
Rose membuka peta menuju ke Hotel Victory, diperlukan waktu 40 menit untuk tiba di sana. Rose segera melajukan si merah, dia mengikuti petunjuk arah yang tertera di layar ponsel.
"Drtttt! Drtttt!"
Ponsel Rose kembali bergetar, bunyi suara telepon masuk kembali terdengar. "Michael" masih nama itu yang muncul di layar ponsel. Rose menekan tombol tolak di layar, dia tidak ingin terganggu karena harus fokus menyetir dalam kecepatan yang melebihi batas maksimal di jalan.
"Tut! Tut! Tut!" Michael masih mencoba menelepon nomor ponsel Rose, lagi-lagi di tolak oleh wanita itu. Pria itu melempar ponselnya ke belakang mobil, "Akhhh...! Sial!" ucapnya dengan wajah kesal.
"Ger, lebih cepat!" perintah Michael kepada asistennya yang sedang mengemudi.
Rose hampir tiba di hotel Victory, sebelum masuk ke parkiran, dia mencoba menelepon James. Nomor itu ternyata masih tidak aktif, dengan terpaksa Rose harus mengikuti keinginan dari orang yang mengirim pesan tersebut.
Rose tiba di parkiran, dia memberhentikan mobil di dekat pintu masuk lobby hotel. Rose memegang erat kemudi mobil sambil berkata dalam hati, "Semua akan baik-baik saja, apapun yang terjadi di dalam, aku akan melakukan yang terbaik. Aku tidak akan lagi pasrah menerima segala hal buruk seperti di masa lalu. Tidak akan!"
Rose mengambil tas dan ponselnya, ia lalu turun dari mobil. Baru saja kakinya akan melangkah ke dalam lobby, Rose mendapat ingatan buruk tentang masa lalu yang pernah terjadi di dalam kamar sebuah hotel.
Rose mengingat jika dirinya pernah di bawa secara paksa ke sebuah kamar hotel, saat itu dia berutang sebanyak 500 Juta Rupiah kepada seorang teman kampus. Tina, nama teman yang telah memberikan pinjaman kepadanya saat ayah Rose di rawat di rumah sakit.
Saat itu, Rose sangat bersyukur karena memiliki teman sebaik Tina yang meminjamkan uang sebesar itu kepadanya di saat dia sedang membutuhkan. Namun siapa sangka, Tina adalah salah satu dari kaki tangan Luna. Mereka dengan sengaja membuat jebakan agar Rose berhutang dalam jumlah banyak sehingga wanita itu tidak sanggup membayarnya.
Setelah sebulan berlalu, Tina meminta pelunasan utang yang sebesar itu dalam jangka waktu seminggu. Tentu saja Rose tidak memiliki uang sebanyak itu, Tina dan Luna lalu menyeretnya ke sebuah kamar hotel. Mereka berniat menjual Rose kepada seorang pria tua, namun saat itu Rose berhasil kabur karena pria tua itu sedang mabuk berat.
"Rose, kamu harus kuat! Tidak boleh menjadi penakut seperti dulu, aku bukanlah Rose penakut dan pendiam lagi! Aku akan membalas semua kejahatan mereka!" batin Rose.
Rose masuk ke dalam hotel, dia lalu menunggu di depan pintu lift. Setelah pintu terbuka, Rose naik ke dalam lift dan menuju ke lantai 6.
"Tinggg!"
Pintu lift terbuka, Rose melangkahkan kakinya yang mulai terasa berat. Sebab ia merasa takut dan gemetaran setiap kali mengingat kejadian yang dulu pernah dia alami.
__ADS_1
"Ayo Rose, kamu pasti bisa melawan semua rasa takut ini!" ucapnya kepada diri sendiri.
Rose berjalan menyusuri lorong, mencari keberadaan kamar nomor 666. Langkah kakinya berhenti ketika dia menemukan kamar yang di tuju. Perlahan, Rose berjalan ke depan pintu kamar. Dengan jantung yang berdebar kencang, dia menekan bel pintu kamar yang berada di samping pintu.
"Ceklek!"
