinya begitu sakit mengetahui kondisi malang Rose di waktu kecil.
"Terima kasih sudah membesarkan Rose dengan baik." ucap Nyonya Erna sambil terisak.
Mama Daisy lalu pergi meninggalkan Nyonya Erna yang masih menangis tanpa bersuara.
"Apa yang harus aku lakukan? Haruskah hal ini ku beritahukan kepada Rose?" tanya Mama Daisy dalam hati.
Mama Daisy berjalan pulang ke rumah, melihat wajah muram wanita yang dia sayangi, Rose segera menghampiri Mama Daisy.
"Ma, Mama kenapa? Kok muram?"
Lily yang berada di belakang, ikut mendekat dan bertanya kepada Mama Daisy. "Mama sakit? Lapar? Kenapa kok sedih mukanya?"
Mama Daisy hanya terdiam, dia menatap wajah Rose dengan berbagai pertanyaan dalam pikirannya.
__ADS_1
^^^BERSAMBUNG...^^^