
Rumah Keluarga Hoffmann
Michael baru saja tiba di rumah, waktu pada saat itu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Melihat anak laki-lakinya berjalan masuk, Mama Hoffmann memanggil Michael untuk bergabung di meja makan. "Dari mana Mike? Banyak kerjaan ya di kantor?" tanya wanita itu penasaran karena Michael terlambat pulang.
"Nggak kok, Ma! Tadi aku pergi ke rumah Rose." jawab Michael yang langsung duduk di kursi.
"Cuci tangan dulu dong!" tegur Mama Hoffmann seraya menatap wajah putranya yang terlihat lelah.
Michael berdiri lagi, dia berjalan menuju ke wastafel untuk mencuci tangan. Dia kembali duduk setelah mengelap tangannya hingga kering di sebuah handuk yang tergantung di dinding.
"Kamu kenapa? Kok muka nya jelek begitu?" tanya Papa Hoffmann penasaran.
"Ma, Pa, ada sesuatu yang ingin aku beritahukan kepada kalian." ucap Michael dengan hati yang bimbang.
"Ada apa?" tanya Mama Hoffmann penasaran.
__ADS_1
"Rose adalah anak yang di adopsi, sekarang dia sudah menemukan keluarganya." ucap Michael.
"Bagus dong kalau sudah ketemu keluarganya, jadi apa masalahnya?" tanya Mama Hoffmann tak sabaran.
"Keluarga asli Rose, adalah Teddy dan Erna." ucap Michael dengan wajah serius, dia menatap wajah Mama dan Papa Hoffmann secara bergantian untuk melihat dan menerka pikiran mereka.
"Mike, mulai sekarang tolong jangan pernah menyebut nama Rose lagi di rumah ini. Dan kamu, kamu tidak di izinkan untuk menemuinya lagi! Mengerti?" ucap Papa Hoffmann dengan wajah yang memerah.
"Tapi Pa, semua kejadian itu tidak ada hubungannya dengan Rose." bantah Michael yang tidak ingin berpisah dengan Rose.
"Mike, kamu harus jauhi anak itu! Tidak ada negosiasi untuk masalah ini." tambah Mama Hoffmann yang juga ikut serta membenci semua keluarga Yun.
"Kenapa nggak bisa? Hanya demi satu wanita aja kamu mau membantah Papa dan Mama? Mau jadi anak durhaka ya kamu?" bentak Mama Hoffmann yang kini penuh dengan emosi.
"Maaf Ma, Pa! Aku sudah menikah dengan Rose. Jadi mulai sekarang, Rose akan menjadi tanggung jawabku. Papa dan Mama nggak mau kan aku jadi laki-laki bajingan yang menelantarkan istrinya?"
__ADS_1
Mendengar kalimat dari Michael, jantung Papa dan Mama Hoffmann rasanya akan melompat keluar. Tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan jika Michael sudah menikahi Rose.
"Baiklah, kalau memang kamu sudah menikah dengan wanita itu! Kamu harus membawanya untuk tinggal bersama kami!" sahut Mama Hoffmann dengan memendam amarah dan kebenciannya.
"Baik, Ma! Terima kasih sudah mau menerima Rose di rumah ini." ucap Michael tersenyum, dia mengira hati Mama nya sudah menerima Rose sebagai menantu. Tapi nyatanya, Mama Hoffmann hqnya ingin melampiaskan kekesalannya kepada Rose yang merupakan anak dari Teddy.
"Kapan kamu akan membawa dia ke rumah?" tanya Papa Hoffmann yang juga tidak sabar ingin melampiaskan kemarahan di hatinya.
"Secepatnya, kami masih harus mempersiapkan pesta pernikahan." jawab Michael yang merasa senang tanpa mengetahui isi hati kedua orang tuanya.
Tiga bulan kemudian, Rose dan Michael mengadakan pesta pernikahan. Mereka menggelar pesta di hotel yang paling mewah di kita X. Rose merasa bahagia karena pernikahan mereka sudah di setujui oleh semua pihak keluarga. Terutama dari Papa dan Mama Hoffmann yang dia kira akan menentang pernikahannya dengan Michael.
"Anak Mama sudah mau merid aja. Nggak terasa ya!" seru Mama Daisy.
Ke empat orang tua Rose sedang sibuk berfoto ria bersama Rose di dalam ruang tunggu. Lily menjadi fotographer ke 4 orang tersebut. Setelah puas berfoto, mereka saling berpelukan sambil memberi ucapan selamat kepada Rose.
__ADS_1
"Waktunya sudah tiba!" ucap Lily yang lalu membantu Rose untuk mengangkat ekor gaunnya yang panjang.
^^^BERSAMBUNG...^^^