Pintu kamar terbuka, Rose mengintip di celah-celah pintu yang hanya berjarak 10 cm itu. Tidak terlihat adanya tanda-tanda orang di dalam, Rose berpikir jika orang yang membuka pintu pastinya masih berada di belakang pintu tersebut.
"Bammm!"
Rose sengaja mendorong pintu hingga mentok ke dinding, namun ternyata tidak ada siapapun di sana.
"Drtttt! Drtttt!"
Ponsel Rose bergetar, sebuah pesan muncul di layar depan ponselnya. Rose membuka lalu membaca isi pesan.
"Masuk!"
Rose :
Di mana James?
^^^Nomor tak di kenal :^^^
^^^Masuk, aku akan melepaskannya nanti.^^^
Rose :
Tidak! Aku mau melihat James lebih dulu sebelum masuk.
__ADS_1
^^^Nomor tak di kenal :^^^
^^^Aku akan menunggu 1 menit, jika kau tidak masuk, aku akan langsung membunuhnya.^^^
Rose :
Jangan sakiti dia, aku akan masuk!
Dengan berat hati, akhirnya Rose berjalan masuk ke dalam. Dia melihat sekeliling ruang kamar itu. Sebuah ranjang berlapis kain serba putih terletak di tengah-tengah ruangan. Meja rias dan lemari mini berada di dua sudut ruangan. Kamar mandi dengan ukuran yang seluas 3x3 meter dengan design yang minimalis terletak di bagian ujung. Serta sebuah jendela kaca yang tinggi besar berada tepat di depan mata Rose.
"Tidak ada satu pun manusia yang terlihat di kamar ini, siapa sebenarnya orang yang memintaku datang ke sini? Mau apa dia?" tanya Rose dalam pikirannya.
Baru saja lengah beberapa detik, Rose tidak menyadari kehadiran seorang pria yang diam-diam masuk ke dalam kamar. Pria itu membekap mulut Rose dari belakang, wanita itu memberontak namun ternyata pria itu memakai obat bius dosis tinggi di telapak tangannya sebelum menutup hidung Rose. Tubuhnya terjatuh ke dalam pelukan pria itu, Rose di seret ke atas ranjang, tubuhnya di baringkan telentang dalam keadaan tidak sadar.
Seorang wanita ikut masuk ke dalam kamar, dengan senyum puas di bibirnya dia berkata, "Kerja bagus! Ini imbalan untukmu, sekarang kau boleh mengambil bonus dari pekerjaan ini. Nikmati saja tubuh wanita ini sepuasmu, tapi asal kau tau, dia ini wanita yang sudah penuh dengan noda, bahkan nodanya bukan hanya dari satu lelaki saja. Jadi, jika kau terkena penyakit nantinya, jangan menyalahkanku!"
Luna menyerahkan sebuah amplop coklat kepada pria itu, dia lantas membuka amplop dan melihat isinya. Uang lembaran 100 Ribu Rupiah yang setebal buku kamus berada di dalam amplop tersebut. Pria itu lalu tertawa sinis sambil berkata, "Kalau dengan wajah dan tubuh seperti ini dia masih seorang perawan, bukankah itu lebih aneh?"
"Hey Luna! Apa yang kau lakukan?" hardik Wilson yang baru saja tiba di sana.
"Memangnya apa lagi? Tentu saja memberikan kepuasan kepada wanita murahan ini!" jawab Luna dengan wajah kesal.
Luna tau jika Wilson sangat menginginkan wanita yang sedang terkulai lemas itu. Dia tau jika lelaki miliknya itu sangat terpesona dengan kecantikan wajah dan tubuh Rose yang sangat menggoda iman para lelaki. Itu sebabnya Luna sangat cemburu terhadap Rose, dia selalu mencari cara untuk membuat Wilson membenci Rose dengan segala cara baik di masa lalu maupun di masa sekarang.
Wilson mencengkram kerah baju pria yang membekap Rose tadi, dia menarik dan menyeret pria itu hingga ke depan pintu kamar.
"Brukkk!"
Tubuh pria itu di hempaskan ke lantai di luar pintu kamar, "Jangan berani menyentuh wanita milikku! Kau akan mati jika kau berani melakukan hal ini sekali lagi!" ucapnya dengan penuh emosi.
__ADS_1
^^^BERSAMBUNG...^^^