
Rose tersenyum puas melihat wajah yang menyiratkan perasaan ngeri dan ketakutan di mata kedua pria itu. "Hahaha...!" Wanita itu tertawa lepas hingga memperlihatkan deretan gigi yang putih dan rapi ketika menatap kedua tangan mereka yang sedang berusaha melindungi barang pusaka masing-masing.
Kedua laki-laki itu segera melepaskan tangannya ketika mereka menyadari jika tatapan Rose mengarah ke bawah, menatap letak pusaka kedua pria itu secara bergantian antara milik Michael dan asistennya.
"Ehemmmm! Kamu nggak apa apa Rose?" tanya Michael untuk mengalihkan rasa malu dan canggung yang baru pertama kali di rasakan olehnya.
"Aku baik-baik aja kok, yang lagi nggak baik tuh dua makhluk ini!" jawab Rose sambil menunjuk Wilson dan Luna yang masih meringkuk kesakitan.
"Ger, telepon polisi!" perintah Michael.
"Baik Tuan Muda!" jawab Gerry yang langsung mengambil ponsel dan menghubungi pihak kepolisian.
"Kau! Apa yang akan kau lakukan? Memangnya kau mau ngapain panggil-panggil polisi?" ucap Wilson dengan wajah marah.
__ADS_1
"Menurutmu?" tanya Rose dengan wajah yang dingin.
"Panggil saja, kau yang akan mendekam di penjara!" sahut Luna.
"Ya... Ya... Ya...! Ayo kita coba saja, siapa yang akan mendekam di penjara!" jawab Rose sambil tersenyum, namun bukan senyuman manis tapi senyum sinis.
Rose mengeluarkan ponsel dari dalam tas, dia memutar rekaman terbaru yang ada di ponselnya. Begitu suara-suara rekaman terdengar, seketika itu juga wajah Luna dan Wilson memucat. Mereka ketakutan karena aksi jahat keduanya meninggalkan bukti yang dapat membuat mereka merasakan makanan dingin di penjara.
"Wow! Nona Rose pinter!" puji Gerry setelah mendengar rekaman itu.
"Dia bukan lagi wanita lemah yang harus aku lindungi setiap saat! Entah ini pertanda baik atau buruk untuk ku. Tapi aku tau, ini adalah yang terbaik bagi Rose." ucap Michael dalam pikirannya.
Wilson dan Luna berdiri perlahan, mereka mencoba untuk kabur. Di mulai dari Luna, dia mendorong Wilson hingga terjatuh ke arah Rose, namun Michael segera menarik tubuh Rose ke dalam pelukannya. Alhasil, pria itu terjatuh dan mencium lantai keramik yang berlapis karpet merah.
__ADS_1
Gerry yang melihat hal itu tentu saja tidak tinggal diam. Gerry dengan cepat menghadang Luna yang berlari ke arah pintu, dia menarik lengan wanita itu dan menyeretnya kembali ke sudut kamar.
Michael menatap tali tirai yang menjuntai panjang ke lantai, dia melepas ikatan tali itu. Wilson dan Luna lalu di ikat dengan menggunakan tali tersebut. Keduanya di ikat berhadap-hadapan agar tidak ada kesempatan untuk melirik ke arah pintu, mencegah mereka untuk kabur lagi.
Polisi tiba dalam waktu 10 menit, kedua orang itu di angkut ke kantor polisi dengan tangan yang terborgol. Rose mengikuti mobil Michael ke kantor polisi untuk memberi laporan, sedangkan Gerry ditugaskan untuk membawa mobil Rose kembali ke rumah.
Setibanya di kantor polisi, Rose menceritakan awal mula kejadian. Mulai dari pesan ancaman yang masuk ke ponsel lalu dia dibius oleh seorang pria tak dikenal. Polisi lalu melacak keberadaan pria tersebut, hanya dalam waktu 1 jam saja pria itu sudah tertangkap.
Rose memberikan semua bukti yang sudah dia simpan, mulai dari pesan hingga rekaman.
"Pak, aku gak terima di tangkap! Atas dasar apa? Dia yang sudah memukuli kami, seharusnya dia yang di tangkap!" ucap Luna dengan jeritan melengking yang terdengar hingga ke seluruh ruangan.
"Pak, saya juga gak terima! Bapak harus lihat ini!" ucap Wilson sambil menunjuk ke bawah, letak pusakanya. Dia lalu melanjutkan kata-katanya, "Saya di tendang dan di injak berkali-kali oleh wanita gila itu! Seharusnya dia yang di tangkap!"
__ADS_1
Suara jeritan dan teriakan Wilson dan Luna memenuhi se-isi ruangan di kantor polisi. Michael menahan tawa melihat kelakuan mereka yang saat ini terlihat seperti seorang pengecut. Rose bahkan sempat berpikir, "Kenapa dulu aku bisa takut kepada kedua pengecut ini? Aku benar-benar bodoh! Untungnya aku diberi kesempatan kedua. Kali ini, akan kubuat kalian ketakutan begitu melihat wajah ku! Tunggu saja semua pembalasan dari ku!"
^^^BERSAMBUNG...^^